[Repost] Siapa Orang Paling Penting Di Kantor Anda?

Barusan baca sharing artikel dari milis PARAKONTEL. Sangat bagus sekali. Saya copas kembali disini dengan mengikutsertakan informasi sang penulis awal.

=====

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Siapa sih orang penting di perusahaan Anda? Mereka yang punya jabatan kan? Terus, fungsi atau posisi apa yang menurut pendapat Anda paling penting di kantor Anda? Produksikah? Sales dan Marketingkah? Finance? Ataukah HRD? Mungkin legal? Atau… fungsi apa? Ada yang bilang tanpa orang sales dan marketing, semua orang di kantor nggak bisa gajian. Orang pabrik bilang; “kalau nggak ada yang bikin barang, elo mau jualan apa?” Nggak tahu deh, mana yang benar. Kalau menurut pendapat Anda, bagaimana? Rumah Sakit, bisa menjadi model untuk menemukan jawabannya. Siapa yang punya peran paling penting di Rumah Sakit? Dokter, ya? Iyya dwong. Kalau nggak ada dokter, bagaimana bisa ada Rumah Sakit, kan? Ehm… mari kita uji kebenarannya.

Sekitar jam 10 pagi saya sudah sampai di rumah Sakit. Mengantri sekitar satu jam, barulah bertemu dengan dokternya. “Perlu cek lab, dan rontgen,” demikianlah penjelasan sang dokter.
Ya sudahlah. Kita menurut saja kepada ahlinya. Berbagai pemeriksaan pun dijalani. Sekitar jam setengah tiga sore, hasilnya sudah didapat. Lalu, kami pun kembali menghadap dokter lagi. Dan setelah membaca hasil lab itu, dokter pun mengatakan ‘harus dirawat’. Saya mengiyakan. Mau gimana lagi, kan?
Peran dokter penting? Benar. Sangat penting. Tapi, bisakah dokter membuat keputusan itu tanpa peran orang-orang yang bekerja di lab?

Di kantor Anda. Mungkin saja Presiden Direktur atau Manager memegang peranan penting. Tapi sejauh yang saya tahu, untuk mengambil keputusan penting. Seorang atasan membutuhkan data dan informasi yang lengkap. Dan dalam kebanyakan situasi, kebutuhan itu hanya bisa dipenuhi oleh orang-orang yang memang bertugas dibidangnya masing-masing.

Jam setengah empat sore, saya dibawa masuk ke ruang persiapan. Tidak langsung ke ruang perawatan. Disana, suster memeriksa berbagai hal. Dan hal paling akhir yang mesti dilakukannya adalah… memasukkan jarum suntik ke pembuluh vena ditangan saya. Duh.

Saya tidak terlalu suka dengan jarum. Untungnya, masih bisa bercanda dengan istri yang menemani. Tangan kanan sudah dipegang oleh suster. Ujung jarum sudah menempel di kulit. Seperti ayam yang hendak dipotong mungkin ya, saya pasrah saja. Dan… jelebess… ada sesuatu yang menelusup. “Urat nadinya nggak kelihatan…” begitu kata suster beberapa saat kemudian. Berita baik? Tentu. Kan suster tidak jadi memasukkan jarum itu lama-lama kesitu. Berita buruk juga. Karena suster itu sudah bertekad bulat untuk menyelesaikan misinya. Dan itu berarti; tusukan berikutnya!

Tangan saya ditepuk-tepuk. Biar uratnya menonjol, katanya. Dan setelah urat itu menonjol lagi, jarum itu beraksi lagi. Sudah masuk tiga perempatnya kali ini. Alhamdulillah kan, ada kemajuan. Lalu ditarik lagi. ‘Uratnya mengecil lagi…’ demikian suster itu berkata.

Percobaan berikutnya. Posisinya agak lebih ke atas. Di sekitar pergelangan tangan. ‘Nah, ini uratnya kelihatan jelas.’ Katanya. Lalu jarum itu, sekali lagi berkelana di tubuh saya. “Wah, ini uratnya membelok kebawah…” begitu saya mendengar suster itu bicara. Sekarang, saya mulai mempertanyakan kompetensinya.

“Sudah sajalah suster, kasihan suami saya…” Oh, bahagianya punya istri yang mbelain. Gengsi sekali kan kalau mesti saya sendiri yang mengatakannya?

“Kita coba tangan yang satunya lagi ya Bu.” Balasnya.
“Iya tapi sekali tusuk langsung jadi dong….” Istri saya menjawab serius. ‘Oh, dia sayang kepadaku…’ begitu suara hati ini melonjak.

Giliran tangan kiri. Tusukan pertama, gagal maning. Sekali lagi. Saya harus menjadi kelinci percobaan.

“Udah aja suster, nanti aja…” istri saya menampakkan wajah khawatir. Jika suster itu paham, dia akan tahu bahwa perempuan cantik ini tidak lagi mempercayainya.

“Sekali lagi ya Pak….” Katanya. Saya pun pasrah.
Katanya sih ada urat yang besar ditangan kiri. Letaknya di punggung tangan. Padahal seingat saya, bersama anak-anak; saya sering bermain besar-besaran urat tangan. Anak-anak saya suka iri melihat urat ditangan saya kelihatan menonjolkan alur-alurnya. “Emangnya, segede apa sih jarum suntik itu sampai nggak bisa masuk kedalam urat tangan gue…?” ada suara berbisik didalam batin. Tapi baik sangka sajalah. Mungkin kalau sedang sakit, urat-urat pada mengkerut.

Celebesss….
Jarum itu kembali menusuk. Kali ini rasa ngilunya sampai ke telinga. Tidak ada suntikan lain yang lebih menyakitkan dari yang ini. Mungkin suster ini tengah mengejar target sehingga jarum itu seperti diulek-ulek didalam urat. Tidak tahan merasakannya, kaki saya sampai terangkat. Lalu, “Suster hentikan.” Suara istri saya mengakhiri penderitaan ini. “Nanti aja di ruang perawatan, suster…” saya menambahkan. Setelah membereskan perlengkapan, suster pamit meninggalkan ruang persiapan.

Ini bukan Rumah Sakit sembarangan loh. Punya banyak jaringan dan nama besar. Harga obatnya juga… ah, sudahlah. Tapi, menurut pendapat Anda; mengapa sampai istri saya bersikap tegas begitu? “Kita ganti suster lain aja, Ayah…” katanya.
Tentu setelah suster itu pergi.

Mari perhatikan. Bukan hanya dokter yang penting di Rumah Sakit. Maka suster pun wajib melakukan pekerjaannya dengan kualitas nomor wahid. Sama seperti di kantor Anda. Bukan hanya Manager atau Direktur. Kompetensi atau kemampuan Anda dalam menyelesaikan pekerjaan sangat mempengaruhi citra perusahaan Anda. Meskipun di kantor itu, peran Anda bukanlah sebagai ‘dokter’nya. Anda orang penting disana. Bekas suntikan yang terakhir itu membiru. Dan warna birunya baru hilang setelah lebih dari seminggu. Sama seperti pekerjaan yang Anda lakukan dengan kualitas yang kurang bagus, mungkin akan lama membekas dibenak pelanggan.

Sekitar jam setengah lima sore, saya sudah bisa masuk ke kamar. Ada dua suster yang merawat dan mempersiapkan segala hal. Salah satunya, bertugas memasang jarum infuse ditangan saya. Dan benar kata istri saya ‘ganti suster’ adalah solusinya. Setelah memberi tahu bahwa dia akan memasang jarum infuse, suster berkata;”Dibantu dengan doa dari Bapak ya …” sambil memasukkan jarum itu. Ajaib. Hanya satu kali menusuk, dan langsung jadi!

Perhatikan di kantor Anda. Betapa banyak orang yang melakukan pekerjaan. Dan salah. Lalu hasil kerjanya mesti diulang lagi dari awal. Bukankah itu membuat waktu kerja kita terbuang percuma? Dan bukankah itu membuat pekerjaan kita yang lainnya terbengkalai. Dan itu menimbulkan penumpukan pekerjaan yang mesti diselesaikan? Dan itu menimbulkan penilaian yang buruk dari atasan, pelanggan, teman, dan perusahaan? Dan itu membuat dirinya menjadi stress? Dan itu menyebabkan…..

Sekarang sudah jam 19.00. Tadi siang, baru makan sedikit. Namanya juga orang sakit. Idealnya makan sedikit-sedikit. Tapi cukup sering. Kalau soal nutrisi sih sudah terjamin. Kan masuk melalui selang infuse. Tapi… pasien juga kan manusia. Pasti ada rasa laparnya juga. Kiriman makanan belum juga datang meskipun sudah jam 19.30. Mana istri saya sudah diminta untuk pulang pula… Sekitar jam 19.45 suster datang. Untuk memeriksa, bukan mengirim makanan. Maka saya pun bertanya; ”kalau di Rumah Sakit ini, makan malamnya jam berapa suster?”

“Lho, Bapak belum mendapatkan makan malam,” Suster itu tampaknya terkejut mendengar pertanyaan saya. Yang lebih terkejut lagi ya saya. Lha kok bisa suster jaga tidak tahu apakah pasiennya sudah dikasih makan malam atau belum? Nah loh….

Perhatikan di kantor Anda. Masih ada nggak, orang yang tidak menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya. Meskipun jabatan atau perannya kecil, tapi tetap saja penting bukan? Kalau sudah kejadian begitu, bagaimana biasanya kita bereaksi? Lempar-lemparan tanggungjawab.
Lebih jelas sekarang siapa yang paling penting perannya di Rumah Sakit? Semoga sudah jelas pula tentang siapa sekarang yang perannya paling penting di kantor Anda.

Sudah jam 20.00. Saya memencet tombol emergensi. Suster segera datang. “Ya Bapak, ada yang bisa saya bantu?” katanya ramah sekali.

“Kenapa makan malam saya belum juga datang suster?” Anda tahu kan, orang kelaparan bisa seketus apa?

“Hah?” kira-kira begitulah respon pertama suster itu. “Sudah kami laporkan ke bagian nutrisi kok Pak. Belum datang juga ya?” Lalu dia bergegas pergi lagi.

Jam 20.30. Masih belum datang juga itu makanan. Kayaknya, saya seperti tengah berlibur di pulau terpencil segitiga Bermuda.
Tidak ada berita apapun yang bisa didengar. Tidak ada orang lain yang bisa dilihat. Sinyal telepon tidak tertangkap. Internet belum masuk. Mungkin satelit pun tidak bisa melihat keberadaan saya dari atas langit.

Jam 20.40. Saya bangkit dari tempat tidur. Duduk dulu sebentar supaya seluruh tubuh siap untuk menjalankan suatu misi. Setelah itu, perlahan turun dari ranjang. Kemudian berjalan perlahan sambil menenteng botol infuse. Menelusuri dinding lorong Rumah Sakit adalah cara paling aman buat pasien. Jika tiba-tiba pusing atau lemas, kan bisa menyandar. Setidaknya, kalaupun terjatuh yang nggak langsung bedebum kan?

Jam 20.44 saya sampai di pos jaga perawat. Ada 5 atau 6 perawat yang sedang bertugas disana. Duduk melingkar. Nampaknya sedang briefing atau ngobrol atau apa; saya tidak tahu. Saya berdiri disitu. Beberapa suster melihat kearah saya, lalu kembali lagi meneruskan aktivitasnya. Tanpa sepatah kata pun. Saya geleng-geleng kepala. Menanti sapaan yang tidak pernah ada. Jam 20.45. Terdengarlah suara menggelegar seperti halilintar. Bunyinya begini: “SUSTER!!!!”

Gelagar itu membuat semua suster pucat pasi. Dan mungkin juga membuat setiap orang yang ada di lorong Rumah Sakit nyaris terkena serangan jantung;”Anda lihat saya berdiri disini?” begitu bunyi pertanyaan yang terdengar. Gelagarnya, menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.

“Iya Pak, kami melihat Bapak.” jawab seorang suster.
“Menurut kalian ngapain orang yang sedang diinfus mendatangi pos jaga kalian?” pertanyaan keras itu kembali berkumandang.

“I-iya Pak, bisa kami bantu?” katanya tegopoh-gopoh. Yang lainnya melongo seperti baru terkena penyakit sawan. Atau, mungkin sedang melihat roh gentayangan.

“Saaaaya mau minta penjelasan tentang dua hal.” Kata pasien yang sedang kelaparan itu. “SATU.” Lanjutnya. “Kenapa sampai hampir jam 9 malam begini kalian belum memberi makan kepada pasien kalian? Buat apa saya dirawat disini kalau dibiarkan kelaparan?!!!”

“Kami sudah melaporkan ke bagian giz….”
“KEDUA.” Pasien kelaparan itu tidak sedikit pun memberi kesempatan. “Saya mau tanya; kenapa kalian suster-suster jaga ini tidak peduli kepada pasien yang sudah susah payah mendatangi kalian?”

Hening sejenak. Lalu… “Kami….”
“SAAAYA MAU PENJELASAN RESMI DARI RUMAH SAKIT INI BESOK PAGI!!!!!!” Lantas pasien yang tengah kumat itu kembali merayap menuju ke ranjang perawatannya.

Anda mengira ini bukan kejadian beneran? Ohoho… saya mengenal betul bintang filem pemeran utamanya. Di Rumah Sakit ecek-ecek? Bukan. Di RS mentereng dengan gedungnya yang megah. Coba saja perhatikan. Betapa banyak perusahaan besar yang baru merespon sungguh-sungguh hanya setelah pelanggannya marah-marah. Pelanggannya yang pemarah? Ataukah ada orang-orang tertentu di perusahaan itu yang tidak menjalankan tugas sebagai mana mestinya? Sekarang, Anda lebih paham ya. Bahwa posisi Anda itu. Fungsi Anda itu, sangat penting sekali. Termasuk yang paling penting di kantor Anda.

Hanya berselang sepuluh menit dari kejadian itu. Seseorang datang mengantarkan makan malam. Sambil meletakkan makanan di meja, sang pengantar bertanya:”Bapak sudah lama dirawat disini?” Hmmenurut eloh????. Saya memilih untuk diam saja. Cukup sudah berkata-katanya.

“ Soalnya didata kami tidak ada untuk Bapak. Jadi….”
“Maaf ya Mbak. Saya tidak mau berdebat dengan Anda. Terimakasih.” Pasien yang perutnya sudah kerubuk-kerubuk itu memotong. Sang petugas bergegas pergi meninggalkan mangkuk berisi makanan. Bubur beras putih yang ditaburi suwiran daging ayam. Dingin. Hmmh…disyukuri sajalah. Alhamdulillah.

Di kantor, orang yang menyajikan makanan atau minuman itu biasanya office boy kan. Lihatlah betapa pentingnya peran mereka. Mungkin dalam konteks ini yang paling penting. Di restoran, fungsi itu dijalankan oleh waitress atau disebut juga pelayan. Meskipun namanya tidak keren, namun fungsinya… sangat penting.

Besoknya. Menjelang tengah hari. Suster senior datang mempekenalkan diri. Maksudnya memberikan penjelasan resmi tentang insiden makan malam itu. Menurutnya, rupanya; data saya belum masuk kedalam system computer sehingga petugas gizi tidak melihat ordernya. Padahal katanya, bagian administrasi sudah menginput data dengan seksama.

“Jadi apa yang sebenarnya terjadi disini suster?” begitu pertanyaan berikutnya.
“Ada masalah dengan EDP.” Katanya. Anda tahu kan EDP itu maksudnya orang IT yang bertanggungjawab memastikan data processing systemnya berjalan baik.
Orang yang ada dibelakang layar. Nyaris tidak pernah kelihatan. Namun fungsinya penting sekali. Sempurna. Sekarang, kita bisa menemukan peran semua orang. Dari yang berada digaris paling depan, hingga mereka yang bekerja di garis paling belakang.

Sudahkah Anda menyadari betapa pentingnya peran Anda dikantor, sahabatku? Maka selesaikanlah tugas Anda sebaik-baiknya. Karena Anda, adalah orang penting di perusahaan. Bukan jabatan yang menentukan penting tidaknya seseorang di suatu perusahaan. Melainkan fungsi dan perannya dalam keseluruhan proses bisnis perusahaan. Meskipun jabatannya belum tinggi, tapi jika dia bekerja dengan baik sehingga kinerja dan citra perusahaannya semakin membaik; maka dia, termasuk orang penting disana. Jadi, siapa yang menentukan bahwa diri Anda itu penting atau tidak?

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 14 Maret 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker

Catatan Kaki:Kita pasti menjadi orang penting di perusahaan, jika sanggup menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Namun jika kita suka bekerja asal-asalan, lama kelamaan juga orang akan menilai kita sebagai pribadi yang tidak penting lagi.

Advertisements

One thought on “[Repost] Siapa Orang Paling Penting Di Kantor Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s