Ketika sedang menikmati semangkok sajian salah satu jenis makanan favorit saya, tiba-tiba ayah saya membawa serta koki yang memasak makanan tersebut. Setelah memperkenalkan koki tersebut kepada saya, ayah saya mengatakan bahwa saya juga bekerja di Nokia. Saya sempat terkejut karena dua hal. Pertama, karena koki tersebut ternyata bisa berbahasa Indonesia. Awalnya kita semua tahu bahwa kokinya bukan orang Indonesia karena makanan yang kami santap memang menyebutkan bahwa sang koki asli dari negaranya yang bukan Indonesia. Hal kedua adalah karena sang koki ternyata sebelumnya bekerja pada salah satu vendor telekomunikasi di Indonesia. 

Sang koki sudah cukup lama bekerja sebagai ekspatriat di Indonesia. Cerita punya cerita, dia sudah bertahun-tahun malang melintang di dunia telekomunikasi Indonesia. Bahkan ke beberapa negara tetangga sekitaran Indonesia juga. Malang melintang dari vendor seperti Nokia / Ericsson, dan juga operator. Soal gaji tidak perlu ditanya lah, sudah bisa membeli rumah di komplek perumahan elit. Dari dia sendiri saya mendengar sebagai ekspatriat dengan judul kontraktor bayarannya mencapai 10k USD / month. Di Indonesia pula, istilah yang sering kita berikan gaji dolar makan warteg. Untung gede lah.

“What happened?”, tanya saya. Pakai bahasa inggris bukan karena saya sok british, tapi karena beliau bahasa Indonesianya ternyata masih campur-campur juga dengan bahasa Inggris. Dia bilang dunia telekomunikasi di Indonesia sekarang sudah seret. Susah, duitnya gak ada. Operator sudah berkurang drastis revenuenya, sehingga tenaga kontraktor dengan terpaksa dipangkas habis-habisan. Mana kuat bayar ekspatriat bergaji tinggi, untuk bayar gaji orang lokal aja susah. Lantas saya bertanya, kenapa tidak cari kerja di perusahaan lain, kenapa memilih menjadi koki? Ternyata alasannya seperti yang bisa saya tebak. Cari kerja sudah susah terutama karena masalah umur, dan yang lebih penting lagi adalah karena dunia telekomunikasi terlalu spesialis.

Bertahun-tahun yang lalu para pekerja telekomunikasi menikmati eksklusifitas karena spesialisasi tersebut. IT bisa dipelajari dirumah atau tempat-tempat lain yang lebih umum sehingga harga SDM-nya bisa bersaing, sedangkan telekomunikasi harus belajar langsung dilapangan karena mesin-mesinnya spesifik. Salah satu lab di kampus saya sekitar tahun 2000-an mendapatkan hadiah mesin telekomunikasi dari Ericsson. Saat itu “wah” sekali karena kampus lain seperti ITB saja tidak dapat mesin tersebut. Kesempatan belajar mesin tersebut sangat langka dan bisa dipastikan ilmunya akan bermanfaat dalam dunia kerja. Tidak perlu lama menganggur.

Ketika dunia telekomunikasi mulai redup, ketika dunia telekomunikasi menjadi sangat sangat dekat dengan dunia IT, persaingan SDM-nya menjadi jauh lebih ketat. Permasalahan utama khususnya bagi engineer telekomunikasi adalah penguasaan ilmunya terlalu dalam dan spesifik sehingga apabila masanya telah habis dan mau cari kerja tempat lain bisa dipastikan akan susah. Tambah lagi umur sudah 35 keatas dan harus bersaing dengan anak-anak muda yang lebih segar.

Hal yang sama sebenarnya berlaku juga untuk bidang non-telekomunikasi. Saya rasa hal ini berhubungan dengan faktor kenyamanan sehingga banyak dari kita yang terlena dikala teknologi terus bereveolusi. Satu-satunya prinsip yang seharusnya dipegang adalah kita wajib belajar terus menerus, update ilmu.

Saat tingkat akhir kuliah saya magang menjadi trainer cabutan Inixindo di Bandung, setelah sukses deliver beberapa kelas saya ditawari menjadi trainer permanen. Namun setelah dipikirkan dengan matang akhirnya terpaksa saya tolak karena saya memiliki visi lain setelah lulus kuliah. Pemimpin Inixindo bandung mengajak saya berdiskusi untuk mengetahui alasan saya. Setelah saya utarakan akhirnya beliau paham, namun kesempatan itu saya gunakan juga untuk meminta nasihat dari beliau. Saya tanya, apakah tipikal orang yang tidak bisa berkarir disatu tempat seperti saya dan bahkan bercita-cita keluar negeri merupakan hal yang baik? Beliau menjawab kira-kira seperti ini,

Pilihan tersebut bagus-bagus saja, tapi perlu diperhatikan bahwa akan tiba saatnya seseorang harus berhenti pada suatu titik terutama disebabkan karena usianya yang terus bertambah. Faktor seperti keluarga, kemampuan belajar seseorang yang terus menurun, hal-hal tersebut akan datang sehingga harus dipersiapkan dengan matang. Butuh strategi. Jangan sampai terlena dengan kenyamanan hidup atau kondisi saat ini. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah harus terus update ilmu. Harus terus belajar. Belajar apapun yang bisa dipelajari dan dirasa akan berguna pada masa yang akan datang. Jangan cuma belajar yang berhubungan dengan pekerjaan saat ini tapi persiapkan juga ilmu lain sebagai backup.

Nasihat yang terus menerus saya pengang hingga saat ini. Salah satu hal yang beliau utarakan sudah saya alami, berhenti berpetualang karena faktor keluarga sehingga harus menetap disatu tempat. Nasihat beliau untuk selalu belajar masih terus saya pegang sampai saat ini. Jaman dahulu belajar ilmu baru itu susah dan mahal, apalagi jika tidak berhubungan dengan pekerjaan kita saat itu. Posisi kerjaan adalah engineer lapangan tapi ingin belajar ilmu manajemen ataupun finance. Terpaksa harus ikut kursus saat weekend misalnya. Atau bahkan ambil kuliah S2. Itu jaman dulu. Jaman sekarang kita bisa mempelajari ilmu yang sama tanpa harus ambil kursus khusus seperti itu. Saya tidak bilang ikut kursus khusus ataupun kuliah lagi itu kurang bagus lho ya, tapi saya ingin bilang bahwa kesempatan untuk belajar sekarang ini jauh lebih terbuka lebar dibandingkan jaman dahulu. Dan lebih murah.

Coba browsing ke lynda.com, ada banyak kategori belajar seperti kategori bisnis dan finance. Tidak suka? Coba browsing ke udemy.com, kita akan menemukan beragam kategori juga. Kursus-kursus tersebut bisa dibayar per kursus, ataupun berlangganan per term seperti perbulan ataupun pertahun namun bisa akses semua jenis kursus. Bisa diakses offline juga, sehingga kita bisa download saat berada didekat wifi dan baca / ditonton ketika ada waktu luang baik melalui handphone ataupun tablet. Setiap kursus ada review dan preview-nya, pilih kursus yang hasil review dan pesertanya banyak, juga perhatikan previewnya untuk melihat contoh trainer menyampaikan salah satu topik pada kursus tersebut, kira-kira cocok atau tidak dengan kita. Apabila dirasa membosankan cari trainer lain untuk topik yang sama.

Bagi yang memiliki keinginan untuk belajar secara mendalam ada juga model kursus yang ditawarkan oleh coursera. Coursera menggabungkan unsur akademia dan industri, sehingga bobot materinya lebih dalam, cocok apabila kita mau mempelajari suatu cabang ilmu secara lebih mendalam. Jika masih kurang juga silahkan berkunjung ke safaribooksonline.com, ada puluhan ribu jenis buku dalam bentuk digital disana. Bukan cuma buku-buku saja namun juga video-video hasil konferensi tingkat dunia yang tidak dipublish di internet. Kita bisa subscribe per tahun dan memiliki akses ke ribuan sumber ilmu tersebut selama setahun penuh. Belajar apapun dan kapanpun bisa, mulai dari bertani hingga bagaimana menjadi CEO yang baik. Yang dibutuhkan hanya satu: keinginan untuk terus belajar. Daripada menghabiskan banyak waktu buka media sosial, nimbrung ngalor ngidul comment soal politik, belajar dari opini-opini menyesatkan di internet, jauh lebih baik langsung belajar dari buku. Buku-buku tersebut dibuat dengan susah payah melalui proses editing yang lama, jadi bukan sekedar tulisan-tulisan enteng berupa opini tanpa fakta jelas seperti yang biasa kita temukan di internet.

Dari segi harga semua yang saya sebutkan diatas cukup ekonomis. Ada yang dari awal kasih harga murah, ada yang harus pakai strategi. Untuk yang harus pakai strategi, ambil contoh kursus online di Udemy. Dalam satu bulan beberapa kali mereka memberikan diskon. Jika harga awal yang ditawarkan dirasa mahal (lebih dari 50 usd), set saja kursus tersebut sebagai “wishlist” dan coba tunggu beberapa saat, nanti mereka akan memberikan diskon selama 2-3 hari hingga harganya menjadi 15 usd saja per kursus, saat itulah kita ambil. Kursus yang sudah diambil bisa diakses seumur hidup. Model subscription seperti lynda.com juga bagus (lynda.com adalah milik linkedin, dan saat ini linkedin mulai menawarkan menu learning juga dengan mengambil materi dari lynda.com). Katakanlah kita ambil subscription per bulan yang harganya 29.9 USD, bisa akses jenis kursus apapun. Yang perlu diperhatikan, kursus-kursus tersebut dibuat melalui proses yang tidak sembarangan, jangan disamakan dengan pelatihan online di youtube, kualitasnya sangat berbeda. Coba deh buka salah satu kursus yang ada di lynda.com, kita bisa perhatikan kualitasnya memang diperuntukan bagi para profesional dunia kerja. Harga 30 USD bisa dipastikan tidak sia-sia, apalagi jika suatu saat nanti ilmunya bisa bermanfaat dan dipakai dalam dunia kerja, toh investasi pada ilmu tersebut hasilnya akan kembali lagi kepada kita.

Yang juga perlu dipertimbangkan adalah ketika kita masih bekerja budget untuk kursus online bisa dialokasikan dengan mudah. Bayangkan ketika kita belajar setelah kondisi sudah susah, uang 30 USD untuk belajar akan lebih susah dikeluarkan karena lebih baik digunakan untuk makan misalnya. Keutamaan lain ketika kita belajar ilmu baru sementara kita sudah berpengalaman kerja adalah wawasan kita lebih dalam dibandingkan dengan anak-anak fresh graduate yang belum punya pengalaman bekerja ataupun mereka-mereka yang masih minim pengalaman. Ambil contoh kita berpengalaman dibidang telekomunikasi selama 10 tahun, mau coba belajar IT security seperti contoh dibawah ini.

Bagi anak-anak yang belajar IT security tampaknya sniffing adalah hal sangat sepele, sambil tutup mata pun mereka bisa. Namun mungkin pengalaman mereka sebatas memasang sniffer di warnet ataupun jaringan komputer lokal kampus. Tapi ditangan orang yang sudah berpengalaman, sniffing tadi bisa ditempatkan pada mesin-mesin dengan protokol S6A. Paham maksudnya? Ilmunya sama, tapi karena kita sudah berpengalaman didunia industri bertahun-tahun ilmu baru tersebut akan menjadi jauh lebih bermanfaat. Analogi yang sama bisa diterapkan pada cabang ilmu lain yang kita sukai dan ingin dipelajari. Misalnya: pengalaman 10 tahun sebagai project manager dan kemudian belajar ilmu baru bigdata. Tentunya nanti akan sangat berbeda ketika kita apply pada perusahaan startup yang butuh project manager bidang bigdata dan saingan dengan anak fresh graduate yang apply posisi sama. Pengalaman 10 tahun pegang project, berhadapan dengan banyak orang, banyak masalah, tentunya menjadi aset berharga bagi kita untuk bersaing dengan orang lain, yang perlu kita tambahkan adalah ilmu tentang bigdata tersebut.

Saya harap penjelasan nan panjang ini bisa dipahami. Intinya adalah kesempatan untuk belajar dengan baik sekarang ini terbuka sangat luas melalui internet, dan jauh lebih ekonomis. Luangkan waktu minimal 1 jam per hari untuk belajar cabang ilmu lain yang menarik bagi kita. Soal rejeki memang sudah ada yang mengatur, tapi setidaknya kita berusaha untuk terus belajar. Orang yang berilmu tentunya akan berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Ketika pekerjaan yang kita miliki saat ini sudah habis masanya, kita telah memiliki modal yang cukup untuk pindah ke bidang lain. Sehingga tidak perlu lagi merasa was-was kondisi perusahaan yang memburuk dan adanya ancaman layoff.

Potongan diawal cerita tadi bukan berarti pindah jalur seperti menjadi koki bukan pilihan yang baik lho ya. Saya sendiri salut pada orang-orang yang pindah jalur / kwadran dengan buka bisnis sendiri apalagi jika berhasil. Namun tidak semua orang mampu buka bisnis sendiri. Ada sebagian lain yang masih tetap senang bekerja seperti biasa. Dengan adanya pengetahuan lain tentunya akan menambah pilihan bagi kita. Sehingga kita tidak perlu merasa terpaksa menjalani kehidupan ataupun suatu pekerjaan hanya karena akibat tidak ada pilihan pekerjaan lain. Yang pasti, tidak akan pernah merugi orang yang berilmu.

Jadi tetaplah belajar, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, untuk masa depan yang tetap cerah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s