(Un)Ethical Hacking Goes Public

Beberapa hari ini saya cukup prihatin melihat timeline di facebook (ketahuan deh facebooker hihi). Ada kelompok rekan-rekan yang saya lihat sangat populer dikalangan hacker-hacker / penggiat security muda Indonesia malah justru menjerumuskan para generasi muda tersebut pada aktivitas yang ‘absurd’. Kenapa saya katakan absurd? karena aktivitas tersebut cenderung disebut sebagai aksi ‘kiddies’ oleh sebagian hacker-hacker dewasa itu sendiri, diakui sebagai tindakan dengan unsur pengecut, non-skilled, namun justru kemudian di-himbaukan kembali untuk dilakukan secara berjamaah kepada para hacker-hacker muda.

Ibaratnya seperti maling teriak maling, alay teriak alay, orang-orang potensial yang dihormati oleh komunitas security tersebut yang semula mengatakan dengan jelas kepada publik bahwa aksi hacking ‘DDoS’ adalah tindakan kiddies malah menyerukan hal yang sama untuk menyerang internet israel sebagai aksi solidaritas konflik israel-palestina. Saya memilih untuk tidak membahas isu konflik tersebut secara detail, namun yang ingin saya soroti adalah inkonsistensi khususnya para hacker senior baik dalam hal prinsip maupun tindakan yang dilakukan dalam ranah publik. Kita semua tau bahwa generasi muda membutuhkan idola terutama jaman sekarang ini, bukan hanya dalam ranah cyber namun juga dalam ranah kehidupan nyata. Itu sebabnya kita bisa lihat beragam kerusuhan ataupun konflik yang terjadi di Indonesia digerakan dari himbauan seorang pemimpin agama misalnya, ataupun tokoh masyarakat yang menggerakan massa tersebut untuk melakukan kericuhan. Hal yang sama dalam ranah cyber, seorang tokoh security atau kelompok security yang dihormati baik karena karya-karyanya ataupun kontribusinya pada dunia security tentu akan mendapatkan respect yang sama, dan apapun yang dia katakan, benar atau salah, cenderung akan di-aminkan oleh generasi muda hacker indonesia.

Teriakan tersebut disertakan pula dengan ‘petunjuk’ mengenai tools yang dapat dipakai untuk melakukan serangan DDoS dan bagaimana melakukannya secara anonim sepert menggunakan TOR network, guys…TOR network diciptakan dengan filosofi anonimitas dan merupakan donasi dari seluruh orang didunia dengan harapan agar pengguna internet tidak ‘digunakan’ untuk kepentingan industri, apa yang terjadi jika bandwidth sumbangan tersebut digunakan untuk melakukan serangan pengecut seperti itu?

Keunikan lain adalah ketika para tokoh security tersebut dengan cuap-cuap cari makan dari menjual jasa ‘ethical security’ melalui seminar-seminar security yang diadakan oleh organisasi ataupun sekolah-sekolah, berkeliling Indonesia sebagai pembicara memperkenalkan filosofi hacking yang baik, namun ternyata mengajarkan melalui media sosial secara terang-terangan seperti facebook mengenai penggunakan tools LOIC untuk melakukan DDoS. Apa yang akan terjadi jika informasi tersebut dilihat oleh para generasi muda pengikutnya dimana mereka cenderung masih labil, dan akan menggunakan tools serta metode serupa untuk menyerang situs-situs pemerintahan Indonesia itu sendiri? apa yang akan terjadi jika mereka ketahuan melakukan hacking akibat belajar dengan mudah melalui facebook dari akun senior favorite nya dan akhirnya harus mendekam di penjara selama beberapa tahun?

Bukankah akan lebih baik jika sumbangsih diberikan dalam bentuk yang lebih baik, seperti misalnya, daripada uang dipakai untuk pergi ke warnet dan melakukan DDoS, mendingan dikirimkan ke organisasi seperti MER-C Indonesia. Walaupun jumlahnya tidak besar, namun jika dilakukan secara gotong royong dan cukup untuk membantu pengobatan satu orang saja korban di gaza untuk melanjutkan kehidupannya, bukankah itu lebih baik?

Sebagai catatan akhir, ada beberapa hacker yang cukup berbahaya di Indonesia dan masih tetap aktif dengan aktivitas ilegal mereka, namun dilakukan dalam lingkungan terbatas. Bahkan ada yang siang harinya bekerja sebagai security profesional, dikenal sebagai defender tangguh, namun malam hari mereka melakukan serangan baik individu maupun kelompok, bahkan beberapa serangan bersifat ilegal dan merugikan pihak lain secara finansial. I don’t fuckin care dengan cara hidup mereka, itu adalah pilihan, namun setidaknya tidak secara terbuka di media publik. Untuk bisa masuk ke lingkungan tersebut pun cukup sulit, jadi setidaknya meminimalisir kemungkinan ada generasi muda yang terjerumus secara tidak sengaja pada komunitas yang sering beroperasi malam hari tersebut. Jika memang ada generasi muda yang masuk, itu adalah pilihan hidup mereka sendiri yang berusaha mencari tau kehidupan semacam itu. Jadi silahkan saja melakukan cyber crime, konsolidasikan jika memang ada yang berprinsip itu adalah hal yang baik karena setiap individu bebas memiliki opini mengenai baik dan tidaknya suatu tindakan, namun akan lebih aman jika dilakukan dalam lingkungan tertutup. Ibarat merokok, lebih baik jika asapnya tidak mengenai orang lain yang secara tidak sengaja duduk disebelah kita. Resiko cyber crime dalam lingkungan tertutup bukan saja lebih aman bagi publik yang tidak tahu apa-apa, namun juga lebih aman bagi individu yang melakukan hal tersebut.

People these days, they use vendetta mask, self-proclaim as anonymous, yell about underground hacking / action, but actually don’t fuckin had any idea what those terms were.

Advertisements

23 thoughts on “(Un)Ethical Hacking Goes Public

  1. Sebenarnya fenomena hacking untuk isu-isu politik seperti ini rasanya bukan baru kali ini terjadi. Di masa lalu, di Indonesia juga, model hacking seperti ini sudah marak dan juga direncanakan di “fasilitas” umum seperti IRC / BBS. Hanya saja perbedaannya, yang kali ini dilakukan dengan facebook yang merupakan media sosial nomor 1 di dunia saat ini, sehingga dampaknya lebih terlihat.

    Seharusnya tidak ada masalah sepanjang pihak yang melakukan sudah tau konsekuensi atas apa yang dia lakukan yang mana sebenarnya tindakan ini ilegal.

    1. Ada perbedaan signifikan antara fasilitas umum jaman dahulu dengan jaman sekarang. Dulu untuk akses internet hanya untuk lingkungan terbatas seperti akademia, rumahan yang mampu sewa internet, dsb. Sementara facebook, bahkan anak kecil usia 4-5 tahun sudah bisa berinteraksi menggunakan gadget.

  2. There are things that should keep in secret, kira2 gitu lah, ga usah semuanya diumbar ke publik, ntar malah keliatan begonya..

  3. Sebagai orang dewasa kita pasti tau konsekuensi apapun tindakan yang kita lakukan, dan selalu ada pro dan kontra.. begitu juga klo kita ga melakukan tindakan apapun…. tetep aja di komen .. jadi kesimpulannya mau pilih mana :
    1. Ikut DDOS = Dibilang lamer
    2. Ga Ikut DDOS = Dibilang ga perduli
    3. Ga ngomong/ diem aja = Dibilang ga punya sikap

    nah, klo lo di suruh milih pilihan mana pun pasti akan ada konsekuensinya….ada jg sih pilihan lain.. diem2 tapi tau2 ngebobol 130K email ..amazing πŸ™‚ tapi saya nggak sepandai itu…gw cm mau ngasi pendapat bahwa tulisan lo ini cukup menohok yg muda2 .. menggampar malah .. dan orang tua yang menggampar bukan malah di respect anaknya tp malah di jauhi

  4. baru mau nulis hal yang sama, udah keduluan om ini πŸ˜‰
    prihatin mah udah dari 3 hari lalu.. tapi.. ah sudahlah, nanti disangka menggurui sesepuh..

  5. udah2, mau ddos hacking cracking lamer kalau tujuannya kemanusiaan ya gpp lah, coba gini aja kalau saudara lu di jahatin orang segala cara pasti elu lakuin kecuali ya elo gak suka sama saudara lu itu, intinya mau apapun caranya tetep dilihat dari maksud dan tujuannya. yg komen2 gak jelas aja pada gak brani pake nama asli apalah, hiding didalam rok trus ngata2in orang :D, intinya ini akan jadi pembelajaran buat yg melakukan next time do with smart, silent and deadly. keren om rasyid tulisannya next time coba kalau ada apa2 yg salah ya ditegur aja trus kasih opsi yg baik biar gak ada yg dirugikan, just my 2 cent

    1. loh, sejak awal tulisan ini gak pernah ditujukan untuk satu individu kok. setidaknya gw lihat ada 5 pihak yang aktif menyuarakan aksi tersebut di TL gw, bbrp bahkan gak gw kenal secara langsung. jadi tulisan ini berlaku global, dan murni opini pribadi. entah kenapa kok jadi buzz, tulisan-tulisan sebelumnya padahal banyak juga yang mengkritik banyak hal πŸ™‚

  6. emang orang indonesia ..
    biisanya cuma berkoar diatas kesalahan orang lain yang belum tentu sallah ..
    jadwall serangan emang udah terencana darii jauh” harii ..
    tapii nggak ada yang berkoar kaya sekarang ..
    tapii setellah terjadii serangan , ente” iitu cuma biisa berkoar , nyalah-nyalahin orang ..
    jadii sekarang tebuktii mana yang pengecut , pecundang dan kaya bancii yang kagga llaku ..
    coba iintropeksii dirii sendirii ..
    udah bener bellom .???
    # fans Lirva32 ..

  7. @lammer
    menohok?tergampar?baguslah biar ngaca
    motivasi lo ngelakuin ini semua berdasarkan statement lo kayak gini
    1. Ikut DDOS = Dibilang lamer
    2. Ga Ikut DDOS = Dibilang ga perduli
    3. Ga ngomong/ diem aja = Dibilang ga punya sikap
    itu terbukti kalau lo labil,mudah di perdaya dengan ajakan-ajakan gak jelas
    mending lo belajar deh,kalau katanya lo belum mampu
    sampai lo bisa bilang
    [diem2 tapi tau2 ngebobol 130K email ..amazing tapi saya nggak sepandai itu…]
    ya itu karena waktu lo terbuang dengan hal sia-sia gak jelas seperti itu
    coba lo perhatikan lagi ada tulisan,
    [langsung sumbang ke rumah sakit indonesia yang di gaza]
    itu kepedulian yang menguntungkan.paham?
    gw komentar seperti ini karena menurut gw udah gak ada yang perlu di komentarin lagi
    dari tulisan si pemilik blog,gw setuju.

  8. pemikiran setiap orang berbeda, tak ada batasan dalam berpendapat tinggal bagaimana sikap yg kita lakukan itu baik atau benar
    keyakinan kita berbeda
    berpendapat boleh
    asal jgn men-jugde yg mereka lakukan benar/salah dan jgn mengganggap diri anda lah yg terbenar
    semua manusia bisa salah atau khilaf dalam setiap perlakuannya
    yang sempurna hanya TUHAN kawan
    πŸ™‚

  9. seorang elite hacker juga pernah merasakan yang namanya lamer,kiddies dan sebagainya.
    semua itu proses dan jangan pernah mencemooh atau mencela yang namanya proses
    karena itu juga pada diri kita juga,kalo kita mencemooh dan mencela proses berarti kita mencemooh dan mencela diri kita sendiri

  10. lebih baik kita membicarakan yang lain…sudah basi membahas hal sepele seperti ini..mari kita mabok dan cari wanita cantik di club πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s