Kita tahu ada istilah yang menyebutkan bahwa tidak dianjurkan untuk memberikan ikan kepada seseorang, lebih baik mengajarkan orang tersebut cara memancing ikan hingga kelak dia bisa mencari ikan sendiri. Namun kemudian muncul pertanyaan, “bagaimana apabila orang tersebut terdampar dipadang pasir nan luas dimana tidak ada ikan untuk dipancing?”, sementara ilmu yang dia miliki adalah ilmu memancing ikan. Jawabannya tentu saja dia harus memiliki pengetahuan khusus agar dapat tetap bertahan hidup dipadang pasir tersebut. Pengetahuan khusus inilah yang disebut sebagai metode belajar untuk belajar (learning how to learn).

Saya sempat membaca metode salah satu sekolahan berbasis kurikulum british di Qatar—saya lupa apakah itu Parkhouse ataupun Doha British School—namun disebutkan bahwa sekolahan tersebut mengajarkan bagaimana caranya belajar untuk belajar.

Salah satu anugerah yang saya dapatkan dari komunitas hacker ketika awal-awal belajar IT dahulu dan bermanfaat hingga detik ini adalah kemampuan untuk mempelajari suatu teknologi secara mandiri. Jaman itu ilmu pengetahuan tidak mudah diakses begitu saja melalui Googling sehingga kita harus memiliki kemampuan untuk mempelajari sesuatu secara mandiri apabila tetap ingin bertahan. Teknologi IT selalu berkembang cepat sehingga apabila kita memiliki kemampuan untuk belajar maka dapat menguasai ilmu baru dengan baik tanpa perlu dituntun oleh orang lain.

Hal yang sama berlaku pada ragam ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia. Ketika seorang anak menguasai kemampuan belajar untuk belajar maka berbagai jenis tantangan yang akan dihadapi oleh mereka  kelak dapat dihadapi dengan baik. Apalagi apabila seseorang memahami karakteristik psikologi dirinya secara mendalam—memahami bahwa setiap orang unik sehingga cara belajar setiap orang akan berbeda—maka dia akan menemukan cara belajar terbaik bagi dirinya sendiri. Walaupun tujuan setiap orang sama yaitu menguasai suatu ilmu pengetahuan baru, namun metode dan caranya akan berbeda-beda. Kemampuan inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia.

Learning how to learn sempat dibahas oleh seorang profesor dalam talkshow TEDex, seperti biasa, saya sarankan untuk menonton presentasi yang hanya berdurasi 17 menit tersebut agar mendapatkan gambaran bagaimana metode belajar untuk belajar dapat digunakan oleh setiap orang.

Topik yang sama juga sempat dibahas pada artikel  The Lesson You Never Got Taught in School: How to Learn!.

Learning how to Learn pada Anak

Melalui anak-anak saya melihat ragam hal menarik mengenai cara belajar sehingga membuat saya mengupas lebih dalam mengenai proses belajar pada manusia. Misalnya, Jasmine sejak kelas 3 SD membenci pelajaran Matematika. Sebelumnya dia suka Matematika, namun sekarang dia mengatakan lebih suka Science dan Social Studies. Belakangan saya memahami permasalahannya, Matematika kelas 3 SD disekolahnya sudah masuk ke masalah analytical thinking, menggabungkan antara angka dan kemampuan bahasa agar dapat menganalisis suatu masalah serta menemukan solusinya. Jasmine paham angka dan tahu apa yang harus dilakukan dengan angka, namun dia bermasalah dengan analisis disebabkan oleh kurangnya kemampuan dia dalam berbahasa. Sedangkan adiknya yang masih kelas 1 SD memiliki kemampuan analisis lebih baik sehingga apabila sedang mengerjakan PR matematika Jasmine dirumah justru adiknya lebih dulu paham. Adiknya mampu menangkap maksud suatu pertanyaan karena kemampuan berbahasanya lebih baik, dan ketika dia memahami angka dari Matematika maka dapat menghasilkan suatu analisa.

Namun ketika berbicara mengenai Science ataupun yang sering membuat saya kagum adalah dalam hal Arts (seni), Jasmine secara natural jauh lebih baik daripada adiknya. Dia dapat mendesain dan membuat suatu kerajinan tangan dengan baik tanpa mengalami kesulitan yang berarti, semuanya seperti mengalir begitu saja. Sedangkan adiknya yang biasa ikut-ikutan kakaknya selalu kesulitan ketika ingin melakukan hal yang sama.

Perbedaan inilah yang membuat saya mempelajari lebih dalam bagaimana caranya belajar untuk belajar agar dapat membantu mereka setidaknya mempelajari hal-hal yang bagi mereka secara natural sulit—dikarenakan kurang cocok dengan personality (kepribadian) mereka—namun setidaknya mereka memiliki kemampuan dalam hal tersebut walaupun sedikit dan dapat digunakan kelak.

Coursera memiliki program Learning how to learn yang dapat diakses pada link ini. Apabila ada yang tertarik hal serupa bisa coba daftar dan belajar dengan gratis (bayar 49 USD apabila ingin mendapatkan sertifikasinya). Materinya dibuat oleh University of California, San Diego.

“By the time you finish this course, you’ll know many valuable learning techniques used by experts in art, music, literature, math, science, sports, and other disciplines. If you’ve ever wanted to become better at anything, this course will help serve as your guide.”

Kira-kira seperti itu gambaran yang mereka sampaikan setelah kita menyelesaikan program kursus tersebut. Program tersebut bukan saja berguna bagi diri sendiri tapi juga bisa menjadi pengetahuan dasar untuk diajarkan kepada anak-anak kita. Setelah kita memahami barulah kita bisa mengajarkan pada mereka.

Saya sendiri sampai saat ini masih berusaha mengajarkan kemampuan learning how to learn ini kepada anak-anak saya. Tadi malam saya sempat menyinggung hal tersebut kepada mereka. Iseng-iseng saya tanya, “learning” itu apa sih?

Adik Rasya langsung menjawab, “learning is homework” (maksudnya dia belajar kalau ada PR dirumah), tentu saja Saya, Bundanya, serta Jasmine seketika langsung tertawa… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s