Internet Startup in Qatar

Ini adalah post pertama saya mengenai startup. Beberapa bulan terakhir saya melakukan market research untuk wilayah Qatar. Intinya saya memiliki pandangan bahwa Qatar memiliki market yang sangat potensial bagi startup di bidang internet. Mengapa demikian?

Untuk mempermudah summary bisa melihat artikel yang ditulis oleh dohanews pada link berikut ini.

At 88.1 percent, Qatar ranked first in the developing world in terms of percentage of individuals using the internet, and second only to the Republic of Korea (97 percent) for percentage of households with internet, according to the UN Broadband Commission’s State of Broadband Report 2013.

Full report bisa langsung dibaca pada link tersebut.

Benarkah hampir 90% masyarakat di Qatar pengguna aktif internet?benar. Qatar adalah suatu negara dengan jumlah expatriate jauh lebih banyak dibandingkan orang lokalnya. Negara kaya raya ini mampu membayar para expatriate dengan pendapatan rata-rata 3-5 kali lipat pendapatan yang biasa mereka dapatkan di negara asalnya pada bidang yang sama. Qatar berusaha menyediakan infrastruktur yang sangat baik bagi para expatriate tersebut salah satunya internet. Sejak tahun lalu ooredoo Qatar melakukan instalasi broadband network dengan fiber optic ke rumah-rumah yang speed defaultnya adalah 1 Mbps, dan setiap orang bisa upgrade dengan mudah ke 10 Mbps. Diluar rumah, ooredoo Qatar sudah mulai melakukan komersialisasi jaringan LTE / 4G, dan beberapa saat lagi sudah siap dengan feature CSFB. Artinya setiap orang tetap bisa memiliki kesempatan mengakses internet berkecepatan sangat tinggi diluar rumah seperti taman, dijalan ketika macet, dsb. Apakah penetrasi gadget untuk mengakses internet tersebut besar di Qatar?tentu saja. Jual beli gadget seperti iPad, smartphone sudah seperti kacang goreng. Bisa ditemukan dengan mudah dijalan-jalan orang dengan ragam profesi menenteng gadget canggih seperti berlambang apple maupun android. Mereka dapat dengan mudah menggunakan skype, melihat youtube, membuka facebook, dlsb. Dan gadget-gadget mahal tersebut bukan saja dinikmati oleh orang dewasa, sudah menjadi pemandangan umum di Qatar bahwa anak-anak kecil membawa iPad / gadget canggih diluar rumah.

Dengan infrastruktur yang bagus serta kemampuan daya beli masyarakat untuk gadget canggih sayangnya tidak di ikuti dengan perkembangan local internet apps. Situs lokal yang paling populer misalnya, qatarliving, dibuat apa adanya dan cenderung sulit untuk ‘memuaskan’ kebutuhan masyarakat di Qatar. Contentnya sebetulnya sangat bagus, dan merupakan situs pertama yang akan disarankan setiap orang di Qatar kepada pendatang baru untuk mencari ragam informasi mengenai Qatar. Kurangnya situs lokal di Qatar bisa dimaklumi karena orang-orang yang datang ke Qatar umumnya adalah ‘pekerja’, kalaupun ada situs seperti qatarliving dibangun oleh individual ataupun group yang mengerti tentang web apps dan berusaha memenuhi kebutuhan komunitas expatriate di Qatar. Walaupun sederhana, tapi hitsnya bisa sangat tinggi karena memang dibutuhkan oleh masyarakat Qatar. Mengacu pada advertisement link mereka, disebutkan bahwa monthly mereka mendapatkan page view sebanyak 20 juta. Dan saat ini merupakan satu-satunya situs lokal yang masuk peringkat 10 besar situs paling banyak diakses di Qatar (QL sendiri progressnya cukup cepat, dengan potensi saat ini dalam beberapa bulan bisa menduduki peringkat pertama, saat tulisan ini dibuat menduduki peringkat 7).

Dohanews merupakan salah satu startup yang menurut saya cukup menarik. Dimulai oleh beberapa founder berpengalaman dibidang mainstream journalism  untuk memulai sebuah startup berbentuk blog dengan filosofi citizen journalism. Memanfaatkan media seperti twitter untuk mendapatkan update berita mengenai ragam hal yang terjadi di Qatar. Beberapa hari yang lalu dohanews melakukan meet up, rangkumannya bisa dilihat dari link ini. Sebagai startup mereka terus berkembang dan digarap dengan serius, mereka memanfaatkan bantuan komunitas untuk berkembang seperti development mobile apps untuk android dan iOS. Sama seperti qatarliving, dohanews juga mengandalkan iklan sebagai revenue utama. Setidaknya dari buysellads, dohanews memiliki 275k impressions dengan harga 15 usd per 1k.

Tentu saja sebuah internet startup membutuhkan return of investment. Jika qatarliving sifatnya adalah community based yang kemudian berubah menjadi produk penghasil uang akibat secara historis merupakan situs pertama yang menaungi kebutuhan kumpul-kumpulnya para expatriate di Qatar untuk ragam informasi mengenai Qatar, maka dohanews sejak awal merupakan startup yang secara khusus mentargetkan return of investment melalui iklan. Setidaknya dari apa yang saya tangkap ketika meetup mereka yang terakhir, tim dohanews cukup bingung bagaimana memonetisasi traffic yang datang melalui apps smartphone, aplikasi mereka saat ini yang berjalan di android pun belum memiliki space untuk iklan. Tentunya keberadaan aplikasi smartphone ini akan memangkas pageviews di situs mereka yang mengakibatkan turunya revenue.

Dari kedua contoh produk web diatas menunjukan bahwa revenue utama adalah iklan (apalagi jika merujuk pada situs seperti qatarsale.com yang space iklannya luar biasa besar), hal ini disebabkan karena mendapatkan revenue melalui bisnis di Qatar itu sendiri cukup sulit. Tentunya ada ragam business model yang bisa diterapkan untuk startup berbasis web apps ataupun smart phone dengan client pemilik business yang ada di Qatar itu sendiri, Qatar memiliki banyak sekali retailer dengan brand international dan penduduknya tentu saja memiliki kemampuan untuk menikmati brand-brand ternama tersebut, namun selain adanya jargon ‘gak di iklankan saja retailer-retailer tersebut sudah diborong / dipenuhi tempatnya oleh penduduk Qatar terutama setiap weekend’, untuk memonetisasi dari business yang ada di Qatar maka diwajibkan memiliki CR (Company Registration). Disinilah letak permasalahan utamanya, bisa dilihat dari rangkuman berita ini mengenai betapa sulitnya mendapatkan sebuah CR di Qatar.

Dengan kesulitan utama tersebut maka ‘low hanging fruit’ bagi startup internet di Qatar adalah menggunakan ads via publishers, walaupun seringkali ads yang ditampilkan kurang tepat sasaran namun setidaknya ada faktor bahwa traffic belanja via internet warga Qatar cukup tinggi, lagi-lagi karena daya beli masyarakat Qatar yang tinggi serta akses mudah delivery seperti via aramex sehingga ads yang pada akhirnya bisa menuntun masyarakat untuk membeli suatu produk via online bernilai cukup potensial jika ditampilkan disini.

Sebenarnya saya ingin menceritakan juga strategi apa saja sebenarnya yang bisa digunakan oleh startup internet disini, namun karena saat ini masih dalam tahap premature serta adanya kepentingan lain maka sebaiknya disimpan saja untuk kesempatan corat-coret berikutnya :).

Yang pasti, bagi developer ataupun investor sebenarnya kondisi di Qatar sangat potensial untuk ditelusuri lebih jauh. Situs-situs dengan hits tinggi saat ini ‘hanya’ berbasis CMS, hal tersebut menunjukan bahwa content berperan sangat tinggi disini. Tentunya apabila digarap dengan lebih baik terutama dalam sisi produk maka besar kemungkinan potensi pasar yang ada dapat terakomodasi lebih baik lagi serta revenue yang menggiurkan, apalagi saat ini kompetisi bisa dibilang sangat kecil dan belum terjadi ‘bubble’ dalam hal e-product. Beberapa bulan yang lalu ada perwakilan dari telkom indonesia datang ke Qatar dalam rangka mencari business opportunity, suatu program yang menurut saya sangat bagus. Perihal opportunity yang saya tulis saat ini sempat saya lontarkan kepada mereka, apalagi kemudian saya tahu bahwa telkom memiliki program inkubator, dengan kemampuan developer-developer Indonesia yang saat ini banyak mentargetkan pasar di Indonesia mungkin inkubator seperti telkom bisa mewadahi kemampuan teknikal para developer tersebut untuk menjajaki pasar internasional seperti Qatar. Saya kurang tahu bagaimana kelanjutannya, yang pasti saya bisa melihat bahwa beberapa pihak saat ini mulai melihat potensi pasar di Qatar serta pemanfaatan teknologi dengan munculnya ragam aplikasi terutama berbasis smartphone untuk wilayah Qatar.

Apps dohanews untuk iOS dan android dibangun menggunakan appcelerator, Indonesia saat ini memiliki banyak developer yang jago membuat apps via native, seharusnya tinggal pasang strategi saja bagaimana caranya mencari business opportunity di negara-negara seperti Qatar layaknya yang dilakukan oleh telkom indonesia. Bukan begitu, bukan?! 🙂

Advertisements

One thought on “Internet Startup in Qatar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s