Cerita-cerita Ex-Siemens di Muenchen

Hari ini adalah hari pertama training salah satu produk (PCRF) di training center perusahaan tempat saya bekerja, saat ini namanya Nokia. Kenapa saya bilang saat ini? Karena namanya gonti-ganti terus akibat merger 2 perusahaan telekomunikasi besar dunia, siemens dan nokia.

Seperti biasa kalau di tempat training berkumpul beragam orang dari seluruh dunia yang ikutan training tersebut. Untuk training ini setidaknya ada rekan-rekan dari Argentina, German, Bulgaria, Belgium, Swiss, Russia, dan saya sendiri dari Qatar. Menariknya, hampir sebagian besar umurnya sudah cukup tua dan punya pengalaman bertahun-tahun bekerja di perusahaan telekomunikasi legendaris, Siemens ☺. Saya sendiri termasuk yang paling muda disini (walaupun secara tampang sepertinya mereka gak sadar hehe…:p). Nah, saat makan siang kita cerita-cerita jaman ‘good ol day’ di Siemens. Trainernya sendiri seorang wanita yang sudah cukup berumur, dan tahun 80 an termasuk salah satu developer untuk produk telekomunikasi siemens yang super legendaris yaitu EWSD. Saat itu dia ini mendapatkan tugas untuk membuat adaptation dari EWSD (menurut ceritanya, kala itu dia masih bekerja di serbia). Semua saling cerita pengalaman masing-masing di siemens mulai dari era kejayaannya hingga era kejatuhannya.

Cerita-cerita tadi berlanjut kedalam kelas dan menyentuh masalah teknis khususnya arsitektur produk yang berevolusi secara bertahap mulai dari era ketika ‘softswitch’ mulai populer didunia telekomunikasi hingga teknologi cloud saat ini yang mulai diperkenalkan oleh vendor telekomunikasi. Namun sebelum bercerita lebih jauh, ada baiknya memahami dulu pengertian umum dari softswitch dalam dunia telekomunikasi.

A softswitch, short for software switch, is a central device in a telecommunications network which connects telephone calls from one phone line to another, across a telecommunication network or the public Internet, entirely by means of software running on a general-purpose computer system. Most landline calls are routed by purpose-built electronic hardware; however, soft switches using general purpose servers and VoIP technology are becoming more popular.[1]

Pengertian diatas diambil dari laman wikipedia. Yang perlu digaris bawahi adalah bagian ‘software running on a general-purpose computer system’. Semua orang yang sempat berkecimpung di dunia telekomunikasi era sebelum penghujung tahun 2000-an tau bahwa dunia telekomunikasi adalah dunia yang ‘exclusive’, exclusive karena kita tidak bisa belajar perangkat-perangkatnya jika tidak bekerja pada perusahaan telekomunikasi. Ada beberapa lab di kampus yang memiliki perangkat telekomunikasi namun umumnya sudah model lama. Ketika sudah join perusahaan telekomunikas barulah kita belajar dari ‘nol’ bagaimana perangkat-perangkat tersebut bekerja, itu juga salah satu faktor penyebab bayaran engineer telekomunikasi saat itu sangat tinggi dibandingkan profesi lain karena ilmunya ‘exclusive’.

Exclusivitas mulai berubah ketika era softswitch datang. Saya sendiri merupakan generasi yang beruntung bisa masuk karena adanya softswitch tersebut. Pengetahuan tentang telekomunikasi NOL besar, namun saya memiliki skill dibidang sistem operasi dan TCP / IP. Siemens adalah perusahaan awal yang mengembangkan software telekomunikasi untuk berjalan diatas general-purpose computer system. Hardware menggunakan mesin-mesin seperti sparc-nya SUN, sistem operasi menggunakan solaris, redundancy menggunakan fasilitas clusterware dari SUN, dan siemens mengembangkan sendiri middleware serta common application framework untuk beragam aplikasi. Singkat cerita, fungsi mesin-mesin telekomunikasi yang awalnya sangat spesifik diganti kedalam bentuk software yang kemudian bisa berjalan diatas mesin-mesin IT umum. Berikut ini gambaran teknologi awal dari produk soft switch.

Arsitektur Jadul

Gambar diatas adalah arsitektur sekitar awal tahun 2000-an hingga kisaran 2007–2008. Sebuah produk misal: HLR, merupakan cluster yang terdiri dari 2 hardware dengan kapasitas tinggi dan memiliki interkoneksi untuk HA (High Availability), sehingga ketika salah satu server down maka akan diambil alih fungsinya oleh server yang kedua. Saya tidak bisa bilang bahwa produk tersebut adalah produk yang sempurna, banyak masalah akibat beragam faktor, salah satunya adalah platform kurang siang menghadapi arus trafik dari dunia telekomunikasi. Ada cukup banyak keterbatasan ‘general purpose computer’ ketika meng-handle traffik dari subscriber apalagi jika jumlahnya sudah jutaan per detik secara real-time, namun arsitektur produk ini adalah cikal bakal produk telekomunikasi berbasis softswitch saat ini dan juga masa yang akan datang. Perkembangan produk serupa oleh beragam vendor juga semakin baik, bahkan ada standarisasi hardware seperti ATCA yang merupakan open design untuk dunia telekomunikasi.

Salah satu jenis evolusi dari softswitch diatas adalah arsitektur berikut ini.

Arsitektur Modern

Lebih sederhana namun jauh lebih flexible. Sama halnya dengan perkembangan bidang lain dalam dunia IT (contoh: bigdata) maka produk telekomunikasi juga menggunakan distributed framework. Aplikasi bisa untuk apa saja, HLR, HSS, PCRF, dsb. Namun apapun aplikasinya, memiliki akses via API ke distributed framework. Dengan DAF maka masing-masing aplikasi dapat berkomunikasi dengan aplikasi lainnya secara internal. Berikut ini salah satu contohnya.

Bagi yang pernah atau sedang berkecimpung didunia development bidang IT gambar diatas bukan hal yang aneh. Request oleh suatu network element (NE) akan masuk dan diatur oleh IP Load Balancer. IP Load Balancer akan memilih ke server mana request akan diteruskan. Ketika sudah ditentukan maka suatu proses dispatcher akan menangkap request tersebut, dispatcher ini umumnya hanya melakukan proses validasi apakah request yang masuk sudah dalam format yang benar. Contoh, apabila request tersebut adalah untuk Gx interface, maka dispatcher Gx akan melakukan validasi paket yang masuk. Setelah melakukan validasi, akan diteruskan ke core process. Hal menarik adalah ketika core process tidak harus berada dalam server yang sama dengan dispatcher. Core process bisa berada pada server lain. Ketika core process selesai melaksanakan tugasnya, akan diteruskan ke context manager yang lagi-lagi ada diserver lain. Pada akhirnya, context dari suatu session akan disimpan oleh salah satu server.

Ketika ada request dari NE lain untuk melakukan update suatu context yang telah disimpan tadi, muncul pertanyaan bahkan dalam kelas training ini bagaimana caranya core process mengetahui letak context tersebut di server yang mana. Jika di suatu farm terdapat 20 server, berdasarkan gambar call flow aplikasi diatas tentu kita akan bertanya-tanya informasi context tersebut ditulis dimana? Disinilah letak peran DAF (Distributed Architecture Framework), applikasi cukup memanggil fungsi API dari DAF untuk mengetahui dimana letak context session yang diinginkan kemudian langsung menghubungi server tersebut untuk melakukan update session.

DAF itu sendiri merupakan layer yang berada dibawah aplikasi, sehingga pada umumnya ketika kita mempelajari aplikasi tidak akan ditunjukan secara detail, cukup diberikan informasi bahwa core process dapat melakukan update session yang berada pada server lain. Impementasi distributed framework ini bisa beragam, namun salah satu featurenya adalah clustered file system. Contoh penggunaan clustered filesystem ini didunia opensource juga banyak, salah satunya adalah platform Deis yang menggunakan ceph. Arsitektur ini jelas menunjukan evolusi perkembangan teknologi telekomunikasi yang semakin mirip dengan produk-produk dunia IT. Inilah hasil evolusi softswitch. Hanya tinggal beberapa tahun saja dari sekarang kita akan melihat implementasi core network dunia telekomunikasi menggunakan cloud (berdasarkan informasi rekan dari bulgaria, salah satu network operator disana sudah menggunakan cloud).

Bagi rekan-rekan yang bekerja pada dunia telekomunikasi khususnya bagian core mau tidak mau harus siap menerima perubahan teknologi tersebut, harus siap untuk update pengetahuan karena pada saatnya nanti persaingan akan jauh lebih berat. Kenapa? Karena orang-orang yang datang dari dunia IT sudah memiliki pengetahuan lebih tentang cloud, scripting, operating system linux, distributed framework, dsb. Walaupun untuk aplikasi seperti HLR, PCRF, IMS bukan aplikasi umum yang bisa dipelajari tanpa berhubungan langsung dengan dunia telekomunikasi namun bukan hal yang sulit karena sifatnya sudah sama dengan aplikasi IT lainnya. Untuk rekan-rekan dunia IT akan semakin mudah memasuki ataupun menggarap bisnis didunia telekomunikasi. Komponen-komponen dunia telekomunikasi sudah sama dengan dunia IT, banyak aplikasi-aplikasi baru yang dapat dikembangkan untuk menjadi ‘jembatan’ antara data-data dalam dunia telekomunikasi untuk dibawa keluar dan dianalisis demi kepentingan bisnis.

Sebagai ex-siemens (walaupun saat itu hanya pegawai kontrak, bukan permanen) saya termasuk bangga bisa melihat dan terlibat langsung dalam evolusi produk-produk siemens. Bahkan walaupun saat ini produk tersebut sudah menjadi milik perusahaan lain tempat saya bekerja saat ini, namun cikal bakal awal produk tetap bagian dari arsitektur awal siemens. Para developer siemens saat itu bisa melihat jauh kedepan seperti apa produk telekomunikasi dimasa yang akan datang. Hal yang sama juga dirasakan oleh rekan-rekan di Munich sini, and we missed that ‘good old days’ with siemens.

Note: sedikit rumor dari sang trainer, katanya siemens mulai kembali mengembangkan suatu produk untuk telekomunikasi. we’ll see… ☺

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s