Dulu saya lebih memilih Facebook daripada Twitter karena Twitter terlalu ramai, dan Facebook saya isinya orang-orang dekat yang dikenal, atau ingin saya kenal. Dulu apabila buka newsfeed (beranda) banyak hasil share dari keluarga dan teman yang menarik untuk disimak. Berteman dengan orang-orang ahli teknologi pun terasa sangat menyenangkan karena mereka sering share informasi up-to-date seputar IT, dan yang paling saya sukai karena banyak orang-orang kalangan IT dan Telekomunikasi yang tidak suka ngompol, alias ngomong politik.

Belakangan – lebih tepatnya saat kampanye pilpres 2014 – hampir semua koneksi di Facebook mulai berubah, isinya share informasi politik serta opini mengenai politik, komen politik, dan menjadi analis politik. Hal ini mulai dilakukan juga oleh mereka-mereka yang awalnya saya tahu tidak suka ngompol sehingga dengan terpaksa saya unfollow satu persatu. Karena mulai bosan saya jadi jarang buka Facebook. Kebetulan saya memiliki aplikasi Flipboard di iPad yang masih bisa buka newsfeed Facebook. Saya sempat bingung kok banyak sekali hasil share teman-teman Facebook yang muncul di aplikasi Flipboard tapi tidak muncul apabila dibuka dengan aplikasi Facebook iPhone ataupun dibuka di website Facebook melalui laptop. Saya tes kembali buka bersamaan dan hasilnya berbeda, Facebook memfilter update / share teman-teman apabila dibuka dengan iPhone / laptop, namun dengan Flipboard tidak ada filter. Belakangan saya tahu bahwa Facebook menggunakan algoritma baru berhubungan dengan artificial intelligence (kecerdasan buatan). Sistem Facebook bisa akan memfilter update berita dari teman-teman yang kira-kira kita sukai dan hanya menampilkan update berita tersebut.

Sekilas hal tersebut terdengar bagus, tapi sekaligus menunjukan bahwa Facebook dapat ‘mengontrol’ hal-hal apa saja yang ingin disampaikan kepada penggunanya. Selamat datang di era kecerdasan buatan dimana manusia mulai dikontrol oleh mesin. Jika tidak berhati-hati malah justru akan berdampak negatif pada manusia. Inilah salah satu sisi gelap dunia kecerdasan buatan yang sempat disinggung oleh berbagai pihak.

Jika twitter berisi tweet orang-orang yang tidak kita kenal, media sosial seperti Facebook secara psikologis dapat lebih mempengaruhi kita sebagai manusia karena biasanya berisi opini ataupun update dari teman-teman ataupun keluarga terdekat kita.

Ambil contoh mudah saja ketika teman yang kita kenal mengatakan bahwa makan di restoran A sangat enak maka kita akan terpancing untuk ikut datang kesana dibandingkan apabila orang yang mengatakan hal tersebut orang yang tidak kita kenal, betul tidak? Atau ketika teman kita menyebutkan bahwa belanja di salah satu pusat perbelanjaan harganya lebih murah dibandingkan tempat lain maka kita akan cenderung ingin coba juga.

Artificial Intelligence di Facebook memainkan efek psikologi manusia sempat disinggung oleh George Hotz yang sempat magang disana, George Hotz sendiri dikenal sebagai seorang jenius yang berkali-kali berhasil menjebol sistem pertahanan iPhone sehingga iPhone dapat di crack dan install aplikasi berbayar secara gratisan (aplikasi bajakan).

“It scares me what Facebook is doing with AI,” Hotz says. “They’re using machine-learning techniques to coax people into spending more time on Facebook.” – http://www.bloomberg.com/features/2015-george-hotz-self-driving-car

Di Indonesia sendiri masyarakat kita seperti sedang dicuci otaknya melalui media seperti televisi ataupun koran. Berita isinya tayangan-tayangan bernuansa jelek, kejahatan, korupsi, pembunuhan yang disiarkan secara detail, SARA, dsb. Padahal banyak hal-hal positif yang terjadi namun tidak diliput dan disampaikan kepada publik. Tidak ada kontrol isi berita sehingga setiap pihak bebas menayangkan berbagai jenis berita. Berita pun cenderung seputar wilayah ibu kota, kota-kota besar, atau bahkan seputaran Jawa saja. Padahal ada banyak sekali hal positif yang terjadi diluar wilayah tersebut, seakan kita semua lupa bahwa Indonesia bukan hanya Jawa, atau Jakarta. Cuci otak tersebut mulai menunjukan hasilnya, masyarakat jadi terbiasa berpikir negatif seakan-akan tidak ada lagi yang baik dari Indonesia. Banyak orang sudah merasa pesimis, setidaknya itu yang sering saya dengar. Boleh coba tanyakan pada ahli psikologi, apa yang akan terjadi pada manusia apabila terus menerus dijejelin informasi negatif? Saya yakin jawabannya adalah manusia akan memiliki kecenderungan untuk ikut menjadi negatif. Ditambah lagi dengan berita-berita negatif ataupun perdebatan negatif di media sosial seperti Facebook maka lengkap sudah.

Kembali ke Facebook, aplikasi Flipboard sendiri sudah tidak bisa lagi menampilkan newsfeed Facebook, hal ini disampaikan langsung oleh mereka. Saya secara tidak sengaja menghapus aplikasi Flipboard lama di iPad dan ketika install sudah tidak bisa lagi buka Facebook. Sebenarnya tidak masalah juga walaupun saya jadi cenderung kurang update, apabila sedang ngobrol dengan teman-teman baik didunia nyata ataupun di group chat seperti whatsApp lebih banyak tidak tahu topik yang dibicarakan.

Karena masalah algoritma Facebook yang saya singgung diatas, maka saya coba untuk ‘reset’ informasi saya yang terekam di Facebook. Saya unfollow semua koneksi dan hanya menyisakan beberapa komunitas untuk di follow. Namun kadang ada juga keinginan untuk melihat update status ataupun foto-foto dari teman-teman lain ataupun keluarga. Saya ingin memiliki fleksibilitas berupa kekuasaan penuh untuk melihat siapa yang ingin dilihat.

Nah, di Facebook hal ini masih memungkinkan. Caranya sangat mudah.

img_5606
Pilih icon “More” di pojok kanan bawah
img_5607
Pilih profile kita sendiri
img_5608
Pilih Friends dibagian bawah sebelah kanan
img_5609
Pilih New Posts

Contoh diatas dengan asumsi menggunakan Facebook bahasa diset ke ‘English’. Dengan metode ini kita bisa melihat update status teman-teman sesuai yang ingin kita pilih tanpa harus tergantung dengan pilihan mesin Facebook. Silahkan coba sendiri, nanti akan terlihat jelas bahwa ternyata ada banyak update status dari koneksi kita di Facebook yang tidak ditampilkan oleh Facebook dan bahkan beberapa lebih ingin kita lihat daripada membaca update status tentang politik misalnya. Sebenarnya saat kita pilih “New Posts” ada sistem ranking juga, posisi teratas dipilihkan oleh Facebook status terbaru dari koneksi yang biasa kita pilih atau dianggap dekat dengan kita, untuk kasus saya posisi paling atas update status dari keluarga (pada snapshot diatas sengaja saya sensor agar tidak ditampilkan 🙂 ) tapi setidaknya kita bisa dengan leluasa memilih siapa yang akan kita pilih.

Saya kepikiran untuk menulis hal ini karena sekarang sudah dekat dengan pilkada DKI. Setidaknya dari beberapa status teman-teman yang saya sempat baca beberapa mulai jengah dan lelah karena membaca update status di Facebook isinya ngomongin politik. Tulisan ini saya harap bisa bermanfaat bagi mereka-mereka yang ingin memiliki kuasa penuh di Facebook tanpa dipengaruhi oleh sistem kecerdasan buatan yang dibuat oleh Facebook, memang lebih repot tapi setidaknya kita masih punya pilihan.

Pilihan lain? Ya berhenti menghabiskan waktu berlama-lama di Facebook. Saya sih lebih pilih menulis ataupun baca buku di safaribooksonline dimana bisa pilih judul buku apapun untuk dibaca 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s