Low-Tech Parenting

Sebenarnya sudah cukup lama ingin menulis tentang ini tapi belum sempat saja, kalaupun sempat sedang tidak mood (alesan :p). Nah, barusan baca artikel ini, inti dari artikel tersebut adalah high-tech executive yang membuat produk-produk high-tech justru membatasi atau bahkan melarang anggota keluarga mereka terutama anak-anaknya untuk menyentuh produk tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka, fakta ini cukup aneh padahal kita seharusnya berpendapat bahwa dirumahnya steve jobs justru penuh dengan perangkat high-tech bukan?

Sebagai orang tua, saya dan istri telah memutuskan untuk tidak memberikan akses gadget sama sekali kepada anak-anak kami sejak 2013 silam. Saya termasuk pengadopsi awal smartphone model iPhone, pertama kali pakai tahun 2008 di Tanzania. Saat itu masih jamannya orang-orang menggunakan produk Nokia / Ericsson, dan Blackberry. Android belum ada. Ketika itu aplikasi iPhone juga masih sedikit, tapi saya lihat produk tersebut akan sangat berguna salah satunya untuk pendidikan anak. Ketika anak pertama kami saat itu mulai menginjak umur satu tahun lebih, saya mulai perkenalkan dengan iPhone. Beberapa aplikasi sederhana sudah mulai bisa digunakan untuk media pendidikan seperti belajar abjad dan angka.

Beberapa tahun kemudian produk apple booming diseluruh dunia. Terutama setelah pindah ke Qatar dimana setiap orang berpenghasilan jauh diatas rata-rata sehingga setiap rumah mampu membeli produk-produk high-tech semacam iPhone dan android dengan mudah. Dijalanan hampir setiap anak terlihat menenteng gadget, dan tentunya aplikasi dan internet sangat mudah masuk kedalam kehidupan anak-anak. Banyak yang menyebutkan link youtube ataupun aplikasi tertentu dapat membantu proses pendidikan anak-anak.

Tahun 2012, usia anak pertama saya menginjak 4 tahun, dan anak kedua menginjak 2 tahun. Ada hal yang membuat saya sering merenung melihat tingkah laku anak-anak kami saat itu. Mereka sangat fokus pada gadget, terutama anak kedua kami. Bangun tidur langsung yang ditanya pertama adalah mana iPad-nya, dan jika tidak diberikan akan nangis dan marah-marah merengek hingga diberikan. Anak pertama pun demikian, namun mungkin karena usianya sudah lebih tua jadi bisa diberitahu walaupun kadang harus dengan dimarahin. Namun anak kedua yang baru 2 tahun benar-benar susah untuk diberitahu.

Saat itu saya dan istri mulai berdiskusi untuk menerapkan strategi, yaitu dengan cara dikurangi. Untuk anak pertama lagi-lagi lebih mudah, namun untuk adiknya hal tersebut ternyata tidak mungkin untuk dilakukan. Tentu saja susah karena usianya masih sangat kecil dan belum bisa diajak untuk berpikir. Hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk menarik gadget-gadget tersebut dari jangkauan mereka. Semua iPad disimpan, aplikasi game-game termasuk yang biasa saya mainkan di iPhone milik saya terpaksa dihapus semua. Game dan aplikasi-aplikasi anak di android istri saya pun dihapus semua. iPhone saya kunci dengan rapat, dan walaupun beberapa kali kecolongan tapi setiap kali anak saya memegang iPhone (kebetulan anak pertama cukup cerdik, dia selalu bisa ngintip password iPhone saya :p) dengan sigap saya ambil dengan beragam alasan halus untuk mematikan wifinya. Karena terkadang walaupun tidak ada aplikasinya mereka bisa buka internet browser dan tiba-tiba sudah nonton youtube.

Awalnya susah, seinget saya 1-2 minggu awal sangat berat apalagi bagi anak kedua kami, dia protes sekeras-kerasnya, bahkan sampai memukul-mukul bundanya sebagai bentuk protes. Tingkat kecanduannya saat itu sebagai anak umur 2 tahun memang sudah sangat mengkuatirkan, namun kami tetap bertahan. Oh iya, saat itu TV pun kami batasi. Nonton acara TV kartun yang biasanya setiap hari mereka tonton hanya boleh saat weekend (jumat-sabtu), hal tersebut disebabkan kakaknya yang sudah bersekolah di Kindergarten susah untuk konsentrasi terutama saat belajar dimalam hari. Strategi ini kadang membuat saya dan istri sedih juga karena kasihan terutama ketika menghadiri acara kumpul-kumpul dengan teman di Qatar, semua teman-teman mereka dengan asiknya bermain gadget dan anak-anak kami suka merengek ingin ikutan main. Mungkin mereka berpikir anak-anak tersebut sangat beruntung bisa memiliki dan bermain gadget sedangkan mereka hanya bisa melihat keasikan teman-teman nya.

Tapi, usaha kami tidak sia-sia. Jasmine dan Rasya awalnya dulu tidak akrab, sering berantem. Sang kakak tidak mau bermain dengan adiknya. Mereka lebih suka dengan kegiatan masing-masing seperti nonton TV dan main gadget. Namun setelah mereka jauh dari gadget, mereka mulai coba bermain bersama-sama. Apapun mereka mainkan, mulai dari main dokter-dokteran, masak-masakan, main mobil-mobilan, dsb. Kami sebagai orang tua bisa melihat langsung bahwa interaksi sosial mereka semakin bertambah baik, dan hubungan mereka dengan kami pun semakin solid. Bahkan sang adik pada akhirnya menjadi manja sekali dengan kakaknya, dan paling bahagia ketika bermain dengan kakaknya. Mereka juga jadi jauh lebih kreatif dari sebelumnya dan saya lihat perkembangan psikologis mereka jauh lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja kadang mereka berantem, dan kami juga sering memarahi mereka. Tapi hal tersebut tidak pernah menjadi penghalang bagi mereka untuk kembali akrab. Bahkan ketika berada diluar rumah seperti berjalan-jalan di Mall mereka tetap asik bermain lari-larian, ataupun ketika berada didalam mobil kami lebih banyak habiskan waktu dengan saling mengobrol dan bercanda. Mereka juga sudah tidak pernah lagi merasa iri dengan temannya yang bermain gadget, memang ada keinginan untuk pinjam mainan teman nya yang saya rasa masih dalam taraf wajar, namun setelah kembali ke rumah mereka tidak pernah lagi merengek dan mempertanyakan kenapa mereka gak punya gadget. Dan lucunya, kadang mereka jadi suka heran melihat teman-temannya yang hobi bermain gadget ketika berkumpul sehingga tidak mau diajak main seperti lari-larian, alhasil sang kakak dan adik saja yang bermain bersama-sama lagi. Saya juga kadang memberikan test berupa akses nonton youtube di laptop untuk menonton acara anak kecil, tapi setelah menonton youtube itu pun mereka menjadi biasa saja dan kemudian pada akhirnya mereka lebih suka menghabiskan waktu bermain aktivitas yang lain secara bersama-sama.

The point is, bahkan untuk orang dewasa sekalipun gadget adalah ‘racun’ yang sangat berbahaya. Kita sering lihat di facebook, beberapa kali dishare link yang mensosialisasikan bahwa gadget sangat berbahaya karena membuat interaksi sesama manusia berkurang dengan drastis.

Itu baru satu masalah, ada banyak masalah lain sebagai akibat dari teknologi bagi manusia dewasa, apalagi bagi anak-anak.

Mungkin banyak yang berpikir “ah, itu kan tergantung bagaimana kita membatasi penggunaan gadget-gadget tersebut terutama buat anak-anak kita”, well…that might be true. Tapi bagi saya yang sudah bertahun-tahun menjadi istilahnya ‘Nerd’ atau ‘Autis’ karena lebih suka menghabiskan waktu lebih banyak didepan komputer, begitu juga dengan teman-teman saya yang lain, cukup heran dengan situasi saat ini dimana dulu orang-orang ‘autis’ itu hanya untuk lingkungan tertentu seperti komunitas hacker ataupun tech-savvy, namun saat ini sepertinya seluruh dunia berubah menjadi seperti kami. Orang-orang dewasa dan anak-anak ketika berkumpul fokus dan sibuk dengan gadget masing-masing, kalaupun ada kontak sosial mungkin tidak sebanyak orang-orang ‘normal’ jaman dahulu.

Saya sudah bertahun-tahun kena ‘penyakit’ akut hobi duduk menyendiri depan laptop serta anti-sosial, dan sebenarnya sering berpikir bahwa ini bukanlah kehidupan yang sehat, itu sebabnya dengan kesadaran penuh saya tidak ingin hal yang sama terjadi pada anak-anak saya. Mungkin, mungkin loh ya, itu juga yang ada dikepala para punggawa teknologi seperti steve jobs dan yang lainnya, mereka sadar bahayanya produk-produk high-tech tersebut bagi kehidupan manusia karena telah mengalaminya sendiri sehingga mereka berusaha menjauhkan produk-produk tersebut dari keluarga yang mereka cintai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s