Katanya sih di Jakarta kalau belum pernah merasakan kena tipu, belom kena copet, belom afdhol jadi warga Jakarta, bener gak tuh? hehehe..

Jadi ceritanya saya baru cobain Uber di Jakarta beberapa minggu yang lalu. Mengunjungi kantor lama untuk bertemu dengan beberapa rekan di daerah bundaran HI. Saat pergi pakai UberX, tidak ada masalah. Drivernya cukup oke, bercerita pengalaman dia sebelum menjadi driver Uber jadi gak terasa macetnya Jakarta. Nah, pulangnya ternyata hujan lebat yang sudah mulai sejak sore hari. Saya coba pesan UberX. Tau sendiri kan saat hujan di Jakarta serba macet dimana-mana. Harga Uber yang dinamis membuat tarif jam pulang kerja saat itu jadi lebih mahal. UberX pertama yang menjawab request saya akhirnya cancel. Mungkin karena dia tau saya mau pulang ke arah cibubur sementara jalanan luar biasa macetnya.

Saya request lagi, kali ini yang menjawab posisinya lagi di bundaran HI. “Wah, deket”, saya pikir. Ditunggu-tunggu sampai 30 menit belum sampai juga. Saya coba telepon berkali-kali tidak diangkat, posisi mobilnya masih di bundaran HI. Saya berpikir positif saja, karena macet ditambah hujan mungkin dia terjebak disana. Setelah menunggu cukup lama saya coba telepon lagi berkali-kali tapi dia tidak menjawab. Rekan saya bilang bisa jadi itu trik si driver, agar saya cancel dan akan terkena biaya charge. Terutama karena saya menggunakan kartu kredit untuk pembayaran Uber.

Merasa tidak mau kalah dan juga sedang tidak terburu-buru maka saya biarkan saja request tersebut. Tunggu-tungguan siapa yang cancel duluan, kira-kira begitu. Sebenarnya batere handphone saya sudah mau tewas, beruntung saat itu sedang ada di kantor temen jadi bisa pinjam chargernya. Setelah menunggu cukup lama mungkin sang driver mulai kehilangan kesabaran jadi dia bermain kasar, dia mengubah statusnya yang awalnya sedang menuju ke tempat saya menjadi “on trip”. Padahal saya belum berada didalam mobilnya. Ya sudah, saya cancel saja, dan akhirnya kena Rp. 18,000.

Salah seorang teman saya pernah mengalami hal serupa dan dia bilang gampang saja kalau dengan Uber, kita bisa report dan minta refund. Sebenarnya dari awal driver tersebut sudah cukup mencurigakan karena kredibilitas ‘star’ nya cuma 2.2. Biasanya driver Uber kan nilai kredebilitasnya 4 keatas. Akhirnya saya ikuti saran teman saya tersebut. Berikut langkah-langkahnya apabila ada yang mengalami hal serupa, saya sertakan screenshotnya.

IMG_5142

Buka aplikasi Uber, lalu pilih menu (pojok kiri atas), dan kemudian pilih HISTORY.

IMG_5143

 

Dari HISTORY kita pilih perjalanan yang bermasalah tersebut. Nanti akan ditampilkan nama drivernya beserta rute perjalanan. Setelah itu pilih “NEED HELP?”

IMG_5144.PNG

 

Pilih issue yang ingin dilaporkan. Untuk masalah saya, saya pilih “I was charged a cancellation fee”. Untuk masalah lain tentunya bisa pilih sesuai tema, misal: “Lost Items”.

IMG_5145

Kemudian kita tinggal masukan permasalahannya apa. Untuk snapshot diatas saya contohkan apabila kita ketinggalan sesuatu didalam Uber. Setelah selesai kita tinggal “Submit”. Nanti akan ada feedback dari Uber masuk kedalam email yang kita gunakan untuk registrasi Uber bahwa permasalahan kita sudah mereka terima dan akan segera di proses. Berikut contohnya untuk permasalahan saya.

Screen Shot 2016-08-03 at 5.57.55 AM

Teman saya mengatakan berdasarkan pengalaman dia dalam waktu kira-kira satu jam Uber akan segera membalas dan membereskan masalah kita. Benar saja, dalam waktu sekitar satu jam setelah submit permasalahan diatas Uber mengirimkan email bahwa mereka sudah melakukan verifikasi dan driver tersebut terbukti curang. Uber segera melakukan refund ‘cancelation fee’.

Screen Shot 2016-08-03 at 5.57.22 AM

Saya kurang tahu untuk kartu kredit lain, tapi untuk american express (AMEX) refund berlaku saat itu juga.

Pengalaman ini menunjukan bahwa Uber sangat responsif dan perduli dengan perlindungan konsumen. Driver Uber tersebut bisa dipastikan kena penalty dan mungkin dipecat, terbukti saat tulisan ini dibuat driver tersebut sudah tidak ada didalam list (gambarnya tidak muncul).

Dikota seperti Jakarta (atau mungkin Indonesia) perlindungan terhadap konsumen mutlak dibutuhkan. Banyak sekali kasus dimana konsumen merasa dirugikan tapi tidak mampu berbuat banyak dan harus menerima kenyataan bahwa Indonesia khususnya kota-kota besar adalah “Hutan Rimba” dimana setiap orang harus selalu waspada. Jika dibahas lebih lanjut apalagi berhubungan dengan peran pemerintah maka akan panjang sekali, yang pasti dengan adanya keberadaan jasa dan perusahaan seperti Uber akan menumbuhkan rasa lebih aman pada konsumen. Bagi driver tentunya akan mulai berpikir 2x sebelum mencurangi penumpangnya.

Setelah mengalami kejadi diatas saya lebih pilih Uber Black, memang lebih mahal namun kualitas mobil dan drivernya jauh lebih OKE. Dari cerita-cerita dengan driver Uber Black disebutkan juga kadang bukan saja drivernya yang nakal, tapi para penumpang di Jakarta pun tidak kalah nakalnya hehehe. Tapi dia bilang konsumen Uber Black cenderung berbeda, biasanya yang naik para profesional dunia kerja ataupun orang asing, jadi dia sendiri pun merasa lebih aman membawa Uber Black.

Beliau juga menceritakan bahwa banyak sekali driver-driver yang ‘nekat’, membeli mobil dengan kredit dan berharap bisa membayar cicilannya dengan menjadi driver Uber. Itu sebabnya banyak yang nakal-nakal mempermainkan transaksi karena harus kejar target setoran / bayar kredit. Mereka tergiur dengan pendapatan sebagai driver Uber yang digadang-gadang oleh media, padahal pada kenyataannya menjadi driver Uber tidak segitu gede juga untungnya.

Nah buat yang agak-agak ngeri dengan berita-berita di media mengenai Uber (terutama temen-temen dari luar negeri seperti Qatar yang biasa tinggal di negara serba aman), bisa coba pakai saja Uber Black. Saya pernah dari airport ke rumah biayanya malah lebih murah Uber Black dibandingkan sewa taksi dari counter airport.

Buat saya pribadi kepercayaan sangat penting, alhasil saya pun sebagai konsumen agak sedikit nakal *uhuk. Ketika menemukan driver-driver Uber yang bisa dipercaya dan mobilnya nyaman maka setiap request lebih baik pakai servis dari mereka-mereka yang sudah saya pilih dengan tetap membayar secara profesional melalui Uber. Bagaimana caranya? Yah, pasti semua pada tau lah ya, gak perlu ditulis disini hehehe.

Yang pasti, semoga informasi mengenai cara melaporkan masalah ketika menggunakan servis Uber ini bermanfaat bagi yang membacanya. Dan mudah-mudahan akan lebih banyak lagi perusahaan di Indonesia yang bisa mencontoh sistem Uber atau servis online lainnya (gojek?) sehingga baik konsumen maupun partner (driver) bisa sama-sama nyaman dan merasa aman tanpa perlu terlalu bergantung pada peran serta pemerintah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s