Mesir dan Budaya Ngebut

Terhitung sudah 2 kali saya nebeng mobil rekan kerja dari mesir (egypt) untuk pergi ke masjid melaksanakan shalat dzuhur dari kantor. Jarak kantor – masjid sebetulnya tidak jauh, jika berjalan santai bisalah sekitar 5 menitan, namun dengan naik mobilnya beliau ini ibarat ngejer ketinggalan pesawat. Ngebut!

Memang sudah terkenal dikalangan komunitas Indonesia bahwa orang-orang mesir termasuk yang hobi kebut-kebutan dijalanan (selain saudi dan kawasan arab lainnya), seperti biasa saya tergelitik untuk bertanya kepada rekan tersebut alasan dia bawa mobil ngebut. Yang menjadi inti pertanyaan adalah apakah orang mesir sadar kalau mereka bawa mobil itu ngebut, ataukah mereka berpikir itu kecepatan normal jadi bisa dikatakan gak sadar.

Setelah memikirkan bagaimana cara bertanya yang sopan agar tidak menyinggung maka segera saya tanyakan ke rekan tersebut. Jawabannya? sadar. Dan teman tersebut bahkan menjelaskan alasan kenapa orang mesir klo bawa mobil ngebut. Dia mengatakan bahwa di cairo, mesir, kondisi jalanan padat dan mobil banyak. Semua orang ingin cepat sampai ditujuan dan tidak sabaran, sehingga klo ada celah sedikit saja akan langsung diambil. Itu yang menyebabkan semua orang berusaha mengambil kesempatan sehingga pola atau style driving mereka di cairo sana serba menyeruduk sana sini. Karena sudah menjadi kebiasaan pola driving ‘keras’ seperti itu akhirnya terbawa kemanapun mereka pergi. Dan mereka sadar kok klo bawa mobil memang ngebut, tapi karena sudah menjadi kebiasaan jadi ya begitulah. Berdasarkan penjelasan rekan tersebut, hanya orang cairo yang seperti itu. Sedangkan dikota lain pola menyetir mesir cenderung lebih santai karena kondisi kotanya tidak seperti cairo.

Orang Indonesia umumnya yang tinggal dikawasan timur tengah sering mengeluh tentang pola menyetir orang-orang kawasan arab ini, saya sendiri termasuk diantaranya. Namun setelah mengetahui alasannya ya bisa dimaklumi. Anggap saja perbedaan antara menyetirnya orang-orang sumatra (medan?) dengan orang-orang jawa hehehe, atau orang-orang kota besar seperti jakarta dengan kota-kota kecil yang cenderung lebih tenang seperti di kawasan jawa tengah dan timur.

Jadi klo kita kebetulan ada di timur tengah dan naik taksi dengan driver-nya orang mesir (ketika di kuwait hampir semua taksi yang saya tumpangi drivernya orang mesir), siap-siap sport jantung saja ya :).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s