Bank, job, and credit card

Saya adalah pelanggan setia salah satu bank asing. Saya tidak bisa menyebutkan nama bank-nya karena kuatir akan terkenal 😛 dan menjadi buruan orang-orang hukum berkepala-tikus-berhati-maksiat yang dengan luar biasa cerdiknya memanfaatkan UU ITE untuk menjerumuskan warga negara kedalam penjara karena beropini jujur via internet.

Saya memilih bank ini sekitar awal tahun 2007 karena mendapatkan kerja di luar Indonesia dan membutuhkan suatu rekening mata uang asing (Eur), dan pemilihan juga atas referensi teman yang sudah terlebih dahulu menjadi konsultan telco. Ada beberapa hal menguntungkan dari membuka rekening pada bank tersebut menurut saya saat itu, diantaranya karena pembukaan rekening asing-nya mudah dan tidak berbelit-belit seperti buka rekening asing di bank Indonesia. Yang pasti tidak terkena potongan apapun. Namun syaratnya adalah harus memaintain dana minimal setara dengan x juta IDR agar tidak terkena potongan. Jika tidak potongan nya cukup lumayan, sekitar 100 ribu idr setiap bulannya.

Singkat kata, saya bisa memenuhi kewajiban dana tersebut dari hasil bulan pertama menjadi konsultan telco. Dan yang lebih mengasyikan, saya bisa memaintain segalanya cukup menggunakan internet banking. Termasuk membuka rekening secara instant yang bisa dilakukan kapanpun. Saya membuka rekening USD yang di link pada rekening Eur sebelumnya cukup melalui internet dan bisa langsung digunakan untuk menerima dana dalam bentuk USD.

Orang tua dulu sering bilang jangan pernah meletakan telur di satu tempat, namun karena saya bekerja di luar negeri jadi agak sulit untuk membuka rekening lain, alhasil seluruh pendapatan jatuh pada rekening bank asing ini. Masalah muncul ketika saya membutuhkan kartu kredit. Saya sebenarnya tipikal yang enggan menggunakan kartu kredit, jauh lebih suka bayar cash ataupun debit saat belanja karena penggunaan kartu kredit akan membiasakan kita berhutang, namun ternyata di beberapa kesempatan saya sangat membutuhkan kartu kredit dan keperluan tersebut membutuhkan dana yang sangat besar misalnya untuk membeli tiket pesawat. Akan lebih mudah jika saya bisa memiliki kartu kredit dari bank asing tempat saya menyimpan dana saya selama ini, dan kemudian saya bayar via internet banking langsung dari account milik saya.

Namun ternyata, sudah lebih dari 3 kali saya mengajukan kartu kredit tapi tidak ada respon sama sekali. Masih lebih untung jika ada respon bahwa aplikasi kartu kredit yang saya ajukan ditolak, namun ini seperti ‘packet dump’. Awalnya saya tidak paham apa yang membuat pengajuan aplikasi tersebut gagal, belakangan saya menyadari karena tipe pekerjaan saya yang tidak jelas. Memang menjadi konsultan telco seperti ini tidak jelas, karena agency yang secara official tempat saya bekerja berada di London, pembicaraan hanya melalui telpon dan email, pembayaran pun tanpa pernah beretemu muka dengan agency tersebut. Mungkin inilah yang membuat pihak bank tidak mengabulkan permintaan aplikasi kartu kredit tersebut. Saya pernah juga berusaha membuat dari bank lain (local indonesia), namun juga ditolak dan saya rasa karena alasan yang sama.

Belakangan saya ngobrol dengan salah satu orang yang pernah bekerja di bank, dan dia mengatakan bank asing tersebut bodoh karena seharusnya dia bisa melihat aliran dana yang saya miliki tiap bulan, keluar-masuk dalam bentuk mata uang asing seharusnya menguntungkan untuk pihak bank tersebut dan sudah bisa menjadi jaminan untuk mengabulkan aplikasi kartu kredit. Teman saya menyarankan untuk bilang sama bank tersebut bahwa saya akan tutup rekening dan menarik dana seluruhnya jika tidak dikabulkan juga. Well, saya males untuk hal-hal spt itu dan berpikir mungkin ini petunjuk agar saya tidak memiliki kartu kredit :P.

Liburan ini saya coba untuk membuka rekening dari bank asing yang lain, sebetulnya sederhana saja karena di Tanzania bank asing yang saya pakai selama 2 tahun terakhir tidak ada, maka secara terpaksa saya buka account di salah satu bank Tanzania (Barclays). Untuk pilihan bank asing lain, saya memilih Citibank. Karena saya pikir sebagai bank asing no. 1 di Indonesia dan sebagai bank yang luas jangkauan nya di seluruh dunia, paling tidak di negara-negara berikutnya yang saya kunjungi bisa ambil duit dari ATM langsung tanap harus membuka rekening di negara tersebut.

Saya sangat terkesan dengan bank Citibank, mulai dari personal banker untuk setiap pelanggan yang bekerja secara profesional dari awal hingga saat ini untuk selalu berhubungan, sampai flexibilitas-nya. Bank asing sebelumnya, saya mendapatkan akses internet banking setelah 3 bulan bekerja di luar negeri, karena pemesanan tokennya memakan waktu dan saya tidak keburu menunggu saat itu. Tapi di citibank, internet banking dan phone banking plus ATM otomatis langsung dapat digunakan dalam kurun waktu 2 jam pembuatan rekening.

Personal banker nya juga dengan aktif menawarkan beragam solusi bagi pelanggan. Jujur saja saya sangat bodoh masalah keungan, namun saya mendapatkan beragam kejelasan dari pemaparan personal banker tersebut. Dan cukup mengejutkan karena citibank lebih flexible dalam hal kartu kredit. Mereka tidak begitu mempermasalahkan tipe pekerjaan yang saya miliki, asalkan saya dapat memaintain dana sekian (around  x usd) maka aplikasi kartu kredit akan dikabulkan. Dan ada tahapan-tahapannya, semakin banyak dana yang bisa kita maintain semakin banyak kemudahan yang bisa kita terima. Misalnya, untuk dana ~ x juta IDR maka aplikasi kartu kredit tetap akan di analisa mengenai batas limit pemakaiannya, sedangkan untuk dana sekitar y jt IDR akan mendapatkan limit lebih banyak, dan untuk dana diatas z jt IDR tidak akan dianalisis sama sekali dan langsung disetujui.

Kondisi ini cocok untuk orang-orang yang mendapatkan pendapatan dari jalur diluar jalur umum, seperti via internet, konsultan yang bekerja via umbrella company, freelance, dsb.

Akan jauh lebih mudah lagi jika dana yang kita miliki pada bank tersebut masuk ke deposito. Karena jika dimasukan kedalam deposito maka dana tersebut akan aman untuk digunakan oleh bank untuk keperluan lain. Dan dari yang saya dengar, di citibank dana deposito juga ada ketentuan yang bisa diambil setiap saat, tentunya melalui perhitungan yang lain.

Saya termasuk yang tidak setuju dengan bunga bank, dan memang tidak begitu tertarik dengan beragam produk investasi yang ditawarkan oleh citibank saat ini, namun flexibilitas yang diberikan oleh mereka membuat saya cukup terkesan. Walaupun pada kenyataanya citibank juga memberlakukan aturan yang sangat ketat seperti jika tagihan kartu kredit tidak dibayar tepat waktu maka bunga yang dikenakan akan sangat besar layaknya seorang rentenir.

Oh ya, belakangan saya baru tau dari bank asing langganan saya selama 2 tahun terakhir bahwa di bank tersebut juga ada fasilitas kartu kredit yang akan diberikan secara langsung tanpa di analisis jenis pekerjaan dll-nya, namun dana yang dimaintain harus diatas 500 juta IDR (wah, kapan yak bisa punya cadangan dana segitu :P). Yah, lagi-lagi, citibank tetap lebih flexible karena memiliki beberapa range yang lebih kecil untuk dapat mendapatkan kesempatan kepemilikan kartu kredit secara mudah.

Saya suka dengan flexibilitas, kecepatan proses, efisiensi dan gak neko-neko. So, sudah saatnya memindahkan telor ke keranjang lain :P.

Advertisements

2 thoughts on “Bank, job, and credit card

  1. Salam kenal
    Mas sy mau nanya kalau buka rekening tabungan di citibank london untuk foreigner bs apa ngga?kalau bs brp setoran awalnya,dan di barclays london bs jg buat rek tab bagi foreigner?terima kasih infonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s