The Creations of Allah

Beberapa minggu yang lalu saya dan keluarga jalan-jalan ke souq waqif, karena waktu maghrib sudah tiba (winter, jadi maghrib sekitar jam 5 PM kurang) maka cari masjid sekitar souq waqif. Akhirnya diputuskan untuk shalat di fanar saja agar istri juga bisa shalat. Di qatar ini cukup unik, masjid untuk public biasanya hanya disiapkan untuk kaum pria, sedangkan untuk wanita cukup susah. Mungkin karena wanita lebih disyaratkan untuk shalat dirumah?

Saya ikutan kursus bahasa arab di fanar, namun belum pernah melihat-lihat bagian lain dari fanar, biasanya langsung menuju kelas di lantai 4. Ketika menunggu istri shalat yang terletak di lantai dasar, saya lihat banyak warga asing melihat-lihat tulisan-tulisan pada dinding fanar sambil foto-foto. Saya perhatikan ternyata banyak tulisan-tulisan tersebut berisi informasi mengenai islam. Fanar bisa dikatakan pusat lembaga kebudayaan islam, disana warga negara asing banyak yang di-islamkan. Mereka bisa mengikuti pelajaran mengenai dasar agama islam, tata cara shalat, membaca al-qur’an, dsb.

Nah, dibagian awal dinding saya lihat ada tulisan “The Creations of Allah”. Saya tertarik dengan isinya, maka saya foto tulisan tersebut. Isi lengkapnya bisa dilihat pada foto diatas, saya akan paste-kan bagian “The Creation”-nya,

Is it not in the very nature of every human to look to the sky when he is in need and devastated?When there is a loss for him to cry out to a Lord, when he is in despair to raise his eyes for help from a superior being, it is a very innate nature of the whole of mankind.

Every human has within him a natural inclination to ask certain question about the purpose of life; what are we doing here? What is the purpose of life? Is there a creator or did this all appear by random chance?

Until these question are answered, a person’s soul can never find peace and life will seem to be a futile and meaningless labour.

The Qur’an invites man to travel the earth, make his own observations and reflect on how creation was originated:

“Say [O Mohammad],” Travel through the land and observe how He began creation. Then Allah will produce the final creation [i.e, development]. Indeed Allah, over all things, is competent.” (Qur’an 29,20)”

Tulisan tersebut terletak dibagian awal dinding (jika masuk dari pintu depan), dan sudah tentu siapapun yang masuk biasanya akan membaca tulisan tersebut.

Dari pandangan pribadi saya, saya melihat isi dari tulisan tersebut adalah esensi nomor satu seseorang untuk memeluk agama. Saya membayangkan mungkin orang-orang yang memilih untuk masuk islam mendapatkan pemahaman / jawaban dari tulisan tersebut pada awalnya, kemudian tertarik untuk masuk islam. Dan kembali pemikiran saya menelusuri kondisi umat islam setidaknya yang saya tahu, dimana umumnya memeluk islam karena orang tua.

Esensi terpenting dari memeluk agama kadang dilewatkan begitu saja karena kita (saya termasuk) umumnya sudah sejak lahir diberi pemahaman agama islam. Jika melihat tulisan diatas maka kita akan sadar mengapa kita seharusnya memeluk agama, kenapa ketika kita merasa ketakutan, kita berharap akan adanya Tuhan yang akan menjaga dan menunjukan jalan, yang tentu saja pada isi tulisan selanjutnya (bagian dinding lain) terdapat tulisan lebih banyak mengenai islam, sehingga tulisan pada dinding fanar tersebut jika dibaca satu persatu akan membawa seseorang (muslim ataupun non-muslim) memahami eksitensi kita sebagai manusia, apa tujuan kita dilahirkan, kemudian tumbuh berkembang menjalani tahun demi tahun yang dimulai dari masa-masa merangkak, berjalan, belajar setahap demi setahap, mengalami berbagai kegagalan dan keberhasilan, kemudian berganti giliran memiliki keluarga, menjalani hari-hari dengan bekerja, bercengkrama dengan keluarga, dengan teman, memiliki persahabatan serta juga permusuhan, memilih untuk melakukan kebaikan ataupun kejelekan dalam setiap detik kehidupan, dan kemudian tiba saatnya menjalani fase-fase akhir kehidupan untuk kemudian tentu saja mati meninggalkan kehidupan didunia ini.

Untuk kita-kita yang sudah memeluk agama islam sejak lahir, apakah kita memiliki pemahaman sebagaimana pemahaman yang didapatkan oleh saudara-saudara kita yang awalnya non-muslim kemudian masuk islam setelah menjalani masa-masa pencarian dalam hal “Ketuhanan”?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s