Made in Indonesia

Saya hampir gak pernah beli baju di Qatar. Kenapa? Kualitas jelek, harganya mahal. Beli baju juga terpaksa karena baju yang lama sudah sempit. Teman saya yang orang algeria juga pernah mengatakan hal serupa, jadi dia baru pulang dari bahrain, saya tanya, ngapain aja kamu selama di bahrain? Dia jawab salah satunya adalah beli baju. Dia bilang “compare to doha, the quality of clothes sold there are better”.

Saya biasanya melihat sesuatu berdasarkan kualitas. Kalau suatu barang berkualitas dan harganya mahal saya anggap layak, ada harga ada rupa. Wajar harga mahal, kualitas tinggi kok. Yang menjengkelkan adalah ketika suatu barang udah harganya tinggi, biarpun ditaro di toko yang exclusive tapi kualitasnya menengah kebawah. Salah satu yang sering saya komentari adalah sepatu. Saya ingat sekali jaman dulu klo liat-liat sepatu basket di toko-toko Indonesia (cuci mata karena gak mampu beli hehehe…) kualitasnya bagus-bagus. Lem-nya rapih sekali. Saya ada teman yang bekerja di pabrik sepatu, dia bilang merk seperti Nike diproduksi di Indonesia. Berarti desain dari luar, produksi di Indonesia. Ketika di Qatar, banyak sepatu-sepatu basket mahal tersebut buatan negara yang baru-baru ini men-devaluasi mata uangnya. Jelek. Lemnya berantakan dimana-mana. Lebih bagus kualitas sepatu buatan negara yang diacak-acak rambo.

Sebelum mudik liburan, beberapa saudara titip minta dibelikan baju di Qatar. Saya sempat nyengir ke istri, titip oleh-oleh dari Qatar kok baju. Tapi pada akhirnya kami belikan. Karena yang penting ada gambar ‘corniche’ sebagai icon negara Qatar. Kualitas sih biasa aja, tapi harganya 2x lipat baju serupa di matahari department store dengan kualitas yang sama. Tentu saja saudara tersebut memakai baju itu dengan bangga.

Bangga menggunakan suatu barang karena brand tertentu, atau beli dari suatu negara tertentu saya rasa adalah hal yang wajar. Karena seperti itulah suatu produsen biasanya memasarkan suatu product. Mereka mampu menciptakan suatu ‘magic’ yang membius banyak orang sehingga menjadi korban mode. Bahkan dalam salah satu ilmu akademis ada jurusannya (klo tidak salah untuk program studi MBA ada brand management).

Cukup banyak barang-barang yang hadir di Qatar merupakan barang ekspor dari Indonesia. Termasuk mainan seperti boneka di IKEA, ataupun alat-alat musik dengan merk Yamaha. Dari beragam barang tersebut saya bisa bilang bahwa kualitas barang dari Indonesia tidak kalah dengan kualitas barang dari luar. Bahkan banyak jenis barang kualitas made in Indonesia jauh lebih baik daripada made in negara lain terutama negara kawasan asia.

Lucunya masyarakat Indonesia menganggap buatan negara lain apalagi kalau belinya dikawasan eropa jauh lebih baik daripada buatan Indonesia. Ada cerita lucu bahwa seseorang pergi ke salah satu negara eropa, beli baju bola, begitu pulang ke Indonesia baru sadar kalau baju bolanya itu made in Indonesia. Tentu saja kecewa, udah bayarnya lebih mahal made in lokal pula. Berdasarkan pengamatan terhadap beragam jenis barang yang dijual diluar negeri, mata saya jadi terbuka dengan kesimpulan bahwa setiap segment ada jagoannya masing-masing. Katakanlah untuk masalah garment, Indonesia adalah salah satu jawaranya. Baju-baju bola yang dijual di eropa banyak made in Indonesia karena mereka tau bahwa kualitas baju buatan Indonesia memang bagus. Saya sendiri awalnya sempat mengira bahwa negara-negara eropa memproduksi sendiri baju-baju bola (dengan mesin-mesin produksi di pabrik-pabrik negara eropa) sehingga baju-baju itulah yang disebut versi ‘original’, hingga pada suatu ketika saat training di Munich dan masuk ke salah satu toko fans bayern muenchen saya lihat si penjaga toko lagi asik menyablon baju. Baju tersebut bukan made in Germany, tapi made in salah satu negara Asia dan si penjaga toko menyablon sehingga nama di belakang baju bisa beda-beda. Itulah yang dibeli oleh para fans. Jadi apa bedanya dengan baju bola buatan lokal Indonesia? Pabriknya di Indonesia, disablon oleh orang Indonesia. Bahkan di ekspor ke negara-negara eropa. Kalopun ada yang bilang tetap beda antara beli baju di eropa dengan di Indonesia, berarti orang tersebut maksudnya bilang klo tehnik menyablon orang German lebih baik daripada orang Indonesia :p.

Tinggal dan bekerja bertahun-tahun diluar Indonesia justru membuka mata saya pada fakta bahwa Indonesia tidak sejelek yang dikatakan orang-orang. Masyarakat Indonesia sering sekali mengeluh dan menganggap orang asing lebih tinggi daripada orang Indonesia, produk asing lebih baik dari Indonesia, padahal sama sekali tidak. Hasil pekerjaan orang Indonesia juga bagus kok. Memang terdengar klise, tapi kata-kata bahwa kita harus mencintai produk-produk Indonesia bukan isapan jempol belaka. Tentu saja kita masih ketinggalan dalam berbagai bidang seperti otomotif dibandingkan jepang ataupun german, ketinggalan dalam bidang elektronik dengan korea, tapi kita jago dalam hal lain. Kita pakai mobil eropa, tapi orang eropa pakai baju Indonesia. Gak perlu gengsi klo jadi jawara dalam hal memproduksi pakaian, karena kita semua tau lebih baik tidak pakai mobil daripada tidak pakai baju, betul tidak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s