Belajar Online Di Indonesia

Pasti banyak yang sudah membaca tulisan Profesor Rhenald Kasali tentang fenomena “Sudden Shift”. Beberapa tahun yang lalu mungkin kita bisa ‘skeptis’ aplikasi online tidak akan laku di Indonesia. Kenapa? Karena internet lemot, masyarakat umum juga masih banyak yang belom melek internet. Sekarang beda, bahkan konon suami istri pun bisa tidur punggung-punggungan akibat perbedaan pilihan presiden saat pilpres lalu tentunya karena pengaruh dunia maya serta social network yang sering memperdebatkan presiden mana yang lebih baik. Penetrasi internet di Indonesia mengalami kemajuan yang luar biasa beberapa tahun terakhir, terutama setelah banyak orang mampu membeli smart phone baik dengan cara mencicil ataupun smart phone jenis android banyak yang harganya terjangkau, yang penting bisa konek internet.

Saya sendiri cukup kagum dengan penetrasi fiber optik di rumah-rumah seperti produk indihome ataupun innovate. Yang pasti, liburan kemarin sempat terkaget-kaget ketika mengunjungi salah satu tukang poto kopi di kota cilegon si abang tukang poto kopinya nyalain playlist lagu padang dari YOUTUBE!! Gak ada lagi cerita kumpulin lagu via MP3, langsung online via youtube dan dengan enaknya pilih2 playlist, hasilnya pun keren, gak ada buffering. Dia bilang pake speedy. Nah ketika internet cepat sudah masuk kerumah-rumah seperti itu, tentunya fenomena “suden shift” yang dikemukakan profesor Rhenald Kasali akan terjadi pada lebih banyak bidang.

Internet terbukti telah banyak mengubah sistem “tradisional” menjadi lebih “modern”. Bahkan sistem pembayaran yang biasa menggunakan uang konvensional dimana sistem transaksinya tercatat dan diatur oleh negara, sekarang bisa menggunakan uang digital seperti bitcoin. Tidak ada lembaga yang mengatur, semua serba borderless lintas dunia siapapun bisa pake. Bekerja pun bisa via internet, siapa yang punya skill bisa mengerjakan project di negara yang jaraknya puluhan ribu kilometer. Salah satu yang bisa terkena dampak “sudden shift” ini adalah sistem pendidikan.

Aplikasi Belajar Online

Jika kita melihat hasil beberapa situs belajar online diluar seperti khan academy ataupun yang lebih teknikal seperti codeschool.com, mereka sukses melahirkan para programmer-programmer yang tidak memiliki background belajar selama beberapa tahun di sekolah jurusan TI (Teknik Informatika). Dengan skill baru itu banyak orang-orang yang awalnya kesulitan mendapatkan pekerjaan, setelah belajar akhirnya bisa memiliki skill baru untuk bekerja di bidang IT. Dengan adanya penetrasi internet yang baik di Indonesia, saya mulai melihat beberapa pihak membuat sistem belajar online. Beberapa cukup menarik terutama ketika sistem belajar online itu mulai menyentuh materi-materi di-sekolahan, seperti brainly.co.id, aplikasi jenis social network model quora (quora.com) tapi fokus pada sharing soal-soal pekerjaan rumah untuk diselesaikan secara bersama (sayangnya saat ini masih lebih banyak yang bertanya daripada yang menjawab). Ada juga kelaskita.com, elearning platform terstruktur untuk memudahkan kita membuat atau mengikuti kelas belajar secara online dan interaktif bersama peserta didik, teman, komunitas dan dunia. Contoh lain adalah zenius.net, yang mengklaim sudah memiliki lebih dari 33 ribu video online model youtube dengan fokus materi pendidikan SD-SMP-SMA dan SBMPTN. Berikut ini salah satu contoh video dari zenius.nethttps://www.zenius.net/c/1320/sebangun-teori. Ada juga model ruangguru.com, situs mirip linkedin untuk para pendidik yang bisa dipanggil kerumah-rumah.

Bimbel Online

Efek “sudden shift” bidang pendidikan yang mungkin paling cepat dirasakan adalah kursus / bimbel (bimbingan belajar) online. Saya akan ambil contoh permasalahan yang biasa terjadi di Qatar. Umumnya anak-anak Indonesia di Qatar belajar disekolahan dengan kurikulum american / british, permasalahan terjadi ketika orang tua-nya harus pulang ke Indonesia. Orang tua umumnya kesulitan karena ternyata sistem kurikulum di Indonesia secara teknis materinya lebih sulit untuk jenjang yang sama, mis. kelas 2 SD di Qatar materi belajar matematikanya belum sampai pada perkalian, tapi di Indonesia sudah belajar perkalian (hanya contoh, saya kurang tau persisnya). Nah, sebelum pulang ke Indonesia si anak bisa belajar online untuk mengejar ketinggalannya, sehingga ketika pindah sekolah ke Indonesia anak tersebut sudah siap mengikuti kurikulum Indonesia. Mirip dengan bimbel kan, tapi secara online dan yang pasti…border-less.

Apakah sistem belajar online ini bisa efektif? Jawabannya tentu bisa. Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti kursus bahasa arab yang di-organisir oleh beberapa rekan di-Qatar (sayangnya saya berhenti ditengah jalan hehehe), pembimbingnya adalah seorang ustadz yang memang berkompeten (dan tegas) dan memiliki latar belakang pendidikan bahasa arab (kalau tidak salah dari Madinah?) sehingga materi yang dipakai adalah materi ala negara arab. Sistem belajarnya interaktif melalui aplikasi WiziQ. Jadi setiap mau mulai akan ada invitasi ke email, kita install aplikasi WiziQ, join online class, suara terdengar jelas (bisa dibuka via gadget ataupun komputer biasa) dan juga layar akan menunjukan layar-nya pak ustadz, ibaratnya layar ini adalah papan tulisnya. Pak ustadz sebagai guru akan menunjuk peserta satu per satu untuk membaca tulisan arab dan memperbaikinya apabila ada kesalahan kemudian memberikan penjelasan atau teorinya, peserta lain bisa chat satu sama lain (semua share screen yang sama), namun guru memegang kendali suara. Sehingga semua peserta bisa mendengarkan bacaan peserta lain yang sedang ditunjuk. Aplikasi belajar online lain pun juga mirip, kita bisa “tunjuk tangan” apabila ada yang ingin ditanyakan kepada sang guru (ini contoh aplikasi online training yang digunakan oleh kantor saya saat ini, Nokia).

Bagaimana, mirip sekali dengan kelas sungguhan bukan? semua peserta tersebar dibeberapa lokasi tapi berkumpul dalam satu wadah melalui internet. Dengan kata lain, lingkungan belajar dapat dikontrol dengan baik. Walaupun jenis sekolah adalah home schooling, sekolah alam, sekolah di ujung papua sana, ataupun di pedalaman, selama ada akses internet yang memadai, semua anak di kota ataupun desa bisa memiliki kesempatan mendapatkan materi yang sama. Ini juga salah satu tujuan kampanye internet.org nya Facebook / Mark Zuckerberg (pendiri Facebook) dengan slogan-nya: “THE MORE WE CONNECT, THE BETTER IT GETS.”

Kurikulum Indonesia

Melalui internet pula saya rasa masyarakat bisa menembus beragam keterbatasan birokrasi. Contoh kasus, banyak yang mengatakan sistem pendidikan Indonesia jelek, lebih memilih sistem pendidikan amerika ataupun eropa. Itu sebabnya sekolah-sekolah internasional di Indonesia laku keras walaupun bayarannya mahal. Di luar negeri seperti Qatar pun, dimana sekolah-sekolah negara lain seperti sekolah india, philipines, mesir, hadir dengan sistem pendidikan nya masing-masing namun tidak ditemukan adanya sekolahan Indonesia, padahal warga Indonesia di Qatar banyak. Rumornya, karena banyak yang tidak bersedia anaknya sekolah di sekolahan Indonesia, kalo ada kesempatan sekolah di british / american school dengan kurikulum mereka, kenapa harus sekolah di sekolahan Indonesia? Ini membuktikan bahwa masyarakat kita tidak percaya dengan sistem pendidikan / kurikulum Indonesia.

Saya beberapa kali diskusi dengan teman-teman setelah beberapa saat mempelajari garis besar sistem pendidikan ala british, amerika, ataupun finland, bukan tidak mungkin dengan koneksi internet di Indonesia yang sudah bagus sistem pendidikan tersebut bisa di implementasikan bahkan secara online diperuntukan bagi masyarakat Indonesia. Saya rasa ahli-ahli pendidikan di Indonesia ada banyak, mereka bisa merangkum intisari metode pendidikan seperti finland yang disebut-sebut terbaik di dunia saat ini, disesuaikan dengan kondisi Indonesia (tentunya susah untuk jiplak mentah-mentah kan, seperti american curriculum disini, anak saya dipaksa belajar mata uang serta sejarah amerika, untuk apa?? :(), dan diimplementasikan pada sistem kurikulum Indonesia. Tujuan akhirnya adalah memiliki pola / framework pendidikan yang lebih baik daripada sistem pendidikan saat ini di Indonesia. Apabila susah dan mahal untuk di implementasikan pada model sekolah konvensional, mungkin bisa dimulai secara online dulu. Mudah-mudahan ada bapak-bapak serta ibu-ibu pendidik yang tentu ilmu serta pengalamannya lebih baik daripada saya mau dan berani memimpikan hal ini, sehingga kita orang Indonesia tidak lagi berpikir bahwa kurikulum pendidikan Indonesia kalah dibandingkan kurikulum negara lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s