Anjuran untuk taat pada keputusan pemerintah

Minggu lalu dalam sesi pengajian dibahas mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan jaman jahiliyah. Selama di Qatar, setiap rabu malam rekan-rekan yang tinggal di sultan compound (tempat saya tinggal saat ini) mengundang seorang ustadz untuk memberikan materi pengajian di masjid compound. Ustadz tersebut memilih topik untuk mengupas jaman jahiliyah, salah satu tujuan-nya untuk memberikan gambaran seperti apa kondisi jaman jahiliyah sehingga kita bisa belajar dan memahami apabila menemukan kondisi yang mirip seperti jaman jahiliyah tersebut pada masa sekarang ini.

Saya adalah pendatang yang sangat baru dalam dunia pengajian. Dulu semasa di Indonesia berencana terus untuk ikut pengajian namun belum mendapatkan rezeki berupa kemudahan seperti rekan-rekan lain, ada aja halangannya untuk ikut pengajian. Alhamdulillah selama di Qatar semua mengalir begitu saja dan tiba-tiba sudah bisa hadir pada pengajian dengan beberapa langkah kaki :).

Berhubung saya adalah pendatang baru maka mungkin akan kesulitan untuk menulis kembali intisari pelajaran yang sempat saya ambil dari sesi pengajian tersebut, namun akan saya coba sebaik mungkin. Nah, dari beragam poin penting yang disampaikan oleh pak ustadz rabu minggu lalu, yang berhasil masuk ke telinga dan terproses oleh pikiran saya adalah tentang anjuran untuk taat pada pemerintah.

Dikatakan oleh pak ustadz, jaman jahiliyah dulu di negeri arab terdiri dari banyak kabilah, dan itu bukan saja banyak namun sangat banyak. Apabila ada seseorang yang tidak suka dengan suatu kabilah (komunitas yg di pimpin oleh satu kelompok atau keluarga?) maka mereka biasanya memberontak atau membentuk kabilah baru, dan seringkali hal ini menyebabkan keributan sampai pembunuhan. Kabilah disini bisa di ibaratkan suatu pemerintahan, jadi klo tidak suka dengan pemerintah bisa mulai melakukan pemberontakan melawan pemerintah tersebut sampai akhirnya bisa membentuk pemerintahan baru. Setelah islam masuk maka kemudian di berikan anjuran (aturan?) untuk taat pada pemerintah yang berlaku selama pemerintah tersebut tidak mengajak pada keburukan. Keburukan disini adalah hal-hal seperti melarang kita melakukan ibadah.

Tentu saja jika kita melihat kondisi ideal pemerintahan islam dulu tidak perlu ragu untuk taat pada pemerintah, karena terutama jaman ke-khalifahan dulu, para sahabat rasulullah menjalankan pemerintahan dengan luar biasa. Beragam cerita bagaimana mereka lebih mengutamakan rakyatnya daripada diri mereka sendiri sudah sering kita dengar. Yang kemudian menarik untuk dibahas adalah bagaimana jika kondisi pemerintahannya seperti di Indonesia?Nah, pak ustadz berkata bahwa kita tetap dianjurkan untuk taat pada aturan pemerintah walaupun kondisi pemerintahannya amburadul seperti Indonesia.

Kenapa?? mereka koruptor, mereka menetapkan berbagai aturan untuk kesenangan perut mereka dan keluarga mereka sendiri, sebagian lagi menetapkan suatu keputusan tanpa pengetahuan tepat (ambil contoh kasus keributan penetapan 1 syawal setiap tahun), dsb. Kenapa kita harus taat pada pencuri uang rakyat tersebut? Disampaikan oleh pak ustadz, kondisi seperti itu dilakukan oleh individu-individu di pemerintahan untuk diri mereka sendiri. Selama mereka tidak melarang rakyat Indonesia melakukan ibadah kepada Allah SWT, selama mereka tidak mengajak rakyat Indonesia untuk murtad, kita dianjurkan untuk tetap menghormati pemerintah dan tunduk pada aturan-aturannya. Memang sakit hati rasanya melihat hal-hal seperti pajak yang kita bayar dengan sukarela dari hasil kerja keras diambil oleh pemerintah dan (mungkin) masuk kantong mereka sendiri, namun tetap kita harus menghormati pemerintah.

Jika mereka melakukan keburukan, biarlah keburukan tersebut ditanggung oleh mereka atau keluarga mereka sendiri. Kita bisa melihat bahwa mungkin mereka hidup bermewah-mewah dengan keluarganya dari uang rakyat, namun kita tidak bisa selalu memastikan bahwa mereka mendapatkan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh para petani miskin misalnya. Mereka juga mungkin terjebak dalam situasi dimana mau tidak mau melakukan korupsi tanpa bisa memilih, ataupun mendapatkan tekanan dari pihak-pihak tertentu untuk mengambil keputusan yang berbeda dari hati nurani mereka sendiri. Belum lagi jaminan bahwa jika kita melakukan suatu keburukan, maka pasti akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Sering mendengar kisah ataupun melihat langsung kondisi orkay yang walaupun mobil serta rumah mewahnya sulit dihitung dengan jari, tapi anaknya pecandu narkotika?ataupun sang ayah tidak bisa menikmati hidup karena sakit-sakitan?itulah kira-kira contohnya. Masalah individu yang duduk di pemerintahan melakukan beragam keburukan biarkan mereka yang menanggung akibatnya, namun keputusan mereka yang ditetapkan untuk rakyat Indonesia wajib untuk kita taati.

Contoh balasan dari keburukan yang dilakukan individu-individu diatas mungkin bisa kita lihat langsung di dunia, belum lagi balasan yang akan diberikan oleh Allah di akhirat nanti. Itu sebabnya, bagi orang yang iman nya baik, mungkin tidak akan berani mengambil posisi duduk di pemerintahan. Walaupun mungkin dia merasa mampu untuk melakukan perubahan dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, namun akibat yang harus dia tanggung jika melakukan kesalahan akan sangat fatal kelak di akhirat (seperti akibat dari salah mengambil keputusan yang berdampak untuk orang banyak).

Intisari lain yang sempat saya ambil adalah kita tidak dianjurkan untuk memberontak pada pemerintah. Jadi aksi-aksi bom bunuh diri, pengrusakan tempat-tempat umum, membentuk kelompok-kelompok untuk mengajak lebih banyak orang melakukan protes keras pada pemerintah yang berdampak jatuhnya korban jiwa, dsb tidak dianjurkan oleh islam. Kenapa?apakah karena masih ada cara lain yang lebih baik dalam menyampaikan pendapat kepada pemerintah?well…bisa jadi seperti itu. Tapi alasan lain adalah karena masih ada lebih banyak hal lain untuk kita lakukan. Ambil contoh begini: Sekelompok orang yang memahami ajaran islam memberontak keras pada pemerintah, akibatnya mereka di masukan ke penjara oleh pemerintah selama 10 tahun. Sekilas aksi ini terlihat heroik, dan mungkin memang heroik. Tapi coba jika kita lihat scenario kehidupan lain, sekelompok orang yang memahami ajaran islam tersebut lebih mendedikasikan waktu 10 tahun tersebut untuk belajar lebih banyak lagi dan berdakwah kepada umat daripada menghabiskan waktunya di dalam penjara. Akan lebih banyak lagi umat yang mendapatkan pelajaran berharga dari mereka dan insya allah lebih banyak umat yang dapat berubah ke arah lebih baik.

Bukankan tujuan kita hidup di dunia ini untuk beribadah kepada Allah?dan bukankah manusia yang membawa manfaat lebih banyak dengan kehidupannya akan menjadi manusia yang lebih baik?

Tentu saja ini adalah satu pandangan dari berbagai pandangan yang ada saat ini. Saya juga cukup aware pandangan lain yang lebih ‘keras’ dari beberapa rekan ataupun tulisan, yang mengatakan bahwa pandangan diatas disebut ‘lemah iman’, ataupun kita harus senantiasa menumpas keburukan karena itu juga ibadah. Well, apapun itu, setiap orang bebas untuk memilih pilihan yang ada :).

Saya belum bisa menyampaikan hadist-hadist yang shahih dari pandangan diatas, selain karena lupa gak nyatet dan takut salah, saya juga hanya pendatang baru yang kemampuannya baru sebatas mendengarkan dan memproses sesuai dengan keterbatasan logika yang ada. Jadi belum berani menyampaikan dengan membawa-bawa hadist. But so far, saya pribadi cukup bisa menerima anjuran tersebut. Dalam arti bahwa memang termasuk yang sakit hati melihat bagaimana pemerintahan Indonesia saat ini dan males membaca beragam polemik politik yang berhubungan dengan pemerintah namun berpendapat bahwa masih ada banyak hal lain yang lebih baik untuk dilakukan daripada mikirin dan protes pada pemerintah. Terlebih dengan fakta bahwa aksi protes besar-besaran tahun 1998 dulu yang menjatuhkan orde lama ternyata tidak membawa kondisi Indonesia lebih baik, bahkan beberapa mulai berpendapat bahwa Indonesia jaman dulu lebih baik daripada jaman dimana kebebasan berbicara dibuka seperti sekarang ini? :p

Jadi ya…seperti yang dianjurkan pak ustadz, selama pemerintah tidak mengajak kita untuk murtad kepada Allah maka walaupun dengan rasa sakit hati dan ngomel-ngomel dalam hati, kita tetap dianjurkan untuk mentaati dan tunduk pada aturan-aturan pemerintah. Walaupun pemerintah membiarkan acara tayangan televisi yang dapat merusak jiwa anak untuk tetap ditayangkan, daripada melakukan protes keras terhadap pemerintah dengan membuat kelompok di Facebook ataupun aksi demo selama 3 hari penuh, bukankah lebih baik jika kita belajar bagaimana berkomunikasi dengan anak sehingga anak-anak mendapatkan pemahaman yang baik mengenai acara televisi yang tidak baik untuk mereka?dengan begini secara tidak langsung kita sudah membuat pelindung pada anak-anak kita, walaupun acara televisi tersebut akan merusak mental namun anak-anak sudah dipersiapkan terlebih dulu dan tidak akan terpengaruh. Dan bukankah keluarga itu satuan terkecil dari suatu komunitas?apa yang akan terjadi jika setiap orang tua yang (misalnya) tergabung dalam gerakan protest di Facebook terhadap tayangan televisi melakukan hal serupa bagi anak-anak mereka?lebih banyak anak-anak yang mampu melindungi diri mereka sendiri bukan?

So…jika pemerintah menetapkan suatu aturan maka kita dianjurkan untuk men-taati selama ketetapan itu tidak bertentangan dengan ajaran islam. Pemerintah memiliki tanggung jawab besar dihadapan Allah kelak, maka biarkan itu menjadi urusan pribadi individu-individu yang duduk di pemerintahan dengan Allah. Kira-kira seperti itulah salah satu intisari dari pengajian minggu lalu :). Semoga bermanfaat dan kita selalu berada dalam lindungan serta ridha Allah.

Wallahualam bi shawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s