2 Weeks Project, Is That Possible?!

Saat mengikuti training project management profesional (PMP) sang trainer menunjukan bagaimana salah satu perusahaan konstruksi di China mengerjakan proyek pembangunan hotel 30 lantai hanya dalam waktu 15 hari (kurang lebih 2 minggu). Hotel tersebut juga hasilnya tidak sembarangan, memiliki kualitas dan standar tinggi. Berikut ini cuplikan youtubenya mengenai perkembangan hotel tersebut setiap hari selama 2 minggu, dan beritanya bisa dilihat disini.

Mungkin orang-orang akan kaget, hebat sekali bisa membangun hotel setinggi itu dan berkualitas tinggi hanya dalam waktu 2 minggu. Namun pada kenyataannya 2 minggu itu adalah tahap eksekusi. Berdasarkan PMBOK, ada 5 project management process groups, initiating, planning, executing, monitoring & control, serta closing. Nah, berapa lama tahap planning pengerjaan hotel tersebut? trainer saya menyebutkan tahap planning hotel tersebut membutuhkan waktu 2 tahun. Jika melihat isi berita dengan jelas disebutkan ‘using prefabricated modules’, berapa lama membuat prefabricated modules tersebut, tentunya lebih dari 2 minggu.

Kita sering mendengar istilah, gagal dalam merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Saya sendiri selalu menerapkan konsep PMBOK tersebut dalam setiap project yang dikerjakan, 2 tahap sebelum eksekusi adalah tahap yang luar biasa penting, katakanlah dalam proyek upgrade suatu sistem. Sebelum eksekusi di live system maka dibutuhkan planning yang bahkan lebih lama daripada tahap eksekusi di live system. Jika eksekusi upgrade di live system memakan waktu 2 minggu, maka persiapannya bisa sampai satu bulan. Dalam waktu satu bulan tersebut biasanya ditemukan banyak sekali kegagalan terutama ketika dilakukan test dalam ruang lingkup testbed system, banyak sekali. Dan untuk setiap kegagalan harus melalui proses troubleshooting satu persatu yang juga melibatkan pihak lain. Hingga pada akhirnya bisa dirumuskan suatu prosedur yang tepat untuk implementasi di live system milik customer. Ketika segala sesuatunya siap maka saya bisa mengatakan proses telah siap 90% untuk memasuki tahap eksekusi di live system. Kenapa hanya 90%? karena kita hanya manusia biasa, ada prosentase 10% yang mungkin menyebabkan kegagalan saat tahap eksekusi dan diluar perhitungan. Ketika proses upgrade berjalan dengan mulus banyak yang melihat keberhasilan tersebut tanpa memahami proses sebelumnya, dan berpikir bahwa proyek tersebut adalah proyek yang mudah serta bisa selesai dalam waktu 2 minggu 🙂

Sekarang jika kita menuju pada topik hangat belakangan mengenai pro dan kontra 2 minggu penyelesaian proyek e-Gov, saya yakin sekali hal tersebut mungkin untuk diimplementasikan. Sekali lagi, di implementasikan / eksekusi. Saya melihat saat ini akibat omongan salah satu capres mengenai tenggat waktu 2 minggu membuat para praktisi pro dan kontra. Yang pertama mengatakan hal tersebut mungkin, yang kedua mengatakan terlalu mengada-ngada. Yang mengatakan mungkin biasa disebut sebagai fans fanatik, yang mengatakan tidak mungkin disebut sebagai haters (katanya).

Saya pribadi melihat dari luar, berusaha untuk tidak masuk dalam pusaran fanatik / haters. Mungkin saya salah, namun sejauh ini saya melihat yang mengatakan mungkin adalah para implementator, para eksekutor dilapangan, mereka yang biasa mengerjakan project dalam skala lebih kecil, ataupun proyek jebrat-jebret asal selesai. Bagi mereka yang mengatakan tidak mungkin melihat suatu project skala besar end-to-end, dari awal hingga akhir. Biasa terlibat dalam proyek skala besar dengan resiko tinggi sehingga memperhitungkan lebih banyak hal. Mereka yang mengatakan ‘terlalu mengada-ngada’ bisa saja mengatakan ‘mungkin’, namun tentunya mereka akan menambahkan dengan catatan hasil proyek tidak akan maksimal atau tidak berkualitas tinggi. Jika kita kembali pada proyek pembangunan konstruksi China diatas, hasil akhir adalah bukan bangunan hotel asal jadi namun hotel yang memiliki standard tingkat tinggi. Untuk menghasilkan produk dengan hasil standard tingkat tinggi tentunya memerlukan tahapan yang saya yakin lebih dari 2 minggu.

Ambil contoh lain proyek pembuatan e-Commerce, bisa saja makan waktu kurang dari 2 minggu, bahkan dalam waktu 2 hari bisa selesai, menggunakan template semacam wordpress yang sudah tersedia. Namun sejauh mana kualitas dari produk tersebut? berapa lama waktu yang digunakan sebelum menentukan template / engine mana yang hendak digunakan, market seperti apa yang akan menjadi target, berapa lama waktu yang digunakan untuk mempelajari target konsumen, bagaimana infrastruktur yang akan digunakan, dsb. Jika jawabannya sama dengan waktu implementasi, 2 hari, maka good luck with your product, bisa jadi tidak laku atau harus kembali membuat perubahan ini itu setelah berjalan yang tentunya membutuhkan biaya tambahan.

Proyek jebrat-jebret tanpa proses planning yang matang juga banyak terjadi, proyek selesai, serah terima selesai dilakukan, tapi ternyata banyak kekurangan dan membuat orang-orang operasional jengkel serta berdarah-darah karena harus menjaga sistem yang sejak awal sudah rusak. Bug (kesalahan dalam pembuatan program) dimana-mana, masalah ini itu, kualitas jauh dibawah standar, pada akhirnya membuat biaya operasional membengkak. Pada proyek upgrade yang saya contohkan diatas pun umum terjadi, proyek dikerjakan tanpa proses planning yang matang pada akhirnya malah menimbulkan masalah lain, tambal satu sisi bocor disisi lain.

Yang pasti, sebenarnya tidak perlu meributkan kata-kata sang capres. Memang disatu sisi, ada banyak sekali orang-orang di Indonesia yang memiliki kemampuan luar biasa. Kita sering mendengar bahwa orang-orang tersebut banyak yang merasa tidak cocok tinggal di Indonesia karena kemampuan mereka disia-siakan terutama ketika berhubungan dengan pemerintah, mampu menyelesaikan proyek dalam waktu 2 minggu, satu bulan, 3 bulan, namun ketika berhubungan dengan pemerintah selama ini proyek tersebut akhirnya mangkrak menjadi 5 tahun, atau tidak berhasil dieksekusi karena urusan seperti birokrasi, politik, korupsi dan sebagainya.

Namun disisi lain, seorang calon pemimpin tidak boleh menggampangkan / meremehkan suatu masalah. Indonesia memang butuh pemimpin tipe ‘eksekusi’, tidak perlu berteori lama-lama, percayakan sepenuhnya kepada tim ahli dan segera memimpin eksekusi serta memastikan hasil eksekusi tersebut sesuai target. Indonesia saat ini memang mengalami krisis pemimpin model seperti ini. Namun masyarakat Indonesia juga tidak semuanya bodoh, tidak semuanya buta, mereka bukan termasuk haters yang main perasaan namun menggunakan logika. Mereka melihat track record seorang calon pemimpin, apakah orang tersebut termasuk tipe calon pemimpin yang memang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini, tipe ‘eksekusi’ yang sudah terbukti track recordnya, atau hanyalah seorang calon yang jeli melihat kebutuhan pemimpin rakyat Indonesia sehingga dengan lihainya mengeksploitasi krisis kepemimpinan tersebut dengan tujuan pencitraan?!

Ketika calon pemimpin mengatakan untuk proyek pemerintahan bersakala nasional bisa selesai dalam waktu 2 minggu, setidaknya beliau sudah harus memiliki track record mampu memimpin penyelesaian proyek 1 tingkat dibawah skala tersebut dalam kurun waktu yang kurang lebih sama. Namun jika track record prestasinya belum ada, terlebih lagi belum berhasil membuktikan mampu menyelesaikan kepemimpinan di wilayah dalam skala lebih kecil sedikit dibandingkan skala nasional dengan ragam kompleksitasnya, tiba-tiba mengatakan mampu, maka wajar saja jika kemudian banyak para profesional yang mempertanyakan kata-katanya.

Advertisements

One thought on “2 Weeks Project, Is That Possible?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s