Enjoying Villages

Tidak terasa sudah satu minggu menghabiskan masa liburan di wonsobo. Sejak pertama kali menginjakan kaki disini 5 tahun yang lalu ketika baru menikah sudah cukup banyak perubahan khususnya daerah sekitar tempat keluarga saya tinggal. Jalanan masuk dari jalan raya sudah semakin baik, perumahannya semakin rapih, dsb. Namun ada juga hal yang sama sekali tidak berubah, kondisi alamnya yang sangat asri, cuacanya yang selalu sejuk cenderung dingin sepanjang hari, serta suasana pedesaan yang tenang.

Jika sebelumnya menginap di padma hotel bandung untuk mendapatkan suasana alam yang sangat romantis, disini suasana alam sudah tersedia secara gratis jadi ibarat tinggal di villa. Tempat tinggal keluarga disini bisa dibilang cukup dekat dengan pusat kota wonosobo sehingga tidak terlalu desa (jalan beberapa KM sudah sampai pasar induk ataupun alun-alun kota), namun untuk bisa melihat alam pedesaan juga tidak terlalu sulit.

Sebelum memulai liburan saya sudah membayangkan akan menikmati suasana alam yang luar biasa ini dan tentunya dapat me-reset mood bekerja yang sempat memudar karena kelelahan. Bayangan tersebut tidak salah ;). Menikmati subuh, menunggu matahari terbit, menikmati sarapan secara sederhana dengan kondisi cuaca yang sangat sejuk, tidur siang (ahayyy hehehe), berjalan-jalan di daerah persawahan, memandang hamparan luas persawahan dan perkebunan, mendengar suara gemericik air, makan siang di persawahan, dsb. Hal-hal yang tiba-tiba menjadi sangat berharga sekali.

Jaman sekolah dulu ada sering disebut istilah ‘tafakur alam’ terutama oleh rekan-rekan ikhwan, saya cukup menyesali tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan remaja masjid tersebut semasa sekolah dan baru menyadari indahnya menafakuri alam beberapa tahun terakhir ini saja. Nah, pada kesempatan yang sangat jarang sekali bisa didapatkan seperti sekarang ini tidak lupa saya mengajak anak-anak untuk menikmati bersama, terutama jasmine yang sudah mulai paham. Sayangnya ketika tahun-tahun sebelumnya saya dan istri mendapatkan kesempatan berpindah-pindah negara dan merasakan kehidupan serta kebudayaan berbeda dari setiap negara tersebut umur jasmine masih terlalu kecil jadi belum bisa melihat dan merasakan langsung, namun setidaknya saat ini dia sudah bisa mulai membedakan antara kehidupan di Qatar dan di Indonesia khususnya pedesaan. Saya beberapa kali mengajak jasmine bermain dan melihat persawahan sekitar, dan kebetulan jasmine adalah tipe anak yang sangat aktif dan hobi kegiatan diluar rumah (beda dengan kedua orang tuanya hehehe) sehingga dia cukup menikmati melintasi pematang sawah, menyebrangi sungai dengan kondisi jembatan yang terbuat dari bambu sederhana (jasmine sempat ngeri juga dan pegangan tidak mau melepas tangan saya), duduk diatas perbukitan menikmati hamparan pemandangan serba hijau, serta mendengarkan alunan gemericik air sungai.

This slideshow requires JavaScript.

Enam tahun lalu ketika mulai bekerja rekan saya di siemens indonesia pernah mengatakan cita-citanya kelak adalah menjadi petani. Saat itu saya berpikir dia hanya bercanda walaupun rekan tersebut mengatakan dia serius. Kalaupun saya artikan kata-katanya itu adalah serius tetap saja saya berpikir dia ‘gila’, susah payah menjadi engineer tapi pada akhirnya malah bertani. Sekarang, saya rasa cita-citanya itu bukan sesuatu yang gila dan mungkin patut di jadikan mimpi pribadi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s