Indahnya Ramadhan di Qatar

Tahun ini adalah tahun kedua saya dan keluarga menjalani bulan ramadhan di Qatar. Sejak bekerja 6 tahun yang lalu, saya dan istri sudah mengalami secara langsung bagaimana menjalani bulan ramadhan setidaknya di 3 kawasan berbeda: salah satu negara asia tengah bermayoritas muslim, salah satu negara di afrika timur, dan salah satu negara ex-sovyet di kawasan eropa timur . Menjalani bulan ramadhan di negara dengan kebudayaan yang berbeda memiliki kesan tersendiri bagi saya pribadi. Negara mayoritas muslim di asia tengah misalnya, hampir sama dengan Indonesia, waktu bekerja tidak jauh beda dengan hari-hari biasa, aktivitas diluar bisa dibilang sama dengan bulan-bulan lain, suasana shalat tarawih juga mirip dengan Indonesia. Negara afrika timur beda lagi, komposisi penduduk dimana jumlah muslim banyak namun jumlah non-muslim lebih mayoritas membuat waktu bekerja tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa, aktivitas harian di jalanan pun seperti biasa, masjid ramai saat tarawih lebih dikarenakan jumlah masjid yang tidak banyak.

Negara ex-sovyet kawasan eropa timur jangan ditanya, negara dengan penduduk penganut kristen orthodox tersebut tentu tidak akan ditemukan perbedaan saat bulan ramadhan. Namun bukan berarti negara tersebut tidak memperbolehkan umat muslim untuk beribadah, ada setidaknya satu masjid turki di kota tersebut dimana setiap jumat selalu dipenuhi umat muslim dari berbagai aliran dan negara untuk melaksanakan shalat jumat. Ketika Eid pun dilaksanakan shalat dimasjid tersebut, begitu pula tarawih dan pengumpulan zakat. Namun diluar itu semua aktivitas khas eropa dari pagi hingga malam hari seperti makan-minum, pasangan-pasangan (maaf) berciuman dengan bebas di jalanan, dsb berjalan seperti biasa. Saya sebelumnya selalu berpikir tidak masalah tinggal di negara manapun bahkan negara non-muslim sekalipun asalkan kita tetap menjalankan syariat islam seperti biasa. Walaupun mungkin untuk shalat berjamaah harus bersusah payah jalan jauh naik taksi mencari masjid, dan ketika shalat sendiri di ruangan kantor akan jadi pemandangan unik serta dilihat oleh setiap orang yang lewat seharusnya tidak masalah. Namun kemudian hati berkata lain setelah mengalami secara langsung, ada keinginan muncul untuk tinggal dan merasakan suasana ramadhan yang seharusnya spesial di negara islam.

Kesempatan tersebut datang setelah mendapatkan pekerjaan di Qatar. Tidak perlu jauh-jauh membandingkan dengan eropa, perbedaan suasana ramadhan di Qatar dengan di Indonesia pun saya rasakan cukup mencolok. Mulai dari jam kerja yang dipangkas dari 8 jam sehari menjadi cuma 6 jam, jalanan yang terbilang sepi dari pagi hingga sore seakan-akan tidak ada aktivitas diluar rumah apalagi jam berbuka puasa dimana jalanan diluar tampak seperti kota mati, toko-toko yang tutup pada waktu menjelang berbuka dan baru buka kembali setelah waktu shalat tarawih selesai (umumnya tutup dari jam 4:00 sore dan buka lagi jam 8.30 malam hinggal jam 00:00 / 01:00 dini hari), suasana masjid yang sangat ramai bukan saja oleh orang-orang dewasa tapi juga anak-anak kecil ketika shalat fardhu dan tarawih, jam bekerja yang disesuaikan saat ramadhan membuat orang-orang bisa menghabiskan lebih banyak di masjid seperti mendengarkan ceramah setelah shalat fardhu dan membaca al-quran, dsb. Intinya, negara ini sangat mengkhususkan bulan ramadhan, dinegara inilah seorang muslim bisa merasakan indah serta khusuknya bulan ramadhan. Tanpa bermaksud membandingkan dengan kondisi negara kita tercinta dimana saat berbuka menjadi ajang ‘kuliner’ menikmati makanan layaknya festival selama sebulan penuh, suasana berbuka disini dilakukan dengan biasa-biasa saja. Suasana ditempat bekerja pun tidak kalah bedanya – setidaknya ketika di Indonesia untuk pekerjaan engineer seperti saya justru bulan ramadhan diisi dengan aktivitas padat guna mempersiapkan idul fitri seperti ramadhan tahun 2006 dimana saya habiskan selama 3 minggu bekerja dari pagi hingga selesai berbuka puasa diruang mesin dan ketika pulang ke hotel pun tidak ada waktu untuk tarawih karena ingin segera istirahat untuk esok harinya – di Qatar justru sebaliknya, setiap orang menghargai bulan ramadhan baik rekan kerja di kantor maupun customer, pekerjaan bisa dibilang jauh lebih ringan dari hari-hari biasa.

Hal terakhir yang benar-benar luar biasa bagi saya pribadi adalah suasana di 10 hari terakhir ramadhan. Saya sering iri dengan anak-anak disini, di beberapa masjid saya lihat peserta i’tikaf anak-anak (melihat ukurang badannya sekitar umuran SD-SMP), bukan lagi remaja seperti layaknya di Indonesia. Memang kebetulan ramadhan ini sekolahan libur karena bertepatan dengan liburan summer, dan melihat anak-anak tersebut melakukan i’tikaf dengan membawa serta selimut (masjidnya sangat sejuk!) adalah pemandangan yang membuat hati saya menciut. Belum lagi melihat pemandangan shalat malam di masjid-masjid. Kebetulan saya shalat malam di masjid ain khalid, jam 1 malam kawasan masjid tersebut dipenuhi oleh mobil-mobil mewah, didalam masjid yang sejuk tersebut ramai bershaf-shaf deretan jamaah melakukan shalat malam mulai dari (lagi-lagi) anak kecil hingga orang tua. Shalat malam di masjid pun dibuat sangat nyaman, lampu dibuat redup, botol air mineral disediakan berderet-deret dan bebas dinikmati secara gratis, bacaan yang sangat panjang namun tidak terburu-buru sehingga enak didengar (rata-rata 2 rakaat menghabiskan sekitar 15 menit untuk 10 rakaat pertama, sisanya bacaan lebih pendek, sehingga total waktu shalat antara jam 1 – jam 3). Secara pribadi, alhamdulillah saya menjadi penikmat shalat malam setelah merasakan pengalaman shalat malam di masjid tersebut pada bulan ramadhan, dan sampai sekarang merindukan nikmatnya suasana shalat malam berjamaah seperti itu. Harapan untuk bisa merasakan kembali sepertinya harus disimpan hingga bertemu dengan bulan ramadhan tahun depan insya allah jika masih ada umur.

Bersedekah dan berzakat di Qatar pun tidak ketinggalan mudahnya. Di masjid menjelang berakhirnya bulan ramadhan bisa ditemukan orang yang mengumpulkan zakat fitrah dimana terdapat kupon dengan tertera sejumlah uang yang harus dibayarkan per kepala tahun itu. Sedangkan untuk bersedekah saya cenderung memilih untuk mengirimkan uang ke Indonesia dan disalurkan dengan bantuan keluarga disana. Mengirim uang pun tidak perlu repot-repot melalui pengiriman antar bank internasional yang memakan waktu berhari-hari karena di Qatar ada representatives bank mandiri melalui fasilitas remittence Mandiri Money Transfer. Cukup mengambil uang di ATM, datang ke representative Bank Mandiri di Al Fardan Exchange, kirim, dan uang tersebut sudah bisa diterima keesokan harinya oleh keluarga di Indonesia. Praktis.

Berbekal ragam pengalaman tinggal dinegara lain membuat saya dan keluarga sangat bersyukur bisa tinggal di Qatar. Kalaupun rindu dengan kuliner khas Indonesia, ada beragam tempat di Qatar yang menyediakan makanan khas Indonesia dengan cita rasa yang tidak kalah dengan yang biasa kita temukan di Indonesia. Yang pasti, negara islam seperti ini memberikan kenyamanan beribadah bagi kita umat muslim dan insya allah membuat ibadah serta kehidupan islami kita menjadi lebih baik. Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s