Radang Tenggorokan di Qatar

Dokter jaga: “there’s no typhus in Qatar, it may there in your country malaysia but not here…”
Gw (dalam hati): “dasar dokter sinting, udah sok tau nyebutin asal negara gw, sok tau pula klo ini bukan gejala tipes…”

Itu sekelumit kejadian beberapa minggu yang lalu. Saya tiba-tiba mengalami gak enak badan, badan meriang, tenggorokan sakit, kepala pusing. Sebetulnya nothing not-common, loh, kenapa? karena ini adalah hal biasa buat saya yang sejak kecil penyakit utama ada 2: sakit mag dan diare. Sakit yang juga sering menjadi ‘cobaan’ adalah radang tenggorokan. Ketiga penyakit ini sudah ada obat nya yg selalu dipersiapkan terutama sejak merantau sekolah ke bandung jaman SMA dulu, untuk diare makan obat item norit, untuk sakit mag makan polycrol, dan untuk radang tenggorokan + pilek cukup dengan OBH.

Bahkan ketika bekerja merantau keluar negeri ketiga jenis obat ini selalu tersedia dalam jumlah cukup banyak, ibaratnya insya allah pede untuk jalan kemanapun asalkan ada ketiga obat ini. Beberapa minggu yang lalu saya sempat mengalami gejala yg mirip dengan sakit tersebut, badan meriang sakit-sakit, tenggorokan terasa gak enak, pikiran default saya langsung diare apalagi sebelumnya memang perut sempat terasa gak enak. Biasanya klo ada masalah dengan perut (yang sejak kecil sudah ditemukan oleh dokter anak langganan, katanya perut sensitive *hyah*) memang badan dan tenggorokan gak enak seperti panas dalam. Nah, langsung deh itu dilahap obat item norit, tapi anehnya klo sakit yang berhubungan dengan perut (diare / maag) ketika poop terlihat dengan jelas, saat itu semua terlihat normal. Setelah 2 hari merasa kondisi lebih parah akhirnya mengunjungi dokter (FMC), saat itu dia bilang ada radang di tenggorokan, jadi tenggorokan-nya seperti luka. Dikasihlah obat antibiotik, obat penurun panas, obat hisap-hisap seperti permen, dan obat semprot tenggorokan.

Saya mulai berpikir dokter salah analisa, karena sampai hampir seminggu setelah itu penyakit saya tidak sembuh-sembuh bahkan tambah parah, badan meriang sampai harus pake kaus kaki ketika tidur dan saat tidur mengalami mimpi buruk yang membuat terbangun dalam keadaan gak enak. Nah, saat itu perut saya juga mulai terasa tidak enak, pemikiran dokter salah analisa semakin kuat karena saya kira perut gak enak karena diare. Karena keadaan semakin parah saya jadi teringat ketika mengalami gejala tipes saat jaman kuliah dulu, persis sama! Kepala pusing banget gak kuat berdiri lama-lama, klo udah menjelang malam badan menggigil, pokoknya mirip gejala tipes deh. Istri saya sudah menyarankan untuk pergi lagi ke dokter dan minta di rawat inap saja, saya masih bersikeras di rumah saja sambil minum obat hitam norit itu (ceritanya udh gak percaya dengan obat dari dokter utk radang tenggorokan). Sampai akhirnya saya terbangun sekitar tengah malam dan merasa kondisi sangat parah, dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk rawat inap. Sekitar jam 3 pagi anak-anak dan istri bangun untuk ikut mengantar ke RS, udah bawa-bawa baju segala.

Di rumah sakit (al-ahli hospital) dihandle oleh emergency seperti biasa karena jam dokter sudah tutup (UGD lah), saya ceritakan keluhan saya. Suster jaganya bilang memang panas tinggi, saat itu klo tidak salah diatas 39. Setelah itu datang seorang dokter arab melakukan pemeriksaan, saya bilang aja klo saya gak kuat lagi dan minta rawat inap aja karena sepertinya kena gejala tipus. Sebenarnya saya agak kurang sreg di rumah sakit ini karena berkali-kali datang untuk membawa anak berobat (dan kebetulan juga ke bagian emergency ini karena sudah telat / antrian lama) tapi gak cocok, makanya saya bawa pindah ke FMC yang ternyata cocok dengan dokternya walaupun insurance kantor gak diterima sehingga harus pake sistem reimburst yang cukup nge-ribetin. Saat itu penanganan pertama bagian UGD itu adalah menurunkan panas saya yang sudah cukup tinggi dg langsung di suntik plus kompres. Mereka pasangkan juga infus di tangan saya sambil menunggu hasil analisa cek darah, urine, dan x-ray.

Intinya ketika saya cerita bahwa saya sepertinya kena gejala tipes, ya terjadi dialog dibagian pertama tadi, dokter bilang di Qatar itu gak ada yang namanya virus / bakteri tipes, itu penyakit asia alias negara kotor seperti indonesia gitu lah. Saya udah ngeri aja ditanganin dokter seperti itu karena tetap berkeyakinan bahwa ada masalah dengan perut saya. Setelah subuh, hasil lab cek darah, urine, dan x-ray keluar. Di yakinkan dokter itu bahwa saya gak ada masalah serius, analisis dia sama dengan dokter di FMC, radang tenggorokan dan memberikan jenis antibiotik baru beserta beberapa obat lain yang terkesan standar seperti penurun panas dan pain killer. Well, dengan penuh kebingungan walaupun badan saya sudah better karena panas-nya turun dan tidak pusing lagi, pulanglah kami sekeluarga. Sampai rumah saya minum obatnya. Lagi-lagi perut terasa gak enak dan saya mulai berpikir untuk berhenti minum obat yang diberikan. Dan badan mulai terasa gak enak.

Malamnya saya coba telp saudara yang bekerja di bagian medical di Qatar, saya ceritakan semuanya dan cukup terkejut karena saudara saya menjawab senada, di Qatar gak ada tipes karena semua makanan bersih. Di setiap restaurant / tempat makan yang masak pun istilahnya sudah di ‘steril’ kan, sehingga memang benar di Qatar tidak ada bakteri penyebab tipes. Kalaupun ada berita orang indo yang kena, itu setelah balik dari indo dimana kemungkinan besar kena saat makan selama liburan di indo. Trus ketika saya bertanya tentang perut saya yang tidak enak, saudara saya bilang itu efek dari antibiotik. Makanya sebelum makan antibiotik harus makan yang cukup berat seperti nasi, tapi memang pada dasarnya tidak masalah dan memang beberapa orang merasakan seperti itu perut jadi seperti kenceng. Beliau juga mengatakan radang tenggorokan di kawasan mid-east seperti ini memang umum, seringkali orang indo yang saat haji / pulang haji mengalami hal sama, dan memang bisa berdampak cukup parah.

Setelah mendapatkan pencerahan saya lanjutkan minum antibiotik dengan sangat disiplin, dan klo pun panas / badan meriang yang mulai tidak bisa ditahan langsung saja minum obat penurun panas. Selang 2-3 hari alhamdulillah mulai membaik.

Nah yang menarik, dalam 2-3 hari itu dahak mulai bisa dikeluarkan, dan suatu ketika (lebih tepatknya pertama kali keluar cukup banyak) dahaknya berwarna merah pekat agak hitam. Jika diperhatikan itu seperti darah. Jadi memang benar, sepertinya entah tenggorokan saya yang terluka atau memang itulah virus yang selama ini bercokol di tenggorokan dan berhasil dibunuh oleh antibiotik. Sempat juga ketika cerita ke keluarga di indo ttg ini mereka minta untuk di cek ke dokter lebih detail, karena mentri kesehatan yang baru-baru ini meninggal sempat begitu katanya, entah batuk atau dahak yang keluar darah, tapi ya saya katakan sebenarnya ketika di al-ahli begitu mereka mendengar saya sempat ke dokter sebelumnya dan minum antibiotik tapi radang tenggorokannya belum sembuh juga, mereka melakukan analisa lebih detail seperti cek darah dll itu tadi, jadi harusnya kalau memang ada sesuatu yang lebih parah (naudzubillah) bisa terdeteksi.

Seiring dengan keluarnya dahak itu, kondisi badan alhamdulillah kembali normal. Dari pengalaman ini saya jadi belajar bahwa radang tenggorokan itu salah satu penyakit yang gak bisa dianggap enteng didaerah padang pasir seperti ini.

Kebetulan baru-baru ini juga (sekarang juga sih) ada sand-storm lagi di doha, dan ketika parah-parahnya 2 hari lalu saya dan rekan di tempat kerja sempat beberapa kali menembus kondisi angin kuat dengan debu dimana-mana untuk menuju masjid. Pada hari itu juga kondisi saya langsung dropped, kepala pusing dan berat, badan mulai gak enak, tenggorokan mulai terasa ada pasirnya. Dan rekan saya juga mengalami hal yang sama. Memang masalah cuaca berpasir apalagi sand-storm di daerah timur tengah tidak boleh diremehkan, heran juga dengan anak-anak arab yang dengan kondisi sand-storm seperti itu masih bisa main bola dilapangan.

Well, setidaknya sekarang sudah mulai paham, klo kondisi gak enak terutama terasa gak enak di tenggorokan ataupun hidung dan meriang, semprot aja tenggorokan dengan obat semacam betadine yang sebelumnya diberikan dokter, setelah itu kondisi insya allah menjadi lebih baik.

Advertisements

One thought on “Radang Tenggorokan di Qatar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s