Kontrak v.s Permanent (3)

Setelah menulis tentang judul yang sama tahun 2009 lalu, dan dilanjutkan dengan judul yang sama tahun 2011, tiba saatnya saya menuliskan tentang judul yang sama bagian ke-3 tahun 2012 :). Kenapa harus beda tahun?simple, karena saya menuangkan dalam bentuk tulisan setelah mengalaminya sendiri. Tulisan pertama saya tulis ketika masih masih berstatus kontraktor dan mulai berdiskusi dengan teman mengenai bekerja permanen, tulisan kedua ditulis ketika masa perpindahan dari kontrak ke permanen. Setelah satu tahun merasakan bekerja dalam tempurung (hey, hey, tempurung? yeap…) akhirnya beberapa teka-teki yang sebelumnya menjadi pertanyaan tak terjawab mulai terbuka sedikit demi sedikit. Sebetulnya sempat terpikir untuk membuat tulisan ini dari kemarin-kemarin namun rasanya mualas sekali, terlebih sejak di Qatar saya bisa dibilang tidak pernah lagi membuka-buka milis seperti parakontel. Diskusi dan ngobrol ringan dengan beberapa rekan membuat saya terpikir untuk menyelesaikan tulisan ini karena mungkin akan berguna bagi rekan-rekan lain yang dalam kondisi: sudah menjadi kontraktor overseas bertahun-tahun dan mulai berpikir menerima tawaran permanen, ataupun bagi yang bimbang karena saat ini sudah permanen dan merasa kurang puas di indonesia sehingga berpikir apakah sebaiknya pindah jalur menjadi kontraktor atau apply internal job market (ehm…, siapa yaa…).

Pertanyaan yang umumnya dilontarkan oleh kontraktor biasanya seputar income, kebebasan, serta kesenangan. Engineer telekomunikasi yang memilih bekerja overseas tentu tidak bisa memungkiri bahwa prioritas utamanya adalah income besar, setelah itu baru kebebasan dan fun apalagi jika bisa bekerja di negara yang bagus. Itu sebabnya apabila ditawarin permanen tentu akan mengalami kecemasan menerima kenyataan mendapatkan income yang lebih kecil, kebebasan yang terbatas (tidak bisa se-enak udel berhenti dan mulai kapan saja), serta berkurangnya kesenangan berpetualan mengunjungi negara-negara dengan kebudayaan yang unik. Tentu saja faktor-faktor seperti kebebasan dan kesenangan sifatnya subjektif, setiap orang memiliki tingkat perhitungan sendiri mengenai bagaimana bisa merasakan kebahagiaan. Seorang kakek-kakek yang menyapu jalanan dengan bayaran sangat kecil saja masih bisa merasakan bahagia ketika istirahat siang bersama teman-temannya, sedangkan seorang pengusaha sukses bisa ditemukan mati bunuh diri.

Hal yang menarik sebetulnya masalah income antara permanen dan kontraktor. Saya tentu saja tidak akan terlalu vulgar disini, namun ada beberapa hal yang tidak diketahui oleh kontraktor mengenai status permanen. Perhitungan disini berdasarkan pengalaman pribadi saya dengan region (middle-east) dan bidang yang sama (engineer).

1) Dalam status permanen ada yang disebut basic salary dan allowance. Jika berbicara basic salary tentunya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan pendapatan kontraktor. Jika diambil persamaan rata-rata, maka basic salary sekitar kurang dari setengah bayaran kontraktor (all inclusive). Jadi misalnya kontraktor dapat 10k usd, maka basic salary kurang dari 5k usd.

2) Monthly allowance. Bekerja dengan status permanen ada yang disebut allowance, allowance ini ada yang sifatnya bulanan ataupun tahunan. Yang sifatnya bulanan seperti housing dan car allowance. Jadi kita diberikan allowance sekian dan sisanya kita menyesuaikan dengan gaya hidup. Nah kadang ini bisa menjadi masalah terutama jika kita tidak mengenal kondisi negara dimana kita akan tinggal menetap. Bisa jadi ketika melakukan negosiasi kita merasa housing allowance ini cukup namun ternyata dinegara tujuan harga allowance untuk rumah itu dibawah standar yang kita inginkan akibat negara tujuan biaya hidupnya lebih mahal. Nah, berbicara mengenai allowance inilah yang umumnya tidak disadari oleh kontraktor. Kenapa? karena allowance bulanan ini bisa jadi nilainya lebih besar dari basic salary. Allowance bulanan pun ada yang sifatnya statis, dan dinamis. Statis disini seperti housing dan car allowance (dimana fungsinya tentu sudah bisa dicerna untuk apa), ada juga yang sifatnya dinamis. Contoh: untuk employer saya saat ini ada yang disebut on-call allowance. Jadi engineer biasanya ada jadwal standby untuk ditelp setiap malam oleh customer, di telp atau tidak tetap namanya standby akan diberikan penghargaan berupa allowance. Biasanya jika dalam satu team ada 2 orang maka dalam satu bulan jadwal standby akan dibagi dua dan ini berarti penghargaan untuk standby ini juga dibagi dua, namun adakalanya jika hanya ada satu orang dalam team ya berarti selama sebulan harus siap di telp kapan saja, namun penghargaan dalam bentuk allowance ya otomatis full satu bulan untuk engineer tersebut. Ini salah satu contoh allowance yang sifatnya dinamis.

3) Tanggungan untuk keluarga. Ini udah jelas salah satu kelebihan permanen dimana segala hal yang berhubungan dengan kesejahteraan bukan hanya untuk kita namun juga untuk keluarga. Hal-hal seperti tiket pulang pergi untuk satu keluarga per tahun, asuransi kesehatan, uang sekolah anak masuk dalam kategori ini. Pada awalnya tampak sepele bagi kontraktor, namun jika dipikirkan lagi ini tidak bisa dianggap sepele. Kontraktor yang bergaji gede umumnya akan ikut asuransi kesehatan baik bagi dirinya sendiri ataupun keluarga di indonesia, terlepas dari bagus atau tidaknya askes yang di-ikuti tidak bisa dipungkiri bahwa asuransi juga memiliki bisnis sendiri dan tentunya mereka akan mencari untung sebesar-besarnya. Bisa jadi claim tidak mudah ketika anak kita sakit, ataupun tetap harus bayar sekian padahal premi bulanan sudah besar, dsb. Satu hal lagi yang sangat penting, tidak semua orang pandai mengatur keuangan. Ada yang bakatnya di bidang engineering dan dengan polosnya bisa di bodoh-bodohin oleh instansi keungan / finance seperti asuransi kesehatan, akibatnya gaji gede dan ingin atur sendiri malah kejadian bablas masuk ke rekening asuransi tanpa merasakan benefit yang maksimal.

Untuk permanen, masalah asuransi tentunya sudah di manage oleh perusahaan dan oleh orang-orang yang berkompten. Sebagai pegawai tidak perlu memikirkan masalah itu, yang penting ketika dibutuhkan tidak mengganggu flow keuangan pribadi kita (tinggal tunjuk kartu dan dapat obat). Masalah lain: sekolah anak. Bisa saja seorang kontraktor sudah menyiapkan dana pendidikan untuk anaknya selama bertahun-tahun, namun lagi-lagi itu berarti kontraktor tersebut (said it, engineer) harus pandai masalah mengelola keuangan. Dalam permanen tentu sekolah anak masuk dalam kategori yang ditanggung oleh perusahaan. Hal penting yang mungkin kurang disadari adalah, anggaplah kontraktor bekerja overseas dan anaknya tinggal di Indonesia, tentu dia ingin anaknya masuk sekolahan yang baik. Uniknya, jaman sekarang di Indonesia yang masuk kategori sekolah baik adalah sekolah yang bisa membuat seorang anak berbahasa inggris cas-cis-cus sejak kecil. Saya banyak melihat orang-orang keturunan tiong hoa di Indoensia memiliki sekolah private dan ketika di mall ngomong english dengan ortunya padahal baru berusia dibawah 5 tahun. Nah, dengan ikut kita bekerja di luar negeri otomatis anak-anak akan masuk sekolah international dimana bahasa keseharian adalah english. Ibaratnya, di Indonesia untuk menyekolahkan anak di international school (dengan asumsi untuk mendapatkan kemampuan speaking english, masalah teknikal tentu masalah lain) kita harus mengeluarkan kocek sangat mahal, ketika anak kita ikut overseas juga secara otomatis mendapatkan sekolah bernuansa english speaking dengan standar international, PLUS…dibayarin kantor pula.

4) Bonus. Seriously, saya bisa dibilang terbengong-bengong dengan tambahan berupa bonus ini. Kebetulan untuk bonus ini diberikan 2x dalam setahun dan jumlahnya juga, well…not bad at all.

5) Moving allowance. Ini apalagi lebih membuat terbengong-bengong. Beberapa kali saya dengan polosnya konfirmasi ke HRD dengan kekuatiran mereka salah kirim duit (dan salah satunya memang bener, HRD kirim gaji 2x karena kesalahan :p), moving allowance ini adalah yang pertama kali. Ketika gaji pertama masuk saya sempat heran kenapa beda jauh dengan yang tertulis di kontrak awal, kuatir salah kirim saya email HRD-nya bilang bahwa gaji bulanan yang tertulis dan disetujui dengan Line Manager tidak sebesar itu, jumlahnya lebih kecil. Belakangan HRD-nya menjelaskan dengan slip gaji rincian allowance yang didapatkan, moving allowance ini hitungannya ternyata 2x basic salary.

6) Refundable money. Saya gak bisa memberikan istilah yang tepat jadi sebut aja ‘refundable’. Refundable disini maksudnya allowance seperti car allowance dan moving allowance. Saya ingat sekali ketika kontrak di tanzania, dalam sebulan harus mengeluarkan duit sebesar 900 USD untuk rental mobil. Dalam setahun sudah menghabiskan 10.800 USD. Apakah duitnya kembali? ya jelas tidak. Nah, dalam kasus permanen, kita bisa mencicil mobil. Anggaplah cicilan lunas dalam waktu 3 tahun, jika kita ingin pindah ke tempat lain mobil ini bisa dijual kembali dan kita masih bisa mengambil sekian persen dari total uang yang kita keluarkan sebelumnya untuk mencicil mobil dan diambil dari car allowance. Anggaplah penurunan nilai mobil-nya max, yaitu 20%. Setelah 3 tahun ketika dijual kembali setidaknya 40% dari total car allowance yang dikeluarkan masih bisa kembali. Yang lebih menguntungkan tentu saja jika bekerja lebih dari 3 tahun tersebut, yang berarti setelah cicilan mobil lunas car allowance akan masuk 100% duitnya ke kantong kita, pun ketika ingin pindah (mis: setelah 5 thn) mobil tersebut bisa dijual kembali dan masuk juga duit ke kantong sebagai tambahan.

Hal yang sama dengan moving allowance, barang-barang yang semula kita beli untuk mengisi apartement misalnya, bisa dijual kembali jadi setidaknya tidak 100% hangus. Bandingkan ketika kontrak dimana harus rental rumah beserta isinya (umumnya, tp tentu saja kadang ada yang kontrak tapi tinggal di kost-kost an ataupun bisa beli barang2 juga).

7) Holiday and get paid. Jika berstatus kontraktor, ketika kita ambil holiday katakanlah 3 minggu, maka bayaran bulan itu akan pro-rate (1 minggu). Dalam status permanen, setidaknya di tempat saya bekerja, ada jatah atau hak mendapatkan cuti sebanyak 25 hari kerja, alias 1 bulan 10 hari kalender lah. Ketika ambil cuti tersebut bayaran ya tetap masuk seperti biasa, yang berarti dalam satu tahun total bekerja lebih kuran 11 bulan dan libur 1 bulan tapi gaji tetap 12x. Bedakan dengan kontraktor yang dibayar sesuai jumlah hari kerja, dan kontraktor tidak ada istilah liburan tapi tetap digaji.

Faktor-faktor diatas yang biasanya tidak disadari atau diketahui oleh para kontraktor telekomunikasi. Biasanya cuma mendengar informasi berupa ‘basic salary’ dan langsung ngeri karena biasanya mendapatkan jauh lebih besar daripada itu. Ketika memikirkan tawaran permanen di project terakhir saya di kuwait tahun 2010 lalu, saya sempat ngobrol dengan bebarapa rekan yang sudah berstatus permanen dan sebelumnya bekerja sebagai kontraktor, saat itu mereka semua bilang ‘sama aja dapatnya antara permanen dan kontraktor’. Yang membedakan adalah permanen di-manage perusahaan dan kontraktor manage sendiri. Ketika itu saya gak habis pikir bagaimana bisa sama jelas-jelas beda salary antara kontraktor dan permanen. Saat itu tidak ada yang memberitahu mengenai ragam allowance, mengenai bonus, dsb.

Sekarang jika kita ambil satuan waktu selama 1 tahun untuk faktor-faktor diatas dan melakukan hitung-hitungan, setidaknya pekerja berstatus permanen dimana THP per-bulan nya yang bisa dibilang sama ataupun kurang sedikit dibandingkan kontraktor tetap mendapatkan tambahan berupa: tiket PP sekeluarga, bonus, 1 bulan gaji tambahan ketika ambil cuti bulanan, sekolah anak, asuransi kesehatan, moving allowance di tahun pertama. Ini juga jika perbandingan dilakukan dengan asumsi sang kontraktor mendapatkan pekerjaan berkesinambungan selama satu tahun penuh karena tidak semua pekerjaan kontraktor bisa bertahan lama, banyak juga project-project yang membutuhkan hanya 3-6 bulan selebihnya menganggur di Indonesia.

In the end, satu hal yang saya rasakan sangatlah berharga ketika berstatus permanen seperti sekarang ini. Saya akuin memang beban pekerjaan lebih berat ketika berstatus permanen, mungkin akan dibahas pada tulisan berikutnya kenapa bisa lebih berat, serta rasa jenuh karena harus berdiam sangat lama di negara yang sama sementara sebelumnya telah merasakan bekerja dengan bebas loncat kesana kemari, namun yang pasti, seberat / sejenuh apapun permasalahan di tempat bekerja, ketika saya mengetuk pintu rumah disore hari, ada wajah-wajah mungil tersenyum menyambut ketika membukakan pintu rumah. Wajah-wajah yang dengan seketika membuat saya terlupa dengan permasalahan di kantor, dan kemudian di buat tertawa melihat tingkah polah mereka ataupun cerita-cerita ragam hal yang mereka lakukan hari itu oleh sang bunda.

Kira-kira berapa harga kehangatan keluarga yang umumnya sulit dirasakan oleh para kontraktor?!

Priceless…

note: untuk yang sudah membulatkan tekad menjadi kontraktor overseas dan kebetulan terlempar ke blog ini bisa merujuk pada tulisan yang ini, tulisan tersebut menitikberatkan masalah salary bagi kontraktor. bisa juga join milis parakontel atau googulf. *lihat dari search term wordpress beberapa kali visitor dengan keywords seperti “gaji konsultan telco overseas” terlempar ke blog ini.

Advertisements

5 thoughts on “Kontrak v.s Permanent (3)

  1. Lah ternyata orang compond juga nih gw hasil dr googling. Ehem tambahan yah : permanent jelas ada training, ada assignment yg nominalnya bisa lebih gede dr gaji plus allowance awwwww tergantung negaranya juga yah, udah dibayarin training , SPJ pula wew. Sekolah si tergantung negaranya juga, di Malaysia gak ono schooling allw, tp dia ada EPF semacam premi asuransi dr Negara yg dibayarkan saat empl resign,lumayan lah samadengan uang pensiun 20 thn kerja di Astra boook *maruk yah gw. Prinsipnya si kontraktor itu bukan ‘bisa gak bisa’ tapi `mau gak mau` *wink .skali lg beda negara beda benefitnya ,tp kalo di MidEast enaknya dah deket ke Mekah ya

  2. Salam kenal Mas,
    Tulisannya berguna sekali, membuka wawasan saya yang sedang siap-siap menjamah dunia kerja. Karena tulisan di blognya sudah banyak, saya belum ketemu tulisan pengalaman melamar kerja di Qatar. Honestly, saya tertarik dengan Qatar ^_^

    Regards,
    Thomhert

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s