Membawa Anak Kecil ke Masjid

Ketika selesai shalat maghrib di masjid compound, seorang anak muda berpakaian ketat khas fitnes menegur saya karena membawa rasya ke masjid. Rasya umurnya baru 2 tahun lebih 4 bulan, dan setiap kali diajak ke masjid memang masih belum bisa diminta untuk diam mengikuti gerakan shalat, alhasil dia lebih sering berkeliaran dan seringkali malah duduk ke pangkuan saya atau bahkan naik keatas punggung ketika saya sujud. Setelah salam, anak muda tersebut memberitahu saya bahwa ketika saya shalat itu berarti saya berhadapan dengan Allah, jadi anak saya yang duduk dipangkuan berarti menggangu hubungan saya dengan Allah ketika shalat.

Seketika saya sadar, oh…ini lagu lama yang seringkali saya dengar dari istri. Istri saya suka kuatir membawa anak-anak ketika shalat di masjid Qatar (biasanya mampir masjid ketika sedang jalan-jalan) karena katanya pernah dimarahi oleh ibu-ibu arab akibat anaknya berisik / mengganggu dalam shalat. Saya mungkin cenderung untuk setuju apabila seorang anak belum siap maka sebaiknya tidak usah diajak, tapi pada suatu ketika saya mendengar khotbah imam shalat jumat di Aspire yang mengatakan untuk membawa anak terutama laki-laki ke masjid sehingga dia akan terbiasa dengan lingkungan masjid sejak masih kecil. Tidak perlu takut anak-anak membuat keributan karena dengan begitu mereka akan belajar dari melihat secara langsung kegiatan shalat berjamaah, dan ingatan tersebut insya allah akan terbawa hingga ketika anak tersebut tumbuh dewasa. Sejak mendengar khutbah itu, saya tidak pernah ragu membawa anak kedua saya yang laki-laki shalat di masjid. Tentunya bukan berarti dibiarkan begitu saja, saya minta dia untuk mengikuti gerakan shalat secara bersama-sama dan semaksimal mungkin memisahkan dia dengan kakaknya ketika di masjid karena saya tau apabila mereka disatukan tentu akan membuat keributan. Setidaknya diusahakan agar tidak mengganggu ke-khusyukan orang lain, kebetulan kakaknya perempuan sehingga mudah saja memisahkan mereka dengan mengatakan sang kakak tidak seharusnya ikut saya yang laki-laki untuk shalat bersama.

Kembali kepada diskusi singkat di masjid tadi, saya mengatakan bahwa ini adalah keyakinan saya bahwa pentingnya memperkenalkan seorang anak kecil pada shalat berjamaah. Anak muda arab tersebut masih tetap dengan pendiriannya, dia mengatakan anak tersebut tidak bagus karena akan mengganggu dan ini ada dihadapan Allah. Ketika istri saya kuatir membawa anak, saya sering mengatakan jangan takut pada ibu-ibu arab tersebut dan katakan bahwa kita meyakini bahwa membawa anak kecil ke masjid adalah hal yang baik dan tidak melanggar ajaran agama. Terhadap anak muda tersebut saya mengatakan demikian, saya mengekspresikan keyakinan saya bahwa ini adalah hal yang benar menurut saya dan sesuai anjuran imam yang kemudian saya yakin sebagai sesuatu yang tidak salah. Toh yang sering diganggu oleh rasya adalah saya sendiri, dia tidak pernah ‘menggelantungi’ orang lain. Bukan orang arab klo tidak hobi debat mulut, tapi saya tetap pada pendirian saya.

Selanjutnya saya mengatakan bahwa sebenarnya saya juga ingin mengekspresikan bahwa ada sesuatu yang sebaiknya diperhatikan oleh anak muda tersebut ketika shalat. Saya katakan bahwa pakaian yang dia gunakan tidak sopan, saya katakan tentunya ketika dia ingin berhadapan dengan bos di tempat bekerja ataupun dengan katakanlah raja Qatar tentunya dia akan berusaha menggunakan pakaian yang formal dan terbaik, tapi kenapa ketika berhadapan dengan Allah menggunakan pakaian seadanya dan bahkan ketat seperti itu. Saya tidak memberikan dia kesempatan untuk mendebat, saya cukup mengatakan bahwa keyakinan saya ketika shalat adalah menggunakan pakaian yang baik tapi toh saya tidak memaksakan keyakinan tersebut kepada anak muda tersebut. Jadi ini adalah keyakinan saya dan menurut saya memperkenalkan shalat berjamaah di masjid kepada anak laki-laki yang masih kecil adalah sesuatu yang baik, saya harap dia tidak perlu memaksakan keyakinannya bahwa itu bukan sesuatu yang baik kepada saya.

Anak muda tersebut kemudian terdiam dan mengakhiri diskusi singkat kami.

Sebelumnya saya pernah menuliskan bahwa orang arab biasa dengan bebas menyampaikan isi pikirannya, dan bagi saya itu adalah sesuatu yang bagus. Sayangnya banyak sekali orang Indonesia yang ketika melihat hal  tersebut malah jadi ketakutan, atau merasa tersinggung, atau malah diam tapi dalam hati ngedumel. Sekali-kali perlu kok kita meninggalkan budaya Indonesia dan buang rasa takut, ekspresikan apa yang ada dalam pikiran kita dan lakukan ‘brainstorming’ dengan cara yang baik. Perlu diperhatikan, dengan cara yang baik. Karena sering juga saya dengar dan perhatikan dari ragam kasus orang Indonesia karena merasa tersinggung akhirnya membalas dengan cara yang kurang baik seperti menggunakan kata-kata yang keras ataupun kasar akibat terbawa emosi, pada akhirnya orang Arab yang membuat marah orang Indonesia tersebut malah terkejut karena kenapa tiba-tiba jadi marah padahal dia cuma menyampaikan pendapatnya, alhasil orang arab tersebut mengatakan bahwa orang Indonesia arrogant. Dalam kasus diskusi di masjid ini, toh kalaupun anak muda tersebut mampu merubah pendirian saya sehingga ketika mendengarkan alasannya untuk tidak membawa anak kecil ke masjid maka saya akan manggut-manggut dan mengucapkan terima kasih, hanya saja saya tahu bahwa disebutkan Rasulullah pernah melaksanakan shalat serta sujud lama sekali, ternyata ketika itu ada anak cucu beliau yang naik keatas punggungnya dan beliau membiarkan hingga turun barulah berangkat dari sujud. Jadi kalau alasan anak muda tersebut karena akan mengganggu hubungan saya dengan Allah ketika shalat, secara pribadi saya belum bisa menerima alasan tersebut.

Bagaimana dengan pendapat yang lain? kira-kira apa saja hukum serta aturannya membawa anak kecil shalat berjamaah di masjid? 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Membawa Anak Kecil ke Masjid

  1. Yang disampaikan benar, anak perlu dikenalkan dengan ibadah dari dini, itu bukan anak nya rasul, tapi cucunya yang bernama hasan dan husein, anak kita nangis dan kita gendong dalam keadaan berdiri sholat itu pun boleh dan dicontohkan dalam din

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s