Beberapa bulan yang lalu saya sempat menonton presentasi Bong Chandra, CEO Triniti Property Group. Dalam presentasi yang berdurasi 30 menit tersebut dia memaparkan sebuah produk yang bernama The Smith, sebuah produk properti dengan slogan “Home of Startup Company”. Karena berbau startup saya coba tonton sampai habis. Saya sendiri kurang hobi masalah properti, namun entah karena sang CEO memang pandai berbicara atau karena topiknya selaras dengan masalah startup saya tonton sampai habis dan saya akui isi presentasinya bagus. Saya sarankan terutama yang tertarik dengan investasi properti untuk menontonnya juga.

Setelah selesai melihat presentasi tersebut sebenarnya muncul pertanyaan dalam diri saya pribadi setidaknya mengenai 2 hal:

  1. Tax amnesty
  2. Kebangkitan dunia startup di Indonesia

Tax Amnesty

Dalam presentasi tersebut sempat disinggung masalah tax amnesty dimana apabila program tersebut berhasil maka akan menarik dana yang sangat besar ke Indonesia dan pada akhirnya menarik investor luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia, saat itulah kantor-kantor baik besar maupun kecil akan dibutuhkan. Ketika melihat presentasi tersebut program tax amnesty masih belum menunjukan hasilnya seperti sekarang, banyak orang tidak yakin dengan keberhasilan program tersebut termasuk saya pribadi. Saya berpikir, masa’ iya program tax amnesty bisa berhasil dan membawa dana sebesar itu masuk ke Indonesia. Beberapa minggu yang lalu pertanyaan tersebut terjawab dan kita semua tahu bagaimana pemerintah dengan bangganya menyatakan bahwa program tersebut mulai memberikan hasil yang signifikan. Indonesia dianggap menjadi negara paling sukses menjalankan program tax amnesty.

Perusahaan Startup

Yang kedua adalah masalah perusahaan startup atau bahasa Indonesianya dikenal dengan istilah perusahaan rintisan. Diluar negeri seperti Amerika memang benar perusahaan startup kantornya demikian bagus, tapi di Indonesia apakah akan demikian?

Beberapa perusahaan startup Indonesia yang sempat saya baca memang memiliki kantor bagus. Kondisi kantor demikian merupakan kultur yang dibawa dari perusahaan-perusahaan startup sillicon valley di Amerika. Kantor atau suasana kerja yang menarik merupakan strategi perusahaan startup seperti Google untuk menarik orang-orang bertalenta tinggi agar mau bekerja pada perusahaan mereka. Mereka berharap dengan suasana kantor yang sangat nyaman maka elemen paling penting bagi sebuah perusahaan – yaitu sumber daya manusia – akan betah bekerja secara maksimal serta memiliki tingkat loyalitas yang tinggi. Tapi itu kan di Amerika, di Indonesia apakah hal yang sama ampuh untuk diterapkan dalam arti investasi perusahaan pada kantor yang nyaman apakah benar akan menarik minat SDM handal serta menjamin loyalitas mereka? Kalaupun ada startup ‘sukses’ yang menerapkan kultur serupa, saya berpikir paling juga hanya beberapa saja dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Namun ternyata saya keliru. Saat ini perusahaan-perusahaan startup di Indonesia sudah banyak yang memiliki konsep kantor mentereng. Terlepas dari apakah startup tersebut memang memiliki revenue yang baik, atau hanya sekedar menghambur-hamburkan uang investor, namun apabila dilihat dari kacamata investor bidang properti kondisi di Indonesia saat ini bisa dibilang sesuai dengan gambaran Bong Chandra.

Berikut ini beberapa perusahaan startup yang sempat menunjukan kondisi kantornya ketika dikunjungi oleh Dailysocial.

Startup Bidang Marketplace

Startup Bidang FinTech (Financial Technology)

Startup Bidang Travel

Konsep open office atau model ruang terbuka tanpa sekat memang sudah lama ada dan saya yakin sudah banyak kantor-kantor di Jakarta yang menerapkan konsep seperti itu sejak dahulu, tapi bagaimana dengan konsep ruang bermain, ruang untuk tidur atau beristirahat, pernak pernik dekorasi ceria, ruangan untuk brainstorming, kafetaria yang menyediakan makanan-makanan sehat, dan sebagainya? saya rasa konsep demikian baru sekarang-sekarang ini saja muncul. Saya jadi ingat nih ketika pertama kali bekerja dulu di Jakarta, ada juga makan bersama di kafetaria kantor dengan menggunakan kupon, tapi ala ‘penjara’ gitu, termasuk dengan nampan yang terbuat dari bahan ‘seng’ hehehe (tapi saya sama sekali gak nyesel loh kerja disana, malah kangen dengan suasana tersebut dan bisa bekerja seperti sekarang karena belajar disana dulu awalnya).

Nah, berdasarkan daftar kunjungan dailysocial diatas ternyata sudah banyak juga sekarang perusahaan startup di Indonesia yang menerapkan konsep kantor menarik, ditambah lagi cerita dari seorang rekan yang bekerja pada salah satu perusahaan diatas, jam masuk kantornya tidak harus pagi, maksimal jam 11 namun tetap diwajibkan bekerja dikantor selama 8 jam. Gaya berpakaian bebas. Karena kantornya asyik maka para pekerjanya juga betah berlama-lama dikantor, apalagi kondisi di Jakarta yang macet parah saat jam pergi / pulang kantor sehingga mereka bisa lebih menyesuaikan jam ngantor-nya. Cocok sekali buat anak-anak muda yang belum berkeluarga. Bagi yang sudah berkeluarga tawarannya juga menarik karena mendapatkan tanggungan asuransi kesehatan hingga maksimal 3 anak, selain itu para pekerja juga bisa mendapatkan jatah reimburst, jatah kacamata, milestone internal yang apabila dicapai bisa dapat poin dan ditukar dengan barang, dsb.

Melihat kenyataan diatas yang selaras dengan konsep Triniti, saya coba untuk mencari informasi lebih banyak mengenai properti SOHO di Indonesia. Ternyata produk SOHO sudah sejak lama ada di Indonesia namun tidak sepopuler dan selaku apartmen, baik peminat maupun developer properti masih sedikit yang menggarap SOHO. Namun sebagaimana prediksi Triniti, kedepannya produk SOHO dan Office akan semakin dibutuhkan dan banyak peminatnya sehingga saat ini para developer properti lain pun berlomba-lomba mengeluarkan produk tersebut. Bagi para investor properti kondisi tersebut akan sangat menarik. Katakanlah saat ini harga untuk membuat kantor model Tokopedia bisa diatas 10M, dengan semakin banyaknya startup bermunculan dikemudian hari – ditambah lagi dengan program 1000 startup-nya presiden Jokowi – maka bukan tidak mungkin dalam 2-3 tahun startup yang baru beroperasi sudah berani menyewa ataupun membeli kantor model SOHO yang harganya cenderung lebih murah (karena ukurannya lebih kecil). Apalagi anak-anak muda yang baru lulus sekarang sangat berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Jaman dahulu ketika angkatan saya baru lulus kuliah, rata-rata impiannya adalah bekerja diperusahaan besar yang sudah punya nama terutama perusahaan multinasional. Namun trend para fresh graduate saat ini adalah bekerja pada startup company, atau bahkan sudah mampu membangun startup company bersama rekan-rekan sekolahnya.

Small Office Home Office

Berikut ini konsep SOHO dari Triniti yang sempat saya cari tahu, saya ambil satu contoh developer saja, selain karena yang lain bisa ditemukan dengan mudah melalui Internet, produk The Smith dari Triniti ini memiliki keunikan tersendiri dan lain daripada yang lain (untuk saat ini). Floor-to-flor nya memiliki jarak hampir 6 M sehingga satu unit bisa memiliki 2 lantai: Lantai dasar dan Mezanine.

img_5544
Lantai Dasar: Ruang Kerja
img_5542
Lantai Dasar: Ruang Kerja
img_5543
Lantai Mezanine: Ruang Santai / Istirahat
img_5545
Lantai Mezanine: Ruang Santai / Istirahat
room-type
SOHO ukuran lebih besar.

Untuk lebih jelasnya mengenai The Smith bisa langsung mengunjungi website resminya.

Karena konsepnya adalah Small Office Home Office, maka ruang meeting bisa dibilang tidak dibutuhkan. Jika mau meeting katakanlah dengan client maka disediakan oleh pihak gedung The Smith bagi para tenant-nya. Selain ruang meeting, ada juga coworking space dimana para staff berbagai perusahaan yang berkantor di The Smith bisa bertemu dan berinteraksi satu sama lain dan juga Auditorium tempat dimana perusahaan bisa melakukan launching produk pada khalayak ramai. Berikut ini fasilitas yang (katanya) akan mereka sediakan.

  • Co-Working Space
  • 10 Meeting Rooms
  • 2 Auditoriums
  • Sky Pool
  • Fitness Lounge
  • Coffee Shop
  • Indoor Garden Plaza
  • Tele Conference
  • F&B Meeting Package
  • Receptionist & Multimedia Operator

SOHO akan mulai menjadi pilihan favorit para investor bidang properti yang sebelumnya banyak mengincar ruko ataupun apartemen. Dan apabila melihat dua faktor yang disampaikan oleh pihak Triniti diatas, saya rasa visi yang mereka lihat untuk 3 tahun kedepan cukup menjanjikan (menit ke-25 hingga 30 dari presentasi Bong Chandra patut menjadi perhatian, terutama untuk kawasan alam sutera).

Para ekspatriat yang sebelumnya memilih berinvestasi di kost-kostan, kondotel, ruko ataupun apartemen, mungkin bisa mulai mempertimbangkan investasi SOHO ataupun office di Indonesia. Installment amnesty berupa cicilan langsung ke developer Rp. 9jt an per bulan selama 3 tahun dan sisanya bisa dilunasi saat serah terima, ataupun dijual ke pihak lain dengan harga lebih tinggi setelah 3 tahun, seharusnya bisa menjadi pilihan yang menarik.

Bagaimana? Kira-kira saya sudah cocok belum menjadi sales properti :p? yaah siapa tau pihak Triniti nantinya ada yang baca blog ini dan memberikan satu unit SOHO sebagai hadiah untuk perusahaan rintisan impian saya. Ngarep kan boleh yah, hihihi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s