Mengontrakan Rumah

Liburan bulan juni-juli kemarin sebetulnya selain diperuntukan sebagai pelepas lelah saya memanfaatkan-nya untuk beberapa hal, termasuk diantaranya mengurus rumah cibubur. Rumah tersebut saya beli akhir tahun 2007 dengan menggunakan metode cicilan keras dari pihak developer cibubur country. Cicilan keras disini berjalan selama 4 tahun yang berarti total harga rumah dibagi 48 (12×4). Kenapa cicilan keras?! itulah resiko pekerja kontrakan :). Saya bekerja overseas sejak awal tahun 2007 dan sifatnya kontrak bukan permanen, untuk mendapatkan KPR dibutuhkan status pekerjaan permanen, atau setidaknya bekerja di Indonesia. Saya sempat mencoba KPR namun selalu ditolak oleh bank saat itu, alasannya ya itu tadi karena overseas. Jadi cicilan keras adalah pilihan satu-satunya. Bulan lalu saat liburan saya sempat juga melihat-lihat perumahan di kawasan kota wisata cibubur dan ngobrol-ngobrol dengan pihak marketing-nya, hasilnya adalah dari daftar cukup panjang bank yang bekerja sama dengan pihak kota wisata tersebut hanya ada satu bank yang bisa memberikan KPR untuk orang yang bekerja overseas namun syaratnya harus berstatus permanen, bank tersebut adalah bank permata. Syarat awal yang dibutuhkan adalah surat pernyataan standar dari HRD perusahaan kita bekerja bahwa benar kita bekerja pada perusahaan tersebut serta slip gaji 3 bulan terakhir. Untuk gaji juga ada batasan-nya yaitu diatas 30 juta rupiah per bulan.

Kembali pada masalah rumah di cibubur country, pihak developer berjanji untuk unit yang saya beli akan dibangun dalam waktu 2 tahun. Saat saya membeli rumah cibubur country, walaupun di televisi gembar-gembornya seakan-akan sudah dibangun rumahnya namun ternyata lahan cibubur country tahun 2007 itu masih berupa tanah kosong melompong. Saat itu benar-benar tidak ada bayangan akan seperti apa lokasi rumahnya, dimana letaknya, bagaimana bentuknya, dsb. Tidak ada rumah contoh sama sekali (agak berbeda dengan kota wisata, mereka memasarkan suatu cluster walaupun belum dibangun namun rumah contoh termasuk yang dibangun pertama kali, jadi berjalan agak parallel dan pembeli dapat melihat rumah contoh lebih cepat walaupun yang didalam cluster-nya belum jadi). Namun ketika itu saya pertimbangan saya adalah: lokasi di hook, ambil tanah yang cukup besar, dekat dengan taman komplek, dekat dengan club house. Saat itu sempat diberikan 2 pilihan, pilihan pertama pas dengan lokasi hook serta tanah yang cukup besar namun jauh dari pusat komplek (taman, club house, dsb), pilihan yang kedua memenuhi kriteria yang saya inginkan. Alhasil walaupun harganya cukup mahal namun pilihan jatuh pada lokasi yang kedua.

Hidup selalu penuh dengan pelajaran, itulah yang saya rasakan selama ini. Dan seperti kata iklan di televisi, jika tidak kotor (mencemplungkan diri) maka tidak akan pernah belajar. Tidak terkecuali dalam hal memilih rumah. Harus saya akui bahwa memiliki sebuah rumah termasuk salah satu pelajaran sangat berharga dalam hidup. Saya memulai-nya betul-betul dari awal dan bisa dibilang modal nekat tanpa berbekal pengetahuan yang cukup. Ketika orang-orang memilih rumah dengan sangat hati-hati bahkan berulang kali datang ke lokasi untuk melihat dan membandingkan beberapa tempat, saya hanya datang sekali dengan istri dan ayah saya dan langsung deal hehe. Setidaknya pengalaman tersebut membuat saya sadar memiliki sifat gak mau banyak ribet serta nekat. Atau mungkin bodoh hehe. Ketika itu saya memang tidak punya cukup banyak waktu untuk melihat-lihat karena harus segera kembali bekerja overseas dan meninggalkan Indonesia, namun setidaknya memilih lahan kosong ibaratnya seperti taruhan dan mungkin hanya dilakukan oleh orang-orang yang berniat investasi di properti.

Segera setelah deal dengan rumah tersebut muncul beragam kesulitan mulai dari memenuhi pola cicilan keras dimana sejumlah besar uang harus dikeluarkan tiap bulan padahal tipikal kerja kontraktor tidak setiap saat ada pekerjaan, hingga masalah pembangunan komplek yang tidak sesuai dengan apa yang di katakan oleh pihak marketing saat memasarkan dulu (contoh: listrik saat itu dikatakan 2200, namun ternyata hanya dapat 1300 sehingga saya harus menambah sendiri untuk dapat 2200, listrik harusnya bawah tanah namun ternyata tiang-tiang listrik berdiri di setiap cluster, dsb). Dalam perjalanan saya sempat menyesali keputusan membeli rumah tersebut dan berulang kali menyesali kebodohan dan kenekatan saya yang membeli rumah dengan kondisi infrastruktur baru dibangun dari nol, apalagi ketika melihat komplek lain disekitar seperti kota wisata ataupun kota legenda dimana infrastruktur komplek sudah jadi. Namun tidak semuanya jelek dari developer cibubur country karena ternyata mereka tepat waktu dalam hal menyelesaikan unit rumah yang saya beli, tepat 2 tahun sejak dibeli rumah tersebut sudah jadi. Sebetulnya untuk ditempati sudah bisa namun karena berjalan paralel dengan infrastruktur komplek (pembangunan taman, club house, dsb) sehingga memang agak kurang nyaman jika tinggal di daerah yang masih serba dibangun tersebut. Toh saat itu saya juga sekeluarga masih bekerja diluar negeri sehingga kebutuhan untuk tinggal di rumah tersebut tidaklah terlalu crucial. Hingga sampai tahun 2010 ketika saya sempat memutuskan bekerja di Indonesia barulah rumah tersebut sangat dibutuhkan sebagai tempat tinggal. Pelajaran selanjutnya pun dimulai, yaitu renovasi rumah. Saya akan bahas lain kali, namun yang pasti hasil renovasi-nya pun sempat membuat saya kecewa karena mengakibatkan bocor yang tidak kunjung selesai.

Hasil rumah yang dibangun pihak developer sebetulnya sama sekali tidak mengecewakan dalam hal kualitas, hingga saat ini setelah renovasi bagian yang termasuk bangunan awal tidak mengalami masalah, dinding-nya rapih dan atapnya bersih. Walaupun ditinggal / tidak ditempatin barang didalamnya (contoh: kasur) tidak kotor. Pokoknya bangunan dari developer OK.

Akhirnya saya, istri, dan anak-anak sempat merasakan tinggal di rumah tersebut selama beberapa bulan sebelum hijrah ke Qatar. Saya dan istri sering bercanda bahwa akhirnya kami bisa merasakan kehidupan ‘normal’ layaknya orang Indonesia pada umumnya, tinggal di rumah sendiri hehe. Karena sebelumnya istri mengatakan pada saya kehidupan kita agak diluar normal karena baru nikah sudah loncat kesana kemari dan selalu tinggal di apartement dengan kebudayaan yang berbeda-beda. Saat menempati rumah itu terasa sekali ‘kehidupan indonesia-nya’. Saat itu, tepatnya hampir genap 4 tahun sejak membeli rumah yang awalnya tanah kosong, infrastruktur cibubur country mulai terbentuk. Taman-taman mulai banyak mainan anak-anak, pohon-pohon mulai tumbuh tinggi, jalan boulevard mulai terbentuk, ruko-ruko mulai banyak, masjid mulai dibangun, dsb.

Setelah 4 tahun saya mulai bersyukur saat pemilihan awal dulu tidak salah langkah, walaupun cukup bodoh saat memulai namun setidaknya pertolongan Allah saat itu membuat pilihan saya tidak salah. Cluster yang saya pilih bisa dibilang cluster paling ramai di cibubur country. Cluster tersebut dihuni oleh para pemiliknya alias bukan orang-orang yang hanya sekedar invest dimana setelah rumah jadi dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Dan dari semua cluster, cluster saya yang ada masjidnya. RT-nya pun termasuk yang paling aktif dan kompak (padahal saya cuma pernah ikut sekali pertemuan RT tapi bisa melihat kok bahwa RT tersebut kompak2 hehe…). Setiap sore ramai anak-anak bermain di taman komplek. Yang pasti, saya sangat bersyukur dekat dengan masjid. Masjid tersebut juga dijaga dan dimanfaatkan dengan baik oleh warga sekitar. Alhamdulillah nyaman untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid tersebut. Padahal sebelumnya tidak ada gambaran lokasi masjid.

Saat ini club house-nya sudah jadi, dan orang dari luar komplek bisa masuk club house tersebut. Walaupun (lagi-lagi) pihak marketing yang dulu mengatakan warga komplek akan bisa masuk club house secara gratis namun ternyata tidak demikian faktanya (dan warga lagi-lagi secara aktif melakukan protes bersama-sama namun tidak didengarkan), namun saya rasa tidak terlalu masalah. Yang terpenting pihak estate menjaga cluster dengan memasang pagar pembatas sehingga orang luar tidak bisa sembarangan masuk ke cluster saya yang terhitung dekat dengan club house tersebut (jalan kaki sekitar 5 menit). Pos satpam dalam cluster pun cukup dekat, rumah saya kebetulan bagian belakang-nya (diluar cluster) adalah pos satpam yang cukup besar (menghadap boulevard) dan lagi-lagi tidak ada dalam peta awal dulu, setidaknya ini membuat posisi rumah saya cukup aman. Pos satpam dalam cluster pun berada dalam jarak pandang, jadi insya allah setiap saat ada satpam yang bisa melihat kondisi rumah dari kejauhan.

Jerih payah selama 4 tahun walaupun tidak 100% puas namun setidaknya terbayar dengan baik ketika melihat perkembangan komplek cibubur country khususnya lokasi rumah tersebut. Kemarin juga sempat ngobrol dengan pihak estate, ternyata pembangunan jalan tol cibubur dengan pintu keluar daerah cikeas masih terus berlangsung. Kabar terakhir sih boulevard cibubur country nantinya akan nyambung dengan pintu tol tersebut, sehingga akses tol akan sangat dekat dengan komplek cibubur country. Dulu memang sudah dikatakan bahwa akses tol cikeas akan dibangun dan termasuk yang digembar-gemborkan developer, saya hanya bisa membayangkan jika memang berjalan sesuai rencana maka komplek tersebut akan sangat bernilai karena dekat dengan lokasi pintu tol. Orang tidak perlu lagi seperti sekarang, kena macet cukup panjang untuk bisa keluar dari cibubur. Well, setidaknya nilai aset rumah disitu akan naik :).

Sebelumnya sempat saya singgung bahwa kondisi cluster adalah yang paling ramai, mungkin itu ada hubungan-nya dengan lokasi yang dekat ke taman komplek serta club house (setidaknya ada 2 cluster yang ramai dihuni saat ini), bahkan penghuni dari cluster lainpun dikabarkan pada pindah ke cluster tempat saya tersebut.

Ketika berlibur bulan lalu saya sempat bimbang akan diapakan rumah tersebut karena jika terus-terusan ditinggal rumah akan rusak, dan saya tidak ada rencana untuk pulang serta tinggal di Indonesia dalam waktu dekat. Pilihan adalah dikontrakan atau dijual. Setelah berunding dengan keluarga akhirnya diputuskan untuk mencoba dikontrakan. Saya sama sekali belum pernah coba untuk mengontrakan rumah tersebut dan agak pesimis ada yang mau mengontrak-nya apalagi cibubur country kan masih terbilang komplek yang sepi dibandingkan komplek-komplek lain yang sudah ada lebih dulu, namun ternyata kenyataan berkata lain. Ayah saya memasang tulisan sederhana di depan rumah bahwa rumah tersebut dikontrakan, setidaknya dalam beberapa hari ada orang yang tertarik bahkan bukan saja untuk mengontrak tapi juga membeli rumah tersebut. Ternyata lokasi memang sangat menentukan, kondisi rumah di hook dan bersebelahan dengan taman kecil komplek memiliki daya tarik tersendiri, ditambah tanah-nya pun cukup luas plus sudah ada taman rumah. Daya tarik lain mungkin seperti yang saya sebutkan diatas (ramai penghuni sehingga clusternya hidup, dekat taman, dekat club house, dsb). Rasa pesimis pun berubah dan mulai berpikir harga kontrak yang ditawarkan mungkin terlalu murah karena rumahnya sudah ada isi walaupun belum lengkap (2 kamar tidur sudah ada tempat tidur serta lemari, ruang tengah ada sofa, televisi tersedia, kamar utama di berikan lantai parkit, taman terawat dengan baik). Saya memang tidak memasang harga terlalu tinggi walaupun rumah sudah direnovasi serta ada isinya, setidaknya karena saya ingin rumah tersebut ditempatin sehingga tidak rusak.

Sepertinya proses memiliki rumah yang dilalui dengan banyak cobaan dan pelajaran membuahkan hasil yang cukup baik. Walaupun awalnya berniat untuk rumah tinggal namun ternyata memiliki nilai investasi yang bisa dibilang baik. Saya juga jadi belajar bagaimana merencanakan investasi properti seperti rumah tinggal nih :p.

In the end, kualitas hidup wilayah cibubur menjadi pilihan tersendiri bagi sebagian orang. Banyak orang lebih memilih berhadapan dengan macet dan perjalanan panjang (jika kerja di jakarta berdasarkan pengalaman saya, tinggal di cibubur harus siap bermacet-macet ria setidaknya 3 jam per hari – 1.5 jam pergi dan 1.5 jam pulang) demi mendapatkan lokasi tempat tinggal yang jauh dari kebisingan kota serta udara yang masih bersih seperti cibubur terutama sekali bagi anak-anak. Harus saya akui, pagi hari di cibubur setelah shalat subuh adalah anugrah luar biasa. Udara bersih, dingin, nyaman (walaupun siangnya sering panas juga kalau musim kemarau), dan suasana jika hujan…wah susah deh digambarkan dengan kata-kata :).

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s