Devide et Impera di Era Modern

Entah siapa yang menciptakan sistem demokrasi di Indonesia pasca reformasi. Setiap partai hanya akan menjadi salesman, ketika pesta usai dan hasil keluar maka setiap partai bisa dengan bebas memutuskan dengan siapa akan bersatu. Rakyat mempercayakan pilihannya karena melihat visi dan misi dari partai, namun harus selalu menerima kenyataan pahit ketika partai harus berkongsi dan bisa dipastikan hasil kongsi tidak selalu bisa sejalan dengan visi dan misi awal partai. Apakah rakyat yang dengan sukacita memilih tidak berpikir telah dikhianati?! Apakah sejak awal rakyat tidak mampu berpikir dan menebak apa yang akan terjadi jika suara partainya kalah?!

Katakanlah sang salesman berkata “untuk itulah, agar tidak kalah suara maka kalian harus memilih kita sebanyak-banyaknya, agar kita kuat di pemerintahan, menjadi penguasa di pemerintahan sehingga tidak harus kongsi”, mungkin ini yang dijadikan bahan tipu muslihat para kader partai untuk meraup suara sebanyak-banyaknya. Tanpa memberikan strategi pilihan secara transparan, apa yang akan terjadi apabila tidak meraih cukup suara. Namun apa daya, baru beberapa hari pemilu legislatif usai dan hasil quick count keluar sudah ada kabar semacam ini. Se-suci itukah orang-orang partai sehingga mereka bisa dengan seenak udelnya menentukan akan berkoalisi dengan pihak mana. Apabila sejak awal mereka sudah mengatakan akan berkoalisi dengan suatu pihak apabila suara hasil pemilu tidak signifikan tentunya rakyat tidak perlu merasa tertipu mentah-mentah, rakyat sudah setuju sejak awal karena opsi yang diberikan partai sudah transparan. Atau mungkin orang partai berpikir bahwa rakyat pemilih adalah orang-orang tolol yang tidak perlu memikirkan langkah yang akan diambil oleh partai dalam pilihannya berkoalisi?atau mungkin rakyatnya itu sendiri yang sedari awal sudah ‘pasrah’ dan menyatakan bahwa orang-orang partai adalah orang-orang jenius sehingga apapun pilihan mereka adalah pilihan yang terbaik juga untuk kita sebagai rakyat pemilih?! Non Sense. Meminjam kata-kata yang digunakan oleh salah seorang rekan di akun facebooknya, koalisi adalah untuk kepentingan partai.

Mengapa saya mempertanyakan sistem demokrasi yang sejak awal sudah ‘vulnerable’?dilihat dari sudut pandang logika, semakin banyak partai yang bersaing maka suara rakyat akan semakin terpecah belah. Total suara jika dibagi 3 partai maka dalam kondisi seimbang setidaknya akan tercipta 33.3% kekuatan, namun apa jadinya jika dibagi angka yang lebih besar? tentunya kekuatan tersebut akan terpecah belah menjadi jauh lebih kecil lagi. Dan kekuatan-kekuatan kecil tersebut dalam suatu ekosistem tidak akan memiliki kekuatan yang signifikan untuk membawa maju ekosistem pada arah yang sama, setiap kekuatan akan saling tarik menarik menuju arah yang berbeda-beda sehingga tidak jelas kemana arah tujuannya.

Koalisi kekuatan tentu tidak mudah. Kita bisa melihat apa hasil koalisi sejak orde reformasi. Nihil. Kekuatan-kekuatan kecil tersebut sejak awal sudah memiliki kepentingan masing-masing, memiliki ‘hutang’ masing-masing yang harus segera dilunasi. Sehingga masing-masing kekuatan akan kembali berusaha tarik-menarik dalam kelompok koalisi sehingga masalah yang sama kembali terjadi: arah dan tujuan koalisi menjadi tidak jelas.

Siapapun yang menghendaki Indonesia tidak menjadi bangsa yang besar tentu telah membaca dengan detail histori / sejarah rakyat Indonesia sejak jaman penjajahan belanda dulu. Gampang dipecah belah. Sistem politik yang berlaku saat ini sangat ideal untuk memecah belah rakyat Indonesia menjadi kelompok-kelompok kecil dengan kekuatan yang sangat minim, sehingga sampai kapanpun jika sistem yang berjalan masih tetap seperti ini bangsa Indonesia tidak akan pernah menjadi bangsa yang besar dimata dunia.

Boleh saja suatu pihak menciptakan calon raja baru dengan harapan munculnya satu kekuatan baru untuk Indonesia melalui modal yang sangat besar. Namun sistem demokrasi yang vulnerable dapat menciptakan anti-raja-baru effect dan menyebarkan paham tersebut kesetiap kekuatan-kekuatan kecil yang tersebar diseluruh Indonesia. Hasilnya bisa kita lihat saat ini, Indonesia tidak memiliki kekuatan parlemen yang signifikan sehingga hasil pemilu legislatif tidak akan membawa pengaruh apapun.

Lain soal jika hanya ada 2 partai pilihan: menang akan menjadi jaminan program partai berjalan di pemerintahan, kalah tentunya harus mengikuti program sang pemenang secara legowo. Berkaca pada negara maju yang memiliki cakupan luas wilayah besar dengan jumlah penduduk yang juga besar, berapa banyak pilihan partai politik mereka untuk duduk menjadi wakil rakyat di pemerintahan?! Cuma 2?!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s