Training Pasar Saham Menggunakan Technical Analysis (1)

Event ini diadakan oleh Qatar Exchange, materinya disampaikan oleh DR. Elsayed Elsiefy, beliau adalah associate professor of finance – Qatar Foundation for Islamic Study (QFIS). Event ini diadakan beberapa kali dalam sebulan, untuk bulan april 2013 ini saja ada sekitar 3 batch, dan semuanya GRATIS :). Bahkan setelah selesai akan mendapatkan sertifikat, dan ada event berkelanjutan hingga akhir tahun 2013 dengan metode lanjutan: using fundamental analysis, serta portfolio management.

Saya pribadi sudah cukup lama tertarik dengan dunia stock (saham) ini, belajar sedikit demi sedikit dari ragam info di Internet namun belum pernah mencoba sama sekali. Investasi di dunia makro seperti ini sebenarnya bisa jadi pilihan bagi para expatriate yang memiliki uang lebih dan parkir di bank namun masih belum memiliki ide ataupun kesempatan membangun bisnis / usaha. Jaman sekarang aktivitas pasar saham bisa dilakukan dari manapun secara remote jadi tidak terikat ruang. Yang paling saya suka dari event ini adalah sang profesor memperkenalkan dunia stock market secara gamblang dimulai dari prinsip dasar dunia stock market itu sendiri hingga metode-metode bermain yang biasa digunakan oleh para pemain dihari pertama. Prinsip dasar ini menurut saya sangat penting, karena akan membantu kita memutuskan apakah menjadi investor stock market adalah pilihan yang tepat untuk menginvestasikan sebagian uang hasil jerih payah kita selama ini, dan juga mungkin membantu pemahaman lebih kenapa investasi stock market oleh agama disebutkan sebaiknya dihindari, atau mungkin kenapa akhirnya ada pendapat yang mengatakan boleh atau tidak boleh. Pada akhir tulisan saya memaparkan pendapat pribadi atas dunia pasar saham ini yang merupakan buah pemikiran setelah mendalami konsep yang diberikan pada hari pertama.

Saya tulis kembali hal-hal yang disampaikan oleh sang profesor sebagai referensi bagi saya pribadi, dan bagi pembaca yang mungkin juga penasaran mengenai stock market. Perlu diperhatikan bahwa background saya adalah engineer, tidak ada embel-embel sekolah ekonomi sehingga besar kemungkinan apa yang saya tangkap dan uraikan kembali disini banyak salah daripada benernya. Jadi mohon feedbacknya jika ada yang keliru.

Shares v.s Bond

Dalam dunia stock market, ada 2 macam produk: shares, dan bond. Translasi bahasa Indonesianya shares adalah saham, sedangkan bond adalah obligasi. Profesor elsayed memperkenalkan kedua produk tersebut melalui ilustrasi berikut:

Shares
Seseorang ingin setup suatu perusahaan, katakanlah perusahaan A. Untuk membangun perusahaan tersebut dibutuhkan modal sebesar Rp. 100,0000,000. Orang tersebut tidak memiliki modal yang cukup, maka dikumpulkan 100 orang untuk bersama-sama menjadi bagian pemilik perusahaan dengan masing-masing berpartisipasi menyediakan modal berupa sejumlah uang. Tentu saja kemampuan setiap orang tidak sama, ada yang mampu berpartisipasi dengan menyediakan uang 10 jt, ada yang mampu 20 jt, dst. Untuk itu bilangan 100 jt tersebut dipecah menjadi per-seratus rupiah, hasilnya adalah pecahan Rp.100 sebanyak 1,000,000 unit. Unit inilah yang disebut shares / saham. Jadi jika seseorang menyediakan modal sebesar 10,000,000, dia akan mendapatkan shares sebanyak 100,000. Harga awal per shares adalah Rp.100, harga awal ini disebut face value. Sebagai informasi, face value untuk setiap perusahaan yang tercatat di Qatar Exchange adalah 100 QAR. Nilai ini merupakan regulasi dari pemerintah Qatar.

Apa keuntungannya ikut menyertakan modal pada perusahaan A diatas?Usaha perusahaan A akan berjalan, dan setelah setahun berjalan akan didapatkan keuntungan katakanlah 25,000,000. Pemilik perusahaan A kemudian memutuskan bahwa 20,000,000 dari profit / keuntungan akan digunakan sebagai modal perusahaan selama setahun kedepan seperti untuk membayar gaji karyawan, membeli bahan mentah produk, dsb. Sisanya sebesar Rp.5,000,000 akan dibagikan kepada shareholder (pemegang shares) yang dikenal sebagai dividen. Dengan pembagian sederhana maka kita bisa mendapatkan hasil per shares adalah Rp.5, jadi jika seseorang memiliki shares sebanyak 100,000 unit maka dari pembagian dividen dia akan mendapatkan bagi hasil sebesar Rp.500,000. Pada tahap ini semua tampak normal, islamikah?saya tidak berani menjawab karena tidak ada ilmunya. Namun bagi pemikiran sederhana saya hal diatas adalah normal dan sah.

Namun kemudian muncul satu aturan main yang mengikat semua pemilik modal untuk perusahaan A diatas.

Pemilik modal yang menyertakan modalnya tidak bisa meminta kembali uangnya dan mengembalikan shares miliknya kepada pemilik perusahaan.

Ketika seseorang ikut andil menyertakan modal awal bagi perusahaan A diatas, orang tersebut terikat selamanya dengan perusahaan A. Tidak bisa menuntut perusahaan untuk mengembalikan modal awal yang sudah dimasukan agar mendapatkan kembali uangnya walaupun dengan nilai yang sama per sharesnya. Stuck forever. Transaksi jual-beli awal antara shareholder dan perusahaan A terjadi dalam market yang disebut sebagai Primary Market. Namun kemudian dibuatlah secondary market (pasar sekunder) yang menjadi sarana bagi shareholder perusahaan A untuk ‘melepaskan diri’. Shareholder tidak bisa melepaskan diri begitu saja, keberadaan shareholder harus digantikan oleh orang lain. Jadi shareholder dapat ‘menjual (sell)’ shares miliknya pada perusahaan A kepada orang lain melalui secondary market. Orang lain bisa saja tertarik dengan perusahaan A karena beranggapan bahwa perusahaan A memiliki nilai yang bagus, bermasa depan cerah, dan berpotensial memberikan keuntungan lebih tahun depan. Bisa jadi tahun berikutnya dividen dari perusahaan A sebesar Rp.7 per-shares. Dengan pemikiran seperti itu maka calon shareholder perusahaan A akan mencari existing shareholder perusahaan A yang hendak menjual sharesnya dan menawarkan harga ‘beli (buy)’, disinilah transaksi pada secondary market akan terjadi. Dan melalui secondary market inilah shareholder awal dapat melepaskan diri, mendapatkan kembali modal awalnya dengan menjual sebagian atau seluruh shares miliknya, bahkan mendapatkan keuntungan jika orang baru yang akan menggantikan dirinya bersedia membayar lebih per-shares miliknya atas perusahaan A.

Pada tahap ini kita bisa melihat dengan menjadi shareholder kita bisa mendapatkan keuntungan dari 2 sumber,

  • Dividen: bagi hasil dari sebagian keuntungan perusahaan.
  • Capital Gain: selisih antara nilai jual dengan nilai beli shares perusahaan akibat orang lain yang bersedia membayar lebih tinggi.

Perlu diperhatikan juga bahwa apa yang terjadi pada secondary market diatas tidak akan mempengaruhi perusahaan yang sebenarnya. Transaksi jual beli terhadap shares suatu perusahaan hanyalah perputaran uang antara para investor, namun tidak ada keuntungan ataupun kerugian terhadap perusahaan A. Karena bagi perusahaan A, modal awal untuk membangun perusahaan sudah didapatkan dari para shareholder awal, bisnis sudah berjalan, modal tidak bisa dikembalikan dan perusahaan A hanya wajib memberikan dividen atas kepemilikan shares kepada para shareholder sejumlah volume share. That’s all.

Bond
Masih dengan ilustrasi perusahaan A diatas, pada tahun kedua perusahaan A ingin memperluas jangkauan usahanya ke 3 kota besar lain. Untuk itu dibutuhkan modal tambahan sebesar Rp.500,000,000. Perusahaan A mencoba minta pinjaman ke bank namun gagal karena bank katakanlah masih belum percaya dengan perusahaan tersebut. Perusahaan A yakin akan mendapatkan profit lebih besar apabila berhasil memperluas jangkauan usahanya ke 3 kota besar tersebut, maka untuk mendapatkan modal perusahaan A memutuskan untuk kembali melepaskan shares namun bukan untuk menjadi shareholder namun berupa surat kepemilikan hutang pada publik. Surat hutang inilah yang kemudian disebut bonds / obligasi. Perusahaan A akan berhutang kepada seseorang dengan perjanjian akan mengembalikan hutangnya setelah 5 tahun dengan membayarkan bunga sebesar sekian persen pertahun-nya kepada orang tersebut.

Katakanlah seseorang membeli bonds perusahaan A senilai 10,000,000. Bonds tersebut akan dikembalikan oleh perusahaan A setelah 5 tahun, dengan bunga pertahun sebesar 12.5%. Tentu saja perusahaan A sudah melakukan perhitungan bahwa dengan modal dari hutang tersebut akan didapatkan keuntungan yang cukup besar sehingga membayar bunga sebesar 12.5% bukanlah hal yang mustahil. Orang yang membeli bonds perusahaan A akan mendapatkan jaminan keuntungan berupa bunga sebesar 12.5% x Rp.10,000,000 per tahun, atau sekitar Rp.1,250,000 per tahun. Setelah 5 tahun, dia akan mendapatkan kembali uangnya sebesar Rp.10,000,000 tersebut plus keuntungan sebesar Rp.1,250,000 x 5 = Rp.6,250,000. Bisa dilihat bahwa dengan investasi pada surat obligasi dan memberikan modal awal sebesar Rp.10,000,000 maka dalam waktu 5 tahun modal tersebut akan berkembang menjadi Rp.16,250,000.

Bond jelas lebih aman karena sudah ada jaminan keuntungan yang akan dikembalikan oleh perusahaan, namun dikatakan oleh sang profesor bahwa pada kenyataannya orang cenderung lebih suka bermain di-shares. Bahkan di USA sendiri para investor bayak yang lebih memilih bermain dengan shares dibandingkan bonds, alasannya karena pergerakan shares lebih dinamis dan lebih cepat. Memang tidak aman, namun keuntungan yang didapatkan bisa jadi jauh lebih besar daripada produk berupa bonds.

Fundamental Analysis v.s Technical analysis

Profesor elsayed mengatakan bahwa untuk kursus gratis yang diselenggarakan oleh qatar exchange bekerja sama dengan qatar foundation ini akan fokus pada produk berupa shares, seingat dan sependengaran saya beliau mengatakan bahwan bonds tidak sesuai dengan shariah islam karena sudah jelas melibatkan bunga. Jadi selama 4 hari ini akan diajarkan metode technical analysis untuk menjadi investor handal pada pasar modal. Disebutkan bahwa sebenarnya ada 2 teknik untuk menentukan harga shares, fundamental dan technical. Namun disepakati bersama antara Qatar Exchange & Qatar Foundation technical analysis yang pertama kali akan diberikan, nanti sekitar bulan september 2013 akan diberikan materi berupa fundamental.

Penjelasan mendetail serta variasi kedua metode analysis tersebut bisa didapatkan dengan mudah melalui internet, namun inti dari analysis adalah menentukan harga yang paling tepat untuk suatu produk. Profesor mengambil contoh sebuah pulpen, dilihat dari jenis pulpen tersebut didapatkan kesimpulan bahwa harga yang tepat (fair value) adalah Rp.500. Harga tersebut bisa jadi ditentukan dari harga pembuatan pulpen. Jika ada 2 warung, satu menjual dengan harga Rp.500 dan satu lagi ternyata menjual dengan harga Rp.300, kemanakah kita akan membeli pulpen tersebut?tentu saja kita akan membeli dari warung yang menjual dengan harga lebih murah. Prinsip ekonomi adalah apabila warung tersebut menjual dengan harga Rp.300 (market price), sedangkan harga yang layak untuk pulpen tersebut adalah Rp.500 (fair value) maka lambat laun dipastikan warung tersebut akan menaikan harganya mendekati fair value.

Sama halnya dengan harga shares, teori fundamental analysis akan berusaha menentukan berapa fair value atas shares suatu perusahaan, apabila fair value shares tersebut dinilai lebih tinggi dari market price maka berarti dikatakan sebagai under price, apabila underprice maka decision-nya adalah buy (beli). Kenapa? karena market price akan naik menuju fair value. Ketika shares tersebut kita jual kelak maka akan mendapatkan keuntungan dari capital gain. Begitu pula sebaliknya, jika dari hasil analisis fair value dari suatu shares kurang dari market price maka waktunya kita menjual shares tersebut karena harganya kelak akan mengikuti fair value (turun).

Fair Value > Market Price => Buy
Fair Value < Market Price => Sell

Fundamental analysis sering disebut sebagai teori ‘what’. Karena tujuannya adalah menentukan fair value dari suatu shares, berapa harga yang layak untuk shares tersebut. Sedangkan technical analysis sering disebut sebagai teori ‘when’, yaitu kapan waktu yang tepat untuk menjual suatu saham dan kapan waktu yang tepat untuk membeli.

Technical analysis menggunakan teknik statistic, misalnya menggunakan chart. Dengan melihat trend pasar, melihat kecenderungan para pemain saham untuk membeli dan melepas saham, melihat kecenderungan kenaikan dan penurunan harga, dsb yang setelah dikalkulasi maka akan didapatkan kesimpulan kapan waktu yang tepat untuk menjual / membeli. Tujuannya?tentu saja lagi-lagi capital gain, selisih keuntungan dari penjualan dan pembelian.

Personal Thought

Terus terang saya jadi mendapatkan gambaran lebih jelas tentang dunia stock market / pasar saham. Sama halnya dengan beragam aktivitas lain seperti perjudian, perzinahan, kita bisa saja meyakini aktivitas tersebut kurang sesuai dengan hati nurani ataupun opini pribadi, namun aktivitas tersebut terjadi di dunia nyata dan kita tidak bisa mencegahnya. Baik atau buruknya dikembalikan pada diri masing-masing dan keyakinan pada ajaran agama masing-masing.

Namun jika dilihat kembali pada pemaparan awal dunia pasar modal – lebih spesifik lagi pada secondary market – para investor ibarat bermain dalam suatu meja bersama-sama. Membawa masuk sejumlah uang, dengan harapan akan membawa keluar sejumlah uang yang lebih besar. Sejumlah uang tersebut akan ditukar diatas meja dengan sejumlah kertas, kertas yang ada diatas meja volume / jumlahnya tetap. Jumlah kertas yang dipertukarkan terbatas, namun jumlah pemain tidak terbatas. Harga kertas ditentukan oleh perorangan, jumlah uang yang beredar akan bertambah apabila ada pemain baru yang masuk. Karena jumlah kertas terbatas, sedangkan jumalah pemain beserta uangnya bertambah, maka dalam meja tersebut akan ada orang-orang yang mendapatkan jumlah uang lebih banyak dari hasil tukar menukar namun ada juga yang jumlah uangnya lebih sedikit ataupun ludes berpindah ke tangan orang lain.

Di dunia ini ada banyak sekali uang beredear, ada uang yang didapatkan dari bekerja menjadi engineer, ada uang yang didapatkan dari usaha menjahit, dlsb. Uang-uang tersebut umumnya disimpan oleh setiap individu katakanlah dirumah masing-masing. Di dunia pasar modal sejumlah individu memperdagangkan sejumlah kertas dengan sejumlah uang. Mereka membutuhkan tambahan supply uang yang beredar agar harga saham bisa naik, dan investor yang terlibat bisa bertambah jumlah uangnya. Jika ada yang bertambah jumlah uangnya, maka ada pula yang tersedot jumlah uangnya. Dunia pasar modal berusaha menyedot uang-uang yang beredar diluar dunia pasar modal agar masuk kedalam pasar modal. Caranya tentu bisa dengan beragam metode, membujuk masyarakat untuk menjadi investor adalah salah satunya dengan tujuan agar masyarakat menyetorkan sejumlah uangnya pada pasar modal. Cara lainnya adalah melalui institusi keuangan (financial institution) seperti koperasi, asuransi kesehatan, bank, dsb. Masyarakat dengan beragam embel-embel seperti asuransi akan menyerahkan sebagian kecil uangnya, sejumlah kecil tersebut apabila dikali ribuan bahkan jutaan masyarakat akan menjadi supply uang yang luar biasa besar. Supply uang tersebut akan dimainkan pada pasar modal oleh suatu institusi ataupun individu, jika yang memainkan pintar maka akan berhasil menyedot sejumlah uang dari institusi ataupun individu lain dan mendapatkan keuntungan, apabila tidak maka akan kalah dan kehilangan sejumlah uang. Institusi keuangan ini produknya ada banyak, dan didunia modern saat ini menyentuh hampir setiap sisi kehidupan manusia sehingga sangat sulit untuk tidak terlibat (ambil contoh ketika punya mobil harus bayar asuransi), dan permainan di pasar sahampun semakin lama semakin kompleks. Namun pada intinya tetap sama, harus ada yang uangnya bertambah, dan harus ada yang uangnya tersedot.

Mungkin saja kita bisa ikut bermain menjadi investor dengan menggunakan sejumlah uang yang dimiliki (uang yang parkir di bank / uang nganggur), dengan niat bukan untuk mencari keuntungan cepat seperti misalnya menggunakan teori fundamental maupun technical analysis untuk mendapatkan capital gain sebesar Rp.500,000 dalam waktu 1 bulan, namun dengan niat mendapatkan dividen karena berinvestasi pada perusahaan bermasa depan cerah. Tapi tentu saja setiap orang tidak ingin uangnya terikat perusahaan tersebut selamanya, ada waktunya ingin mengambil kembali uangnya dan tentunya berharap harga sharenya tidak turun bahkan mungkin meningkat. Capital gain yang didapatkan tersebut, baik atau buruknya kembali pada diri masing-masing.

Nah, seperti biasa saya kalau menulis panjang lebar deh. Yah, mudah-mudahan saja bermanfaat bagi para pembaca. Sebetulnya ada banyak detail yang diberikan oleh profesor elsayed tidak saya paparkan disini, namun mungkin akan saya lanjutkan dikemudian hari kalau rajin. Pastinya ilmu ekonomi sangat menarik terlebih bagi saya yang sudah cukup bosan bergelut didunia engineering hehehe…

Oh iya, berikut ini foto-foto dari sesi hari pertama yang di-share oleh pihak QF (Qatar Foundation):

Screen Shot 2013-04-08 at 9.33.50 AM

Screen Shot 2013-04-08 at 9.34.18 AM

Screen Shot 2013-04-08 at 9.34.43 AM

Advertisements

2 thoughts on “Training Pasar Saham Menggunakan Technical Analysis (1)

  1. Penjelasan yang sangat bagus. Tapi saya sempat bingung dengan penggunaan koma sebagai tanda pemisah di angka jutaan. Biasanya kita di Indonesia menggunakan tanda koma sebagai tanda desimal dan titik sebagai pemisah di angka ratusan, ribuan, jutaan, dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s