Somebody who had that history…

Unbelievable.

Dari dulu saya selalu senang membaca historis komputer dan teknologi, dan selalu berpikir sangat beruntung orang-orang yang pernah mengalami masa-masa revolusi teknologi tersebut, juga memahami kenapa di negara-negara seperti USA banyak terdapat hacker karena mereka paling tidak pernah mengenal komputer-komputer model lama yang pengoperasiannya masih ‘sulit’. Bahkan beberapa orang yg masuk kategori untuk di wawancara dalam majalah elektronik phrack pernah memiliki komputer model lama seperti atari.

Resource yang merupakan orang paling tua pernah mengalami komputer jaman dulu adalah ayah saya. Dulu sejak masuk KS (Krakatau Steel) beliau mendapatkan kesempatan bekerja di bagian komputer, yang pada saat itu terbilang barang baru di perusahaan KS, sehingga orang-orang nya mendapatkan kesempatan untuk training ke German. Ayah saya selalu bilang, dalam dunia komputer ada 2 jenis: System dan Programing. Jaman dulu pembagian mayoritasnya seperti itu, dan ayah saya kebagian untuk menangani system (mainframe, server, network installation, etc). Beberapa kali saya menanyakan tentang komputer jaman dulu, beliau menceritakan bagaimana menginstall program hasil buatan orang lain ke dalam sistem dimana saat itu masih menggunakan sesuatu yg mirip punch card, bagaimana mengaturnya dalam sistem untuk kemudian di eksekusi oleh mainframe tersebut, bagaimana mengatur alokasi IP Address untuk komputer-komputer client yang hendak terhubung ke mainframe, dsb.

Hanya saja ayah saya terbatas pada lingkup kerja KS, dan seiring dengan bertambahnya tahun mulai menangani bagian lain selain komputer, sehingga tidak terlalu banyak yang bisa beliau ceritakan.

Disini saya sering berdiskusi dengan seorang customer yang telah cukup berumur. Pagi ini dia datang ke ruangan saya dan mengatakan bahwa program yang mereka buat sebagai solusi sementara atas masalah pointer berjalan dengan baik, dan dengan solusi ini maka untuk sementara sistem HLRD disini bisa bekerja dengan baik sebelum patch yang sebenarnya dilakukan bulan depan (seperti biasa, patch selalu makan waktu lama). Setelah itu pembicaraan berlangsung ke bagian teknis tentang bagaimana HLR Siemens yang lama bekerja disini, dan dia bercerita bahwa tidak habis pikir dengan apa yang ada dikepala para developer Siemens, dalam arti dia mengatakan mereka sungguh memiliki cara aneh dalam membuat produk. Beberapa waktu yang lalu dia bercerita tentang masalah yang dihadapi saat upgrade mesin HLR Siemens dari SR11 ke SR12. HLR classic siemens adalah mesin besar yang merupakan salah satu pilar awal mesin-mesin dalam jaringan telkom dan telkomsel, dan masih juga digunakan di beberapa operator dimana salah satunya Georgia (Magticom).

Nah, karena banyak masalah, si customer ini bercerita dia baca isi subscriber dari mesin HLR Siemens yang sebenarnya adalah propriatary, dan kemudian dia baca data subscriber dari mesin HLR Siemens yang sudah di patch, kemudian dia bandingkan dan terakhir dia ubah sendiri data lama ke data yang baru, sisanya dia tinggal masukin ke HLR Siemens yang sudah di patch. Sesaat saya melongo…kok dia bisa membaca data dari database HLR Siemens??

Ketika saya tanyakan bagaimana dia membaca data tersebut, dia mengatakan mengembangkan software sendiri untuk membaca informasi tersebut. Intinya, dia melakukan physical reverse engineering terhadap database itu. Dari situ dia mempelajari bagaimana mesin HLR Siemens menyimpan data, mulai dari deretan bit-bit hingga metode penggunaan index untuk pencarian data serta atribut-atributnya, hingga akhirnya merubah format data tersebut secara manual agar sesuai dengan data hasil upgrade. Dia bilang:

mesin itu sama aja, asal kita bisa dapatkan data secara fisik (harddisk), deretan bit-bit didalamnya bisa dipelajari hingga algoritma level atasnya.

Metode migrasi / patch dari siemens menggunakan mesin lain dan itu memakan waktu 3-4 jam, namun dengan cara dia yang ‘brutal’ cuma memakan waktu kurang dari 30 menit.

Dari situ saya tertarik untuk bertanya lebih jauh tentang bagaimana dia memulai semuanya. Akhirnya dia bercerita mulai sejak dia kuliah, dia kuliah mengambil jurusan fisika di salah satu universitas Georgia. Setelah lulus, beliau ini bekerja disalah satu perusahaan elektronics. Dan saat itu Georgia yang tergabung dalam blok timur (Uni Sovyet) sudah memiliki kemajuan yang luar biasa dalam hal teknologi elektronika. Dia bercerita tentang suatu perangkat yang susah disebut namanya, itu adalah semacam transistor jaman dulu, bentuknya besar dan jauh lebih powerful dibandingkan transistor dalam komputer-komputer jaman skrng. Di tempat bekerjanya itulah mereka mengembangkan berbagai hal, mulai dari elektronika biasa hingga teknologi laser.

Setelah itu dia dikirim ke Saint Petersburg untuk bekerja di sub-marine rusia. Disana dia dan rekan-rekannya juga mengembangkan beragam teknologi, dan saat itu sudah mulai menggunakan komputer mainframe. Mereka memiliki teknologi sendiri dalam hal mainframe dan tidak kalah kuatnya dengan teknologi USA. Dia bilang juga, itu adalah hal biasa dimana mereka bisa mendeteksi keberadaan semacam roket ataupun rudal dengan teknologi komputer. Banyak sekali yang dia ceritakan, dan diantara hal menarik adalah tentang revolusi teknologi komputer hingga masuk ke PC (Personal Computer).

Dia mengatakan revolusi komputer juga dipengaruhi oleh kebijakan politik. Jaman dulu mereka memiliki super komputer yang hebat, namun ternyata kemunculan PC yang diusung oleh Intel Corp mengundang perhatian pemerintah. Mereka melihat bahwa teknologi PC akan lebih berguna dan menguntungkan, jadi pemerintah sovyet saat itu mulai berpikir untuk apa mendanai pengembangan mainframe sedangkan ada teknologi baru yang sepertinya lebih menguntungkan. Dari situ mereka mulai mencuri teknologi intel, mereka membawa masuk intel processor dan kemudian para researcher rusia mempelajarinya untuk kemudian membuat kloningnya, klo tidak salah dia menyebutkan processor K-something, apa itu AMD K-5 ya?tapi sepertinya AMD perusahaan USA juga :?.

Beliau ini mengatakan bahwa saat itu sebenarnya ada beberapa perusahaan pengembang mikroprocessor, diantaranya Motorola, RISC, Intel, dsb. Dan setiap perusahaan memiliki mekanisme tersendiri dalam hal kerja processornya. Dia mengambil contoh Intel yang menggunakan skema paging untuk virtual memory, seperti yang kita ketahui bahwa hal ini dilakukan sebagai metode mengatasi permasalahan kapasitas memory. Jadi suatu data (mis: dari disk) diambil, dan kemudian masuk ke paging untuk kemudian dialokasikan pada suatu tempat di memory oleh processor, dan saat itu processor hanya memiliki 8 buat register, itu pun tidak semuanya untuk data, tapi ada untuk counter, control register, dsb. Sehingga untuk meletakan suatu data ke memory membutuhkan lebih banyak baris pada code assembler dan membutuhkan lebih banyak cpu cycle.

Dia membandingkan dengan processor (klo tidak salah) motorola yang dapat memetakan suatu data ke memory hanya dengna satu command untuk processor, yang tentunya lebih efektif dan lebih cepat. Dia juga menambahkan perbandingan bahwa intel terlalu boros, misalnya menggunakan 16 bit processor untuk mengerjakan satu tugas padahal tugas tersebut hanya membutuhkan 4 bit. Sisa 12 bit tidak bisa digunakan. Hal tersebut berbeda dengan implementasi RISC dimana terdapat beberapa processor dengan ukuran tertentu sehingga jika hanya butuh 4 bit maka proses akan menggunakan processor tersebut, dan processor lain dapat mulai mengerjakan bagian lain dari program. Tentu saja ruang lingkup ini digunakan untuk kalangan industri, bukan rumahan.

Intinya, dia mengatakan bahwa kiblat teknologi dan revolusinya ditentukan juga oleh bisnis. Intel dan IBM saat itu memiliki strategi bisnis yang hebat dan inovatif, sehingga produk mereka digunakan oleh khalayak ramai. Dan hal tersebut memaksa negara-negara lain mengikuti jejak mereka paling tidak untuk menyesuaikan, sehingga bisa kita lihat saat ini berbagai teknologi komputer yang paling dikenal masyarakat adalah mekanisme Intel. Padahal jika saat itu para researcher dari sovyet yang terbilang juga cerdas dan sudah memiliki teknologi yang hebat memiliki inovasi Personal Computer, mungkin arsitektur PC saat ini sudah jauh lebih maju dibandingkan solusi arsitektur Intel.

Dia juga mengatakan anak-anak jaman sekarang tidak seperti orang-orang jaman dulu, mereka banyak yang tidak mau lagi peduli dengan low-level. Dia mengambil contoh anaknya yang berumur 22 tahun dan gemar melakukan cracking software. Anaknya selalu bermalas-malasan dan tidak peduli untuk mempelajari misalnya bagaimana processor bekerja, bagaimana DMA (Direct Memory Access), bagaimana system bus ataupun disk controller bekerja, dsb. Kata dia anak muda jaman sekarang lebih menyukai high-level.

Oh iya, like father like son, ternyata beliau ini dulunya juga sering crack program terutama game. Dia bilang jaman dulu hanya ada satu game di georgia, dan itu sudah menggunakan 9 warna (RGB). Tapi program tersebut dikirim dengan suatu proteksi sehingga tidak bisa di cloning atau di bajak, dan dia dengan rekan-rekannya berusaha untuk me-load program game tersebut dari tape ke memory, kemudian mencari informasi dari memory tersebut kenapa program game itu gak bisa di-bajak, selanjutnya mereka melakukan patching pada program tersebut dan menuliskan kembali ke dalam tape. Metode ‘old school’ dalam hal cracking :).

Seru juga cerita-cerita dengan orang yang mengalami langsung revolusi teknologi komputer. Dan iklim di kawasan eropa serta rusia memang sangat mendukung untuk para hacker/cracker, karena disini ternyata linux+assembly bukan lah hal yang aneh lagi.

Advertisements

5 thoughts on “Somebody who had that history…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s