Ini adalah tulisan pertama saya dalam ranah psikologi. Anggap saja tulisan seorang pemula.

Dahulu saya sering mempertanyakan, “kenapa sih harus ada psikotes saat masuk kerja?”. Umumnya orang berpendapat bahwa psikotes sama dengan tes IQ. Walaupun sebenarnya tes IQ bisa masuk dalam psikotes tapi sebenarnya psikotes tidak hanya sekedar tes IQ. Belakangan saya memahami bahwa psikotes dipergunakan untuk melihat kepribadian seseorang dalam beragam hal, misalnya: dalam hal berinteraksi dengan orang lain, dalam hal menangani tingkat stress, bagaimana seseorang mengambil keputusan, dan lain sebagainya. Psikotes sejatinya digunakan oleh pihak HRD untuk menentukan apakah posisi yang dibuka tepat untuk seseorang. Namun layaknya hal lain kadangkala cukup banyak juga pihak HRD yang menggunakan psikotes hanya sebagai bentuk formalitas saja sehingga hasilnya tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Namun saya tidak akan berkomentar lebih jauh mengenai hal tersebut.

Setelah berkecimpung dalam dunia kerja selama 10 tahun saya berpendapat bahwa perusahaan sebaiknya melakukan psikotes secara berkala kepada staff-nya. Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa ketika posisi eksekutif suatu perusahaan terbuka mis. CEO maka salah satu tes yang diberikan adalah psikotes. Melalui psikotes maka pihak-pihak seperti board of director dapat memperhitungkan apakah calon tersebut tepat untuk menduduki posisi CEO yang dibuka. Saya rasa alangkah baiknya apabila tes serupa dilakukan secara berkala bagi setiap staff, tidak perlu seluruh jenis tes seperti tes IQ, tapi cukup tes kepribadian yang memang disusun untuk kebutuhan roadmap karir seseorang. Mengapa harus berkala? Karena saya sendiri memiliki kecenderungan mendapatkan hasil tes yang berbeda seiring dengan berjalannya waktu. Walaupun perubahannya tidak terlalu ekstrim namun kondisi psikologi seseorang ternyata sangat dipengaruhi oleh beragam faktor termasuk diantaranya lingkungan. Lingkungan dapat sedikit banyak merubah psikologi seseorang sehingga bisa jadi mempengaruhi hal-hal yang berhubungan dengan karirnya.

Diantara ragam tes psikologi yang sempat saya pelajari, saya paling tertarik dengan pendekatan metode MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). Untuk lebih lengkapnya bisa baca-baca disinidisini, atau disini. Bagi yang pernah menonton film Divergent mungkin tahu bahwa pada film tersebut manusia dikelompokan berdasarkan suatu kategori, setiap kategori memiliki peran tersendiri dalam komunitas umat manusia yang apabila masing-masing peran dijalankan dengan baik maka keberlangsungan hidup komunitas tersebut akan sangat baik serta harmonis.

Tunggu dulu, apabila setelah membaca statement saya barusan ada yang langsung protes bilang bahwa saya setuju dengan klasifikasi manusia seperti dalam film tersebut maka anda berarti salah paham. Lanjutkan dulu bacanya ya 🙂

MBTItypeChartSmall

Saya akan langsung membawa pada pembahasan dunia perusahaan. Dalam struktur organisasi sebuah perusahaan umumnya orang berpikir bahwa posisi manajer lebih baik daripada posisi staff seperti engineer misalnya. Kenapa? Ya jelas lah, manajer gajinya lebih tinggi, lebih dihormati karena posisinya “diatas”, memiliki anak buah dan bisa mengatur-atur anak buah, dsb. Itu adalah pola pikir ala pabrik jaman dahulu. Mungkin ada yang pernah membaca sebelumnya bahwa pola demikian lahir dari kondisi pabrik dimana pekerja berkategori non-skilled seperti buruh harus mengikuti perintah supervisor ataupun manajernya dimana manajer tersebut memiliki skill lebih baik mis. berpendidikan tinggi. Jadi kondisi dan posisi manajer tersebut tidak salah juga apabila dikatakan lebih ‘tinggi’. Namun jaman ketika dunia terkoneksi melalui internet saat ini pola pikir demikian tentunya sudah mulai tidak relevan. Saya termasuk yang beruntung bisa bekerja pada perusahaan multinasional dimana posisi manajerial belum tentu gajinya lebih tinggi daripada posisi engineer, walaupun secara fungsionalitas sekelompok engineer akan diatur oleh seorang manajer. Tepat sepuluh tahun yang lalu senior-senior saya disalah satu perusahaan telekomunikasi telah menyampaikan bahwasanya dalam dunia industri telekomunikasi terdapat dua jalur: manajerial dan spesialis. Seorang manajer posisinya bisa jadi sama dengan seorang spesialis, namun dalam hal teknis pekerjaan tentunya harus ada yang memimpin dan dipimpin. Maka manajer sebuah proyek akan memimpin sebuah tim dan bertanggung jawab pada banyak hal baik teknikal maupun non-teknikal, sementara seorang spesialis terfokus pada pekerjaan berbau teknis dan biasanya bersifat spesifik. Tidak jarang juga seorang manajer akan meminta masukan dari engineer terutama spesialis-nya saat mengambil keputusan dalam proyek sehingga tercipta suanasa harmonis saling menghormati tanpa perlu merasa ada yang lebih tinggi. Konflik internal tentunya akan selalu ada seiring dengan berjalannya waktu, namun masing-masing sudah paham dengan posisi atau fungsinya dalam tim sehingga beragam konflik umumnya akan dapat diatasi dengan baik. Pola ini sebenarnya sudah banyak digunakan pada berbagai perusahaan terutama perusahaan startup di bidang teknologi informasi.

Nah, balik lagi ke masalah psikotes diatas, tes psikologi secara berkala dapat digunakan untuk membantu perjalanan karir seseorang. Selama perjalanan saya bekerja seringkali saya melihat bahwa beberapa orang lebih cocok berada pada suatu posisi yang berbeda dari posisi dimana dia berada saat ini. Ada yang pandai mengatur tingkat stress, berinteraksi sangat baik dengan orang lain, bisa mengemukakan pendapat secara verbal dengan baik, tapi masih ikutan kerja malam sebagai engineer. Alhasil, sebagai engineer potensi dirinya tidak bisa keluar secara optimal. Ketika melakukan analisis ataupun troubleshooting akan merasa kesusahan. Orang lain pada level engineer akan mengatakan bahwa orang tersebut bukanlah engineer yang baik karena hanya bisa ngeles, cuma bisa omdo, dan sebagainya. Saya berpikir bahwa alangkah baiknya apabila rekan tersebut menjadi seorang manajer yang lebih banyak mengatur orang daripada hal-hal teknis yang berhubungan dengan mesin. Begitu juga sebaliknya, ada yang sebenarnya tipikal engineer-by-heart tapi karena tidak ada senior lain maka dia dengan terpaksa naik ke posisi manajerial. Padahal dia paling benci urusan tetek bengek non-teknikal, pusing tujuh keliling apabila harus urusin orang lain. Mungkin saja seiring dengan berjalannya waktu akan menjadi seorang manajer yang baik, tapi jika dalam hatinya lebih mencintai pekerjaan teknikal tentunya akan jauh lebih baik jika beliau menjadi seorang spesialis bukan? Apabila bekerja di perusahaan yang modelnya mensejajarkan antara spesialis dan manajerial dalam hal kompensasi, seorang spesialis bayarannya bisa jadi lebih besar daripada manajer. Melakukan pekerjaan yang dicintai plus dapat bayaran mahal, lebih enak lagi toh?

Saya rasa apabila sebuah perusahaan sangat peduli dengan perkembangan karir para staff-nya dan menggunakan pendekatan metodologi psikologi seperti MBTI ini maka tingkat turnover perusahaan tersebut cenderung lebih kecil. Seperti yang saya sebutkan diatas, psikologi seseorang cenderung berubah seiring dengan berjalannya waktu, melalui metode seperti MBTI bukan saja perusahaan akan lebih diuntungkan karena sejak awal sudah menempatkan staffnya pada posisi yang sesuai namun secara berkesinambungan juga akan memiliki staff yang bekerja dengan loyal sepenuh hati karena melakukan pekerjaan sesuai dengan passion-nya masing-masing. Seorang manajer tidak lagi merasa posisinya diatas. Seorang admin proyek tidak lagi merasa berada pada posisi bawah. Mengikuti kategorisasi dari MBTI dimana ada 16 jenis kepribadian maka seorang admin proyek bisa jadi akan bekerja secara maksimal karena pekerjaan tersebut memang cocok dengan kepribadiannya. Ketika bekerja sesuai passion dan perannya maka apabila jumlah pekerjaan bertambah seseorang akan dapat menyelesaikan layaknya seorang superstar. Dan ketika suatu pekerjaan diselesaikan dengan sangat baik maka performanya akan jelas terlihat dan secara otomatis perusahaan akan lebih menghargai dengan kompensasi yang istimewa juga. Tentu saja dengan asumsi bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan ideal, lagi-lagi saya tidak akan berkomentar lebih jauh apabila ada perusahaan yang tidak menghargai performa tinggi staff misalnya 🙂

Jadi intinya apa nih? Hehehe…, intinya berdasarkan pengalaman saya tes kepribadian dengan pendekatan MBTI tingkat akurasinya sangat tinggi dan cocok untuk digunakan baik secara organisasi maupun perorangan. Untuk yang ingin mencoba bisa melakukan tes online melalui link berikut ini: https://www.16personalities.com. Algoritma aplikasi tes situs tersebut sangat baik. Namun apabila males membaca bahas inggrisnya bisa coba dari link berikut ini: http://mbti.anthonykusuma.com/test. Apabila saat ini ada yang sedang bingung dengan perkembangan karirnya, atau sedang bingung dengan permasalahan kepribadian dengan segudang pertanyaan seperti “kenapa saya berbeda dengan orang lain?”, baru lulus kuliah dan bingung ingin bekerja di bidang apa, atau bahkan sedang bingung mencari pasangan yang tepat *uhuk* maka saya sarankan untuk coba tes MBTI diatas. Setelah keluar hasilnya maka bisa segera dicari tahu penjelasan mendetail untuk setiap kategori. Saran saya sih ambil aja tes yang berbahasa Indonesia, setelah tahu hasilnya maka bisa cek dari situs 16personalities.com untuk penjelasan lebih detail.

Oh iya, saya sedang mencari beragam referensi tambahan mengenai MBTI untuk bidang pendidikan, misalnya: metode pembelajaran seperti apa yang lebih baik bagi setiap tipe kategori MBTI, apabila ada yang berprofesi sebagai psikolog dan tertarik, atau sekedar ingin berdiskusi silahkan tinggalkan pesan melalui kolom komentar dibawah dengan memberikan alamat email, saya akan coba hubungi nanti 🙂

Yours truly,
INFJ/P

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s