Saya paling senang apabila melihat orang lain berhasil, apalagi jika sedikit banyak saya bisa membantu. Itu salah satu alasan kenapa sering menulis blog, walaupun beberapa teman dekat sering memberi masukan “elo kalo nulis panjaaang banget ya?” hehehe, tapi yah begitulah, saking ingin-nya memberikan informasi sedetail mungkin agar membawa manfaat bagi orang lain tanpa sadar isi tulisan nya sudah panjang sekali.

Nah, baru-baru ini yang membuat saya senang adalah melihat isi message salah seorang yang sebenarnya juga cuma saya kenal melalui tuker-tukeran message via linkedin.

Telecom Overseas

Beberapa bulan lalu nanya-nanya tentang bekerja overseas, menghubungi saya karena sempat baca-baca di blog ini. Saat menjadi ekspatriat / konsultan dengan jenis kontrak yang kerjanya keliling-keliling dulu saya beberapa kali menulis di blog ini, khususnya untuk bidang telekomunikasi. Misalnya: Parameter salary konsultan saat overseas, share artikel tentang successuful contracting, rate kontraktor ericsson di Russia (jaman dulu, diambil dari milis parakontel, gak tau sekarang), hingga pada akhirnya ketika saya memutuskan meninggalkan dunia kontraktor dan join permanen. Semua ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan tentunya juga berdasarkan opini pribadi.

Sebenarnya bekerja sebagai ekspatriat bukan hanya tentang uangnya, tapi juga tentang beragam tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari seputar masalah teknis pekerjaan hingga non-teknis seperti kemampuan kita untuk hidup di negara orang lain. Kemampuan kita untuk beradaptasi. Ketika kita bekerja diluar negeri khususnya sebagai kontraktor (non-internal employee), biasanya tidak mendapatkan fasilitas layaknya ekspatriat yang bekerja sebagai tenaga kerja internal. Ketika bekerja sebagai staff internal atau disebut juga internal employee,  biasanya kita mendapatkan beragam fasilitas sehingga lebih mudah dijalani dibandingkan kontraktor terutama saat awal-awal menginjakan kaki dinegara asing tersebut. Kontraktor harus urus banyak hal sendiri, mulai dari visa, tiket pesawat, tempat tinggal, kendaraan, dsb. Ketika di salah satu negara Afrika misalnya, apabila makan siang dengan teman dan dibawa ke daerah pinggir jalan makan ayam goreng plus nasi dan sambel dengan lingkungan sekitar banyak lalat, ya kita harus bisa beradaptasi. Cari tempat tinggal, keluar masuk apartemen dengan kondisi bangunan menyeramkan ala eropa timur yang serba kuno dan gelap sempat saya alami bersama istri dan anak. Atau bekerja di negara yang sedang konflik karena permasalahan politik dalam negerinya sekitar tahun 2007-an, masa-masa ketika ancaman bom dimana-mana sehingga saya harus memulangkan istri yang sedang hamil hingga pada akhirnya tokoh seperti benazir bhutto ditembak mati, juga sempat dialami. Beberapa teman bahkan tinggal cukup lama di area perang seperti iraq. Umumnya kontraktor dikirim ke hardship area karena staf internalnya tidak mau dikirim ke negara-negara tersebut sementara perusahaan mendapatkan proyek yang nilainya cukup besar. Saat di Pakistan dulu, ketika saya dan seorang rekan dari Pakistan sedang menunggu keputusan dari pemerintah berkuasa saat itu (masa ketika Pervez Musharraf masih menjadi Presiden) untuk shutting down atau mematikan ketujuh mesin HLR salah satu operator sehingga jaringan telekomunikasi seluruh Pakistan akan mati (HLR adalah jantung telekomunikasi, cukup matikan HLR maka jaringan 2G/3G akan mati), saya sempat menyampaikan kekuatiran saya pada rekan yang orang Pakistan. Setelah sebelumnya sempat meminta untuk tidak tinggal di hotel dan memilih guest house akibat tinggal di hotel lebih beresiko ancaman bom, saya kuatir akan ada serbuan ke kantor telekomunikasi. Teman saya cuma bertanya, “apakah kamu muslim?”, saya jawab “iya”, kemudian dia melanjutkan “kalau begitu kenapa takut? kamu kan tahu bahwa orang sedang tidur diatas tempat tidur yang nyaman pun akan mati jika sudah waktunya”. Saya jadi malu sendiri, tapi yang dia katakan memang ada benarnya. Walaupun sedang berada di hardship area, klo belom waktu nya ya tidak akan terjadi apa-apa.

Begitulah pekerjaan kontraktor. Tapi memang semua itu dengan kompensasi yang cukup besar. Kondisi Pakistan sekitar tahun 2007, untuk entry level dengan pengalaman belum pernah bekerja diluar negeri sama sekali bisa dapat hingga 13 ribu euro per bulan. Apalagi untuk yang sudah berpengalaman. Namun seperti yang saya sebutkan tadi, tidak hanya soal duitnya. Pengalaman-pengalaman hidup di negara orang lain akan menggembleng kita menjadi manusia-manusia yang Inshaa Allah lebih tangguh. Perbedaan budaya, bahasa, negara, akan menjadi pengalaman sangat berharga. Kita juga akan berkesempatan bertemu dengan orang-orang yang hebat baik dalam dunia kerja ataupun diluar pekerjaan, sempat saya tuliskan sebelumnya ketika bekerja di salah satu negara ex-sovyet dan bertemu dengan customer yang sangat cerdas.

Beberapa kali saya menemukan beberapa rekan yang maju-mundur ketika memiliki keinginan untuk bekerja sebagai ekspatriat diluar negeri, pengalaman sudah bertahun-tahun tapi merasa masih belum pede untuk bekerja sebagai ekspatriat. Sebenarnya hal tersebut sah-sah saja. Tapi satu hal yang perlu saya tekankan disini, dimanapun kita bekerja, fakta bahwa kita harus terus menerus belajar tidak pernah berubah. Ketika pertama kali memulai petualangan diluar negeri tahun 2007 dulu, pengalaman saya bekerja baru 8 bulan untuk produk yang akan dihandle. Paradigma yang beredar saat itu adalah untuk bekerja sebagai ekspatriat telekomunikasi minimal harus punya pengalaman 3 tahun dulu. Namun keinginan untuk bersaing dengan orang-orang diluar negeri membuat saya tidak peduli dengan paradigma-paradigma tersebut. Berbekal pemikiran bahwa “klo memang sudah rejeki tidak akan kemana-mana” dan “semangat untuk terus belajar” alhamdulillah dapat juga. Intinya, pengalaman bekerja tidak selalu menjadi acuan. Jika kamu memang sangat menginginkan untuk bekerja diluar negeri langsung dicoba saja. Toh klo memang ada rejekinya pasti akan dapat juga.

Catatan terakhir, untuk bidang telekomunikasi, rate kontraktor yang saya dengar sudah tidak se-sexy dulu. Dulu cenderung mudah mendapatkan THP (Take Home Pay) lebih dari 10 ribu euro ataupun usd per bulan apalagi untuk hardship area, tapi era ketika teknologi IT mulai bersinergi dengan telekomuniasi seperti sekarang ini, harga kontraktor telekomunikasi mulai turun. Kabar terakhir dikisaran 5 ribu usd (exclusive, dalam arti tiket pesawat, visa, tempat tinggal tidak ditanggung kontraktor). Namun tidak perlu berkecil hati karena setahu saya rate dunia telekomunikasi masih termasuk bagus, setidaknya berdasarkan hitung-hitungan kasar berada di posisi kedua dibawah industri minyak & gas. Dan untuk posisi-posisi tertentu seperti Radio, rate-nya masih terbilang tinggi kok.

So tunggu apa lagi? Jika kita merasa yakin dengan skill yang dimiliki dan ‘gregetan’ untuk bersaing secara langsung dengan tenaga-tenaga kerja luar negeri, tidak sabar untuk keluar dari ‘kotak’ saat ini dan melakukan petualangan serta eksplorasi negara lain yang memiliki kultur berbeda, langsung saja kirim CV ke agency-agency yang mencari tenaga kontraktor. Mungkin tidak langsung dihubungi, ataupun ketika dihubungi masih tidak sesuai, tapi jangan putus harapan, CV kita akan tetap disimpan oleh mereka dan kita akan tetap dihubungi apabila ada lowongan yang sesuai dengan skill kita dikemudian hari. Tetap sabar dan senantiasa berdoa untuk mendapatkan yang terbaik.

Selamat berpetualang diluar negeri.

PS: Kalo mau tanya-tanya seputaran dunia ekspatriat bidang telekomunikasi bisa add linkedin saya, inshaa allah kalau bisa jawab akan saya bantu.

https://www.linkedin.com/in/muhammadsahputra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s