Banyak tulisan mengenai dampak buruk menggunakan Facebook, salah satunya artikel dari sciencealert yang menyatakan bahwa meninggalkan facebook ternyata membuat manusia lebih bahagia. Facebook menjadi contoh karena merupakan media sosial terbesar saat ini. Oke, blablabla dan kita tau bahwa menggunakan media sosial secara berlebihan tidak baik, tapi alasannya tidak cukup kuat untuk membuat kita berhenti.

Sebenarnya banyak sekali orang yang mungkin tidak sadar dampak negatif Facebook sehingga tidak sempat berpikir untuk berhenti walaupun efeknya sudah dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, mengacu pada tulisan science alert diatas salah satu efeknya adalah membuat orang merasa tidak bahagia.

Mengapa kita tidak coba melakukan eksperimen sendiri? logout dari Facebook, hapus aplikasinya di handphone. Kira-kira, tahan berapa lama untuk tidak membuka kembali aplikasi tersebut? Apabila hidup jadi terasa hampa, tangan tiba-tiba jadi bergerak sendiri dan secara otomatis mengambil handphone untuk membuka aplikasi facebook yang ternyata sudah dihapus, atau kejadian-kejadian lain yang seharusnya membuat kita merasa ‘janggal’, bukankah seharusnya kita jadi merasa takut dan kuatir, kenapa facebook bisa memiliki efek seperti itu pada diri kita?

Awal tahun ini Mark Zuckerburg, pembuat Facebook, memiliki resolusi untuk menghabiskan membaca satu buku setiap minggu-nya. Kira-kira apa alasannya? Mungkin bisa jadi sama seperti alasan Steve Jobs melarang anak-anaknya sendiri untuk menggunakan gadget dirumahnya. Banyak sekali tulisan berseliweran di internet tapi ditulis berdasarkan opini. Saya sering menulis di internet (termasuk tulisan ini), dan semuanya berdasarkan opini pribadi, bukan melalui riset khusus. Bisa jadi Mark tahu bahwa apa yang di share di Facebook umumnya hanya berisi opini-opini pribadi saja, tidak bersumber pada suatu keilmuan yang jelas (dan juga dia mengetahui fakta lain dari Facebook yang saya gambarkan pada akhir tulisan ini). Sangat berbeda dengan membaca buku. Bagi yang pernah terlibat dalam proses pembuatan buku tentunya tahu bahwa setidaknya ada beberapa tahapan sebelum isi buku tersebut diluncurkan ke publik. Jadi mengapa kita membuang waktu membaca tulisan-tulisan yang tidak jelas dibandingkan membaca buku yang isinya jauh lebih berbobot?

Hal lain yang membuat Facebook digemari adalah kemampuannya sebagai sarana untuk ‘showoff’ alias pamer. Mulai dari pamer makanan, barang-barang milik pribadi seperti kendaraan, pamer kecerdasan anak, pamer jalan-jalan keluar negeri, dll. Mungkin istilahnya menjadi jauh lebih halus karena menggunakan kata-kata seperti ‘share’ atau ‘berbagi’. Tapi coba kita lihat sisi lain dan renungkan sejenak. Ada berapa teman kita di Facebook? Bisa jadi ada banyak, pertanyaannya: dari sekian banyak teman kita, apakah semuanya memiliki lingkungan yang sama dengan kita? Lingkungan yang sama ini misalnya, sama-sama tinggal diluar negeri, atau sama-sama punya mobil mewah, atau sama-sama anaknya sekolah di sekolahan mahal, atau memiliki tingkat ekonomi yang sama sehingga bisa makan-makan di restoran enak, bisa merayakan ultah anak, bisa belikan hadiah mahal, dsb. Facebook merupakan media sosial terbesar karena jumlah penggunanya lebih banyak, ini berarti lebih banyak teman kita (baik teman saat ini, ataupun teman jaman masih sekolah dulu) di dunia nyata terhubung dengan kita melalui Facebook, bandingkan dengan media lain seperti twitter ataupun instagram yang cenderung hanya berupa follower biasa. Perbedaan tingkat ekonomi ini secara tidak sadar dapat mengakibatkan kecemburuan sosial. Apabila dulu kita sering mendengar bahwa suatu rumah tangga bisa gelisah ketika melihat tetangga sebelah rumahnya mampu beli barang-barang mahal, atau sering jalan-jalan keluar negeri, maka dengan adanya media sosial seperti Facebook pandangan kita bukan lagi sebatas tetangga sebelah rumah saja tapi dengan teman ataupun saudara yang berada nun-jauh disana. Lihat teman punya motor baru, mobil baru, pekerjaan baru, bisa umrah, anaknya masuk sekolah mahal, bisa membuat orang jadi iri. Dan pada akhirnya berujung tidak bahagia.

Pamer adalah sifat dasar manusia, dan jika dibiarkan terus menerus pada akhirnya akan menjadi penyakit. Apabila sudah menjadi penyakit maka kita tidak sadar lagi bahwa kita sedang pamer, apalagi jika dibungkus oleh produk yang mengatakan bahwa itu bukan pamer, tapi sharing / berbagi dengan orang lain. Yang berbagi kedapatan penyakit pamer, yang dibagi kedapatan penyakit iri. Banyak juga yang tidak pernah sharing di media sosial, tapi pada akhirnya akan kebagian penyakit hati berupa iri dengan kehidupan orang lain. Mungkin bisa jadi bukan iri dengan barang-barang branded yang dishare oleh rekan-rekannya di FB, tapi iri pada istri orang lain yang lebih cantik, suami orang lain yang lebih romantis, kehidupan keluarga lain yang lebih harmonis, anak orang lain yang lebih cerdas, dsb dsb. Lagi-lagi, seperti yang disampaikan oleh artikel science alert diatas, membuat manusia tidak bahagia.

Seorang rekan pernah bercerita bahwa dia ingin sekali berbagi kebahagian dengan sanak saudaranya yang berada dikampung. Suatu ketika dia membawa saudara-saudaranya itu jalan-jalan dan menginap di hotel mewah dengan harapan bahwa saudaranya bisa merasakan kebahagiaan bagaimana rasanya menikmati hotel mewah. Diajaknya juga untuk makan di restoran-restoran mewah. Dia merasa sudah berbagi, dan menyenangkan saudara-saudaranya tersebut. Namun belakangan dia mendengar bahwa yang dia lakukan adalah kesalahan besar, karena saudaranya menjadi iri sekali dengan dia dan berpikir bahwa setiap hari dia menikmati kehidupan seperti itu. Sedangkan saudaranya setelah selesai jalan-jalan yang menghabiskan dana besar tersebut harus kembali ke kehidupan nyata nan keras, dimana untuk mendapatkan sesuap nasi saja susah sekali. Alhasil saudaranya malah jadi lebih murung memikirkan nasib kehidupannya.

Ada kalanya ketika kita berbagi melalui Facebook, kita tidak memikirkan bahwa ada orang lain diluar sana yang kehidupannya berbeda dengan kita.

Padahal jika kita mau jujur pada diri sendiri, apa yang kita bagikan di media sosial tentunya tidak mencerminkan kehidupan kita seutuhnya. Belum tentu ketika kita berbagi sesuatu yang mengindikasikan suatu kebahagiaan, kehidupan kita memang benar-benar 100% bahagia. Ada yang gemar selfie, padahal pake camera 360 atau editan lain sehingga keliatan lebih bagus hasilnya (aslinya tidak seperti itu hehehe). Atau ketika kita pamer barang-barang mewah, ternyata memiliki seorang anak yang cacat dirumah. Ketika kita share sedang berada diluar negeri untuk bekerja, pada saat yang sama kita melihat foto rekan lain berkumpul bersama keluarga besarnya di Indonesia sedangkan kita harus meninggalkan istri dan anak-anak ribuan kilometer jauhnya. Ketika kita pamer foto kantor yang mewah, pada saat yang sama mata kita melihat kebawah gedung beberapa tukang sapu sedang bercanda ria dengan teman-temannya penuh kehangatan, sedangkan kita harus bekerja sendirian di ruangan kantor mewah tersebut.

Pernah tidak mendengar bahwa Facebook memiliki teknologi yang dapat membuat kita tetap betah menghabiskan waktu berjam-jam bermain Facebook? Dalam dunia programming, ada istilah algoritma. Algoritma Facebook sangat canggih, saking canggihnya dia bisa memanfaatkan artificial inteligence untuk mengetahui hal-hal yang kita sukai dan menyuguhkan hal-hal tersebut pada kita. Pernah diberitakan juga Facebook melakukan eksprimen melalui aplikasinya untuk memainkan psikologis pengguna, misal: apabila kita disuguhkan berita-berita jelek, atau ditampilkan hasil share berupa berita-berita negatif saja dari teman-teman kita di Facebook dan Facebook tidak menampilkan berita-berita baik maka secara psikologis kita akan berpikir bahwa dunia ini penuh keburukan, atau presiden A penuh dengan keburukan. Ini fakta loh, coba aja buka Facebook dari aplikasi seperti Flipboard dan bandingkan isinya ketika kita membuka Facebook via browser seperti internet explorer ataupun aplikasi Facebook di iphone/android, kita akan terkejut karena ada share dari teman kita yang lain ditampilkan oleh Flipboard namun tidak ditampilkan oleh aplikasi Facebook. Ini adalah seni dari teknologi artificial inteligence Facebook. Hal ini juga pernah disebutkan oleh salah seorang yang sangat populer di dunia iPhone dan baru-baru ini membuat self-driving car ketika dia menceritakan pengalamannya bekerja di Facebook,

“It scares me what Facebook is doing with AI,” Hotz says. “They’re using machine-learning techniques to coax people into spending more time on Facebook.” – http://www.bloomberg.com/features/2015-george-hotz-self-driving-car

Jadi bisa bayangkan sendiri ketika Facebook mampu memainkan psikologis penggunanya, bukan saja untuk membuat penggunanya betah berlama-lama ‘wasting time’ menggunakan Facebook namun juga mereka mampu mengendalikan psikologis kita untuk mengubah cara pandang kita tentang apapun termasuk kehidupan dunia. Mengerikan bukan?

Dampak negatif Facebook sebenarnya bisa dijawab oleh diri masing-masing. Silahkan lakukan eksperimen berhenti menggunakan media sosial selama beberapa saat, apabila kita merasa kehilangan itu contoh bahwa kita sudah kecanduan dan memasuki tahap berbahaya, apabila kita merasa lebih bahagia, anak-anak kita menjadi lebih dekat dengan kita karena kita menghabiskan waktu lebih banyak dengan mereka dibandingkan dengan Facebook, maka itu berarti kita bisa memasukan resolusi tahun 2016 untuk lebih bijaksana dan berhati-hati lagi menggunakan media sosial. Media sosial seharusnya digunakan untuk hal-hal tertentu saja, seperti beberapa anak muda Indonesia berikut ini yang menggunakan media sosial untuk bisnis. Atur waktu seketat mungkin bagi diri sendiri untuk buka media sosial, batasi waktu maksimal buka media sosial setiap harinya, mis: cukup 15 menit dalam satu hari, dan selebihnya gunakan waktu dengan baik untuk bekerja, menghabiskan waktu bersama keluarga, bersama teman-teman, ataupun saat ‘me time’ dengan hal-hal bermanfaat seperti membaca buku. Bukan menghabiskan waktu liatin foto orang. Jika memang tidak bisa juga, maka berarti kita harus mempertimbangkan untuk total berhenti buka Facebook.

Advertisements

5 thoughts on “Kenapa Facebooker Tidak Bahagia?

  1. wah seru pak saya baca blognya, mulai cerita awal terjun di dunia telco, sampai cerita keliling dunianya, terima kasih pak, aktivitas blowalking emang somehow lebih seru daripada facebookan hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s