IPA / IPS Conspiracy

Kenapa konspirasi?

Itu pemikiran ekstrim saya sejak mulai membaca hal-hal berbau ekonomi setahun belakangan ini. Masih ingat rasanya jaman SMU dulu jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) bisa dibilang kasarnya (maaf) jurusan buangan. Anak-anak yang memiliki TOTAL nilai rendah akan diarahkan atau bahkan dipaksa masuk jurusan IPS, sedangkan yang nilainya diatas rata-rata akan masuk jurusan IPA. Paradigma seperti ini membuat anak-anak yang cerdas secara otomatis akan memilih jurusan IPA.

Bahkan di beberapa sekolah saya rasa sudah rahasia umum bahwa guru-guru untuk jurusan IPA itu sendiri merupakan guru-guru yang bisa dibilang favorit dan terbaik pada sekolah tersebut, sedangkan untuk jurusan IPS (sekali lagi maaf) adalah guru-guru tidak favorite yang kemungkinan besar baik cara mengajarnya maupun tingkat kemampuan nya memang tidak sebagus guru-guru untuk jurusan IPA.

Motivasinya apa?karena ada paradigma bahwa jurusan IPA akan mendapatkan pekerjaan yang layak dan jauh lebih baik serta kesempatan untuk dapat pekerjaan lebih baik daripada anak-anak jurusan IPS. Alhasil, terjadi ketidak seimbangan antara anak-anak yang memiliki kemampuan IPS dan IPA. Sekali lagi, jurusan IPA akan diisi oleh anak-anak yang “baik” dan IPS cenderung di-isi oleh anak-anak yang bahkan “bandel” saat SMU.

11 tahun yang lalu saya merasa beruntung dan tidak mengalami ke-kuatiran untuk bisa masuk jurusan IPA. Saat itu di SMU saya ada yang namanya kelas unggulan (kelas 2 SMU) sebanyak 2 kelas, dan saya termasuk didalamnya. Saya tidak tau berapa orang yang memilih jurusan IPS dari kedua kelas unggulan tersebut, namun bisa saya pastikan bahwa hampir semuanya masuk kelas 3 jurusan IPA. Jika ada yang memilih jurusan IPS tentu akan di bilang “sangat disayangkan, kenapa pilih IPS???”, dan mungkin jika orang tuanya mengetahui juga tidak akan disetujui. 11 tahun setelah itu, saya (lagi-lagi, hiperbolic dan extremely) berpikir bahwa kita semua masuk jebakan.

Memang tidak semua anak IPS masuk kategori “buangan”, dan tolong jangan salah sangka, saya tidak bermaksud “rasis” disini. Saya ada juga kok melihat beberapa anak yang jaman SMU dulu bandel minta ampun tapi setelah bertanggung jawab pada hidupnya (baca: bekerja, berkeluarga) menjadi pribadi yang baik. Saya garis bawahi bahwa pandangan ini adalah pandangan secara umum. Ingat, secara umum, dan menyangkut kuantitas.

“Kuantitas” disini akan langsung menuju poin dari tulisan ini,

Jika saat SMU lebih banyak lagi siswa cerdas dengan kategori nilai diatas rata-rata yang masuk jurusan IPS, dibina secara baik dalam lingkungan IPS, tentu dalam 10 tahun setelahnya akan muncul ahli-ahli ilmu pengetahuan sosial yang jauh lebih banyak dan lebih berkompeten. Bukan begitu?

Tidak ada yang salah dengan jurusan IPA, hanya saja jurusan IPA akan memformat individu untuk hal-hal seperti bekerja untuk suatu perusahaan, bekerja pada bidang non-ekonomi, bekerja secara teknikal yang cenderung tidak berhubungan dengan lingkungan sosial, dsb. Intinya adalah, siswa-siswa yang belajar pada jurusan IPA akan cenderung ‘kesulitan’ dalam hal-hal seperti ‘create’ pekerjaan. Dan menghasilkan suatu masyarakat dimana orang-orang yang menguasai bidang ekonomi-nya cenderung lebih sedikit dalam hal kuantitas, dan cenderung kurang berkualitas dalam hal perbandingan.

Bingung ya?begini…klo aja jaman SMU ada 100 orang, dan 80 orang dinyatakan mendapatkan nilai diatas rata-rata karena kemampuan nya dalam beberapa bidang seperti hitungan-hitungan sulit (baca: matematika) ataupun dalam kemampuan berbahasa (baca: bahasa inggris), dan dari 100 orang ini semua memiliki framing atau penjelasan tentang IPA/IPS dalam komposisi seimbang seperti hal-hal apa saja yang bisa mereka lakukan dengan masuk jurusan IPA atau IPS, semua ini dilakukan secara fair tidak ada yang berat sebelah. Alhasil, dari 80 orang kemampuan diatas rata-rata sebanyak 40 orang akan memilih jurusan IPS dan 10 orang dari 20 orang yang kemampuan dibawah rata-rata akan memilih jurusan IPS juga. Jumlah pemilih disini saya ambil sama rata, atau 50:50 untuk menunjukan bahwa tidak terjadi ‘framing’ saat SMU terhadap sala satu jurusan.

Apa yang akan terjadi?tentu saja jumlah siswa yang memang memiliki potensi lebih baik saat SMU kemungkinan besar akan terus berkembang dalam bidang pengetahuan sosial, dan tumbuh menjadi ahli-ahli bidang seperti ekonomi. Dengan demikian jumlah prosentase ahli ekonomi akan jauh lebih besar dalam negara seperti Indonesia dan memang di-isi oleh siswa-siswa yang berpotensi.

Kenapa saya menekankan ekonomi?karena setelah 11 tahun hidup dalam bayang-bayang IPA, saya mulai menyadari pentingnya pengetahuan ekonomi. Dan membayangkan jika saja saat SMU lebih banyak siswa-siswa cerdas masuk pada ranah IPS dan menjadi ahli ekonomi, maka ekonomi suatu negara akan dipegang oleh orang-orang yang lebih berkompeten. Bukan berarti saat ini tidak ada yang berkompeten, tapi dari segi kuantitas tentu akan jauh lebih banyak yang berkompeten dibandingkan saat ini. Dan menguasai ekonomi itu sangat penting, dapat dibayangkan akan tercipta lebih banyak inovasi dalam hal menciptakan lapangan pekerjaan, dan tentu akan dibangun bersama-sama (baca: mis para engineer) dari anak-anak yang memilih jurusan IPA.

Dan tentu saja, yang lebih penting, negara indonesia tidak akan mudah di bohongi oleh para penguasa ekonomi dari negara lain. Coba sekarang tanya, jika memang jurusan IPA memang dapat memberikan penghasilan besar, berapa banyak penghuni nya yang mampu memanage penghasilan tersebut dengan baik?atau jangan-jangan penghasilan besar tapi di tipu oleh sistem ekonomi yang dibentuk oleh kapitalis negara lain sehingga juastru lebih konsumtif?

Advertisements

2 thoughts on “IPA / IPS Conspiracy

  1. Walah judulnya, saya kira konspirasi Intrusion Prevention System 😉 Entah mengapa sejak berseragam abu-abu, saya paling tidak bisa dengan pelajaran akuntansi.

    Well economics are not just accounting, right!

  2. IPA dan IPS itu hanya akal-akalan yang membodohi pelajar saja…harusnya pelajar dikasih kebebasan sebebas-bebasnya untuk memilih mata pelajaran yang dia sukai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s