Kontrak v.s Permanent (2)

Well, saya rasanya belum share pengalaman pindah ke Qatar dan ambil permanent job disini. 3 Bulan terakhir ini sibuk dengan urusan kepindahan, dan tanpa terasa sekarang sekeluarga sudah mulai settle disini. Seperti biasa, dengan semangat bahwa tulisan ini bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana saya merasakan banyak manfaat dari tulisan-tulisan beberapa orang tentang qatar, akan dicoba share mengenai berbagai prosesnya pada tulisan-tulisan berikutnya. Untuk sekarang hanya akan share sedikit tentang alasan ‘moving permanently’ ini.

Sejak kuliah saya selalu memiliki cita-cita untuk bisa berkunjung ke negara lain suatu saat nanti. Cita-cita dulu adalah keliling dunia dan mengunjungi tempat-tempat bernilai sejarah serta melihat langsung, sayang nya belum kesampean sih hehehe. Anyway, ketika kuliah saya sudah mulai melakukan beberapa pekerjaan. Salah satu pekerjaan yang pernah saya jalani adalah menjadi trainer, yaitu di lembaga inixindo dan informIT, keduanya di bandung. Di inixindo menjadi trainer linux dan security. Modulnya sudah ada sehingga saat itu gak terlalu repotlah karena tugasnya adalah menyampaikan materi yang ada di modul dan memang saat itu lagi hobi sekali oprek-oprek linux di lab CnC, jadi dari sisi materi umumnya sudah pernah di coba, kalo pun ada materi baru proses belajarnya tidak terlalu susah.

Nah, dari pekerjaan sebagai trainer itu ternyata performa saya tidak jelek, bahkan ada client yang secara khusus minta sesi training nya di isi oleh saya. Ini berdasarkan pengalaman dia sebelumnya yang menjadi peserta training saya, sehingga mereka memilih untuk delay dan menunggu waktu saya kosong (karena waktu itu masih kuliah juga). Mungkin dengan melihat situasi seperti itu, si pemiliki inixindo (lupa namanya 😦 ) bandung menawarkan pekerjaan sebagai pengisi trainer permanent. Yup, itulah tawaran pekerjaan permanen saya yang pertama. Karena sebelumnya sesi training di isi sebagai trainer kontrakan, jadi dikasih jatah seminggu dengan sistem bayaran per jam setiap harinya. Saat itu saya sudah mulai melihat perbedaan antara kontraktor dan permanen. Sebagai trainer kontraktor memiliki pilihan ‘kebebasan’ alias tidak terikat dan bayaran nya juga bisa dibilang besar untuk kondisi saat itu (tahun 2004-5), dan tentu saja sbg mahasiswa sudah sangat senang dan merasa beruntung.

Sistem kontrak mendapatkan bayaran besar karena project nya memang sudah ada, dalam hal ini client training nya sudah ada. Beda dengan permanen, karena klo permanen ada atau tidak ada client tetap akan dibayar. Sehingga klo di lihat dari sisi bayaran yang diterima tentu akan lebih besar pekerjaan dengan status kontrak. Pendek kata, kontraktor itu besar tapi beresiko tidak ada job, sedangkan permanen itu cenderung lebih kecil namun aman karena akan selalu dibayar tiap bulan.

Saya mempertimbangkan banyak hal saat itu, namun saya belum sampai pada pemikiran diatas (alasan kenapa permanen lebih kecil). Yang saya lihat jumlahnya lebih kecil, lebih terikat. Saya tidak suka dengan keterikatan (kecuali dalam hal keluarga tentunya :p), tidak suka merasa terpaksa untuk melakukan sesuatu dan mencari kebebasan dimana saya memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu. Memang benar saat itu sebagai mahasiswa tentunya saya akan mendapatkan duit tambahan secara reguler tiap bulan, namun dalam hati kecil saya merasa ‘ketakutan’ akan keterikatan kerja tersebut dengan membayangkan bahwa saya harus terpaksa datang untuk memberikan training walaupun sedang tidak mood. Saya sempat meng-iya kan tawaran pemiliki inixindo tersebut, dan juga tertarik dengan tawaran bisa mengambil sertifikasi CCNP (saat itu saya sudah sempat ambil CCNA sktr tahun 2004). Namun setelah dipikirkan akhirnya saya menghadap sang pemilik inixindo tersebut untuk membatalkannya.

Saat pertemuan itulah yang membawa kesan tersendiri untuk saya. Setelah pertemuan itu saya berpendapat bahwa beliau adalah orang yang luar biasa. Saya beberapa kali sempat menyatakan keinginan saya serta pemikiran saya untuk bekerja di luar negeri ke beberapa orang. Namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Dari pemilik inixindo inilah saya mendapatkan jawaban tersebut. Beliau memberikan banyak pandangan mengenai bekerja. Dan akhir kata, beliau mengatakan bahwa segala sesuatu itu ada masa nya. Saat itu saya yang masih berstatus mahasiswa tentunya suka akan tantangan, suka petualangan, suka segala hal yang tidak mengikat dan bahkan cenderung beresiko, namun beliau mengatakan suatu saat nanti akan datang masa dimana saya akan memilih untuk melepaskan itu semua dan berhenti pada suatu tempat.

And here I am.

4 tahun yang lalu, atau sekitar 2-3 tahun setelah saya ngobrol dengan pemilik inixindo, tahun 2007, saya memulai karir sebagai kontraktor yang project nya ada di negara lain. Dan memang tidak tanggung-tanggung karena project pertama tersebut di pakistan. Belum pernah keluar negeri sama sekali, sama sekali tidak ada bayangan pakistan itu seperti apa, sempat keluar dari pekerjaan saya saat itu sebagai engineer salah satu vendor di Indonesia dan terancam jobless karena ternyata tidak bisa mendapatkan visa pakistan, pergi ke pakistan dengan metode yang tidak sepenuhnya legal dengan bantuan dari agency (penta consulting, mereka sangat powerful untuk wilayah pakistan dan sekitarnya sehingga punya bnyk celah), semuanya hanya bermodalkan bantuan informasi dari beberapa rekan dan doa saja serta iming-iming bayaran besar, sempat terbengkalai selama hampir 2 jam di bandara islamabad karena pulsa telkomsel yang saya bawa habis pulsa dan tidak ada yang menjemput, dsb. Sangat beresiko dan penuh tantangan. Namun itu adalah pilihan saya sendiri, dan saya melakukan nya dengan senang hati (deg-deg an sebetulnya sih :p). Dan tentu saja, euforia sebagai kontraktor ketika bekerja sebagai trainer kembali datang. Sebagai orang yang belum 1 tahun bekerja di perusahaan telco, bisa melihat pundi-pundi mata uang asing dalam jumlah (imho) besar masuk tentunya ibarat air yang sangat menyegarkan dan menambah semangat bekerja ;).

Sejak saat itu saya kecanduan dengan pekerjaan kontrak. Beberapa kali di tawari pekerjaan permanen, baik oleh perusahaan luar maupun dalam negeri tapi selalu saya tolak. Alasan nya masih tetap sama seperti ketika menjadi trainer, pekerjaan kontraktor bayaran nya lebih besar serta lebih bebas. Jika saya sedang ingin bekerja, ambil job. Setelah lelah bekerja (mis: kontrak 3 bulan, atau 6 bulan), saya bisa ambil liburan di Indonesia dan bersenang-senang dengan keluarga.

Saat bekerja sebagai kontraktor saya juga sudah menikah, tepatnya 3 bulan setelah pekerjaan pertama saya di Pakistan. Dan saya adalah tipikal yang rela mengeluarkan biaya berapapun besarnya untuk bisa bersama-sama keluarga. Istri saya sempat ikut ke pakistan dulu, dan tetap menemani ke beberapa negara lain setelahnya. Namun memang adakalanya saya harus meninggalkan istri (dan anak) selama beberapa bulan karena situasinya tidak memungkinkan, misal: ketika istri saya sedang hamil besar, atau ketika baru punya anak dan tidak bisa langsung segera dibawa. Hanya saja masalah-masalah tersebut belum membuat saya berpikir untuk berhenti. Saya coba untuk membuat target bahwa pekerjaan sebagai kontraktor akan berhenti setelah tahun 2011, dan sempat beberapa kali melakukan diskusi dengan teman-teman dekat terutama ketika ditawari posisi permanen mengenai kelebihan serta kekurangan nya. Namun tetap saja masih tidak bergeming untuk tetap bekerja sebagai kontraktor.

Selain bidang telekomunikasi, saya juga masih tetap aktif di bidang security. Dan selalu bermimpi untuk bekerja pada bidang security. Tahun 2010 saya coba banting setir untuk bekerja pada bidang security serta berniat meninggalkan telekomunikasi, dan tetap…status masih kontraktor. Akhir 2010 saya sempat ditawari juga untuk bekerja secara permanen pada perusahaan security, namun saat itu saya ingin kembali ke bidang telekomunikasi dan kebetulan ada tawaran menjadi kontraktor lagi di kuwait. Saya ambil kesempatan tersebut sekaligus sebagai moment untuk memikirkan apakah sudah waktunya saya mengambil posisi permanen di bidang security. Saat itu istri saya hamil besar anak kedua kami, dan saat itulah saya mulai berpikir serius untuk posisi permanen. Saya jadi teringat diskusi dengan pemilik inixindo tentang ‘masa’ atau ‘moment’ dimana saya akan rela melepaskan euphoria bekerja sebagai kontraktor. At the time, money and fun somehow become not so important anymore. Apalagi saat itu saya tidak bisa menghadiri proses kelahiran anak kedua, dan parahnya harus dilakukan dengan cesar.

Akhirnya saya berada pada posisi sudah saatnya mengakhiri bekerja sebagai kontraktor, walaupun lebih cepat daripada rencana sebelumnya (2012). Saat itu pilihan nya ada 2, posisi permanen pada bidang security, atau posisi permanen bidang telekomunikasi. Saya akan menceritakan pertimbangan-pertimbangan nya dilain waktu (mau buru-buru jogging nih :p), namun pada akhirnya saya pilih bidang telekomunikasi. Ketika mau pulang dari kuwait, saya sempat berdiskusi dengan resource manager wilayah EMEA yang kebetulan memang base di kuwait tentang posisi permanent. Saat itu ada 2 pilihan, antara kuwait dan qatar. Hanya saja project yang membutuhkan posisi tersebut di kedua negara itu belum dimulai, sehingga dia tidak bisa menjanjikan apa-apa. Beliau hanya berpesan ketika saya pulang ke Indonesia untuk tetap keep in touch. Sebetulnya saya sempat memilih kuwait, karena memang untuk Qatar saya rasa chance nya kurang besar terutama karena produk yang ada di Qatar berbeda dengan produk yang selama ini saya pegang. Saat itu posisi permanen Qatar sempat saya teruskan ke salah satu teman baik saya yang bekerja untuk NSN Indonesia, jadi rencananya saya akan ambil yang kuwait dan teman saya itu yang qatar.

Namun ternyata awal januari 2011 saya di hub untuk ditanya apakah tertarik untuk permanen di Qatar dan untuk menjalani proses interview dengan Qatar jika memang tertarik, saya sempat heran namun ternyata produk yang selama ini saya handle akan menggantikan produk yang ada di Qtel, Qatar. Alhasil, saya mulai menjalani proses interview tersebut, dan alhamdulillah diterima serta mulai berstatus sebagai ‘permanent’ sejak 15 Mei 2011 lalu.

Begitulah. Setiap orang tentunya memiliki jalan hidup masing-masing, namun saya selalu beranggapan bahwa sharing pengalaman seperti ini akan bermanfaat bagi orang lain sebagaimana saya sering mendapatkan banyak manfaat dari tulisan-tulisan hasil pengalaman orang lain.

Oh ya, judul dari tulisan ini adalah kontrak v.s permanent versi 2. Untuk versi 1 nya bisa dibaca disini. Tulisan tersebut saya buat ketika masih menjadi kontraktor, dan siapa tahu bermanfaat bagi pembaca yang malah justru sedang dalam proses menjadi kontraktor atau sedang menjadi kontraktor ;).

Semoga bermanfaat bagi saya pribadi, dan bagi siapapun yang membaca. I’ll post more about process moving to qatar, dan beragam hal yang harus dijalani pada tulisan berikutnya.

Cheers.

Advertisements

4 thoughts on “Kontrak v.s Permanent (2)

  1. kerja di QTel ya mas? tinggalnya skrg dmn? slm kenal & silahkan mampir di rumah sy belakang Qtel roundabout Wakra. met summer & salam bawah tanah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s