Modern Theory: Simpati & Empati

Saya sangat malas menulis tentang opini politik di Indonesia saat ini, selain sudah sangat menjamur juga karena tidak ada hal menarik yang menggelitik untuk dibahas secara mendalam. Tapi kali ini akan menulis setelah membaca tulisan di era muslim mengenai salah satu strategi politik menjelang pemilu presiden.

Mungkin cukup banyak yang menyadari berbagai strategi politik saat ini, namun juga sangat banyak yang tidak menyadari dan melihat dengan mata telanjang mengenai apa yang terjadi. Tulisan era muslim tersebut merupakan salah satu strategi dari berbagai macam strategi dalam dunia politik di Indonesia saat ini, dan sesuai dengan apa yang saya lihat / opini pribadi. Simpati dan empati masih menjadi modal utama di negara Indonesia.

Saya sendiri pernah sedikit menyinggung mengenai masalah simpat/empati ini sekitar setahun yang lalu, seperti yang tertulis di era muslim tersebut bahwa SBY yang pada pemilu tahun 2004 datang dari partai yang tidak populer dan merupakan wajah baru dapat memenangkan duel kursi presiden. Semuanya terperdaya oleh permainan simpati/empati yang digulirkan saat itu, strategi luar biasa yang dilontarkan melalui media dimana orang-orang Indonesia terbiasa di cekokin oleh sinetron-sinetron berbau ‘bawang merah-bawang putih’ ataupun ‘kehidupan sengsara anak tiri’. Hal ini membuat masyarakat Indonesia akan cenderung memihak pada pihak yang tersakiti atau ter-zalimi akibat simpati dibandingkan pemikiran jernih akal sehat.

Saya sendiri selalu berpendapat bahwa tim sukses SBY tahun 2004 merupakan tim yang luar biasa. Pemikiran/strategi mereka beberapa langkah didepan tim sukses pasangan capres-cawapres yang lain, ataupun tim partai yang lain. Mulai dari strategi melalui iklan yang sangat menggugah, penarikan simpati yang tepat sasaran untuk bergam usia dari anak-anak, remaja, hingga orang tua dimana mampu menjadikan sosok SBY sebagai seorang idola, semuanya strategi luar biasa yang kesuksesan-nya mungkin di jiplak oleh obama saat pemilu presiden yang lalu. Kita semua tahu bahwa pada dekade-dekade sebelumnya seorang presiden terpilih karena faktor partai yang kuat ataupun karena faktor lain seperti seorang tokoh terkenal, yang semuanya pudar sejak pemilu presiden 2004. Dan lebih mengerikan lagi entah karena merupakan bagian yang sudah dipelajari ataupun karena unsur ketidaksengajaan, orang-orang yang menduduki pemerintahan saat ini cenderung ‘idola’ seperti artis, yang notabene ‘otak politik’ nya kosong namun hanya karena faktor popularitas.

Sekitar satu tahun yang lalu, saya beberapa kali berdiskusi mengenai politik di Indonesia dengan seorang teman, teman saya ini sering sekali prihatin dengan kondisi di Indonesia dan juga sering menyampaikan pada saya yang saat itu sedang tidak berada di Indonesia mengenai iklan dan sebagainya dari beberapa orang yang sudah mulai giat melakukan curi start kampanye, salah satunya adalah prabowo. Rekan ini juga sempat menyampaikan ketika beberapa tokoh sudah mulai melakukan serangan kepada SBY melalui media massa, dan SBY tetap tidak bergeming pada tempatnya, alias tetap pasang style cool. Dari diskusi saat itu kami sepakat bahwa SBY pasti memiliki strategi lain dan dapat keluar dari ‘lubang tikus’ tepat pada waktunya, dan memang terbukti tim SBY terdiri dari orang-orang cerdas di bidang per-politikan yang memahami dengan baik ladang Indonesia sebagai tempat bermainnya.

Indonesia bukanlah seperti negara-negara maju lain layaknya USA ataupun Europe, dimana pihak yang menyerang dan menang dalam serangan secara intelek akan menarik simpati masyarakat, dan masyarakat akan berpikir bahwa calon tersebut adalah orang kuat yang bisa memimpin bangsa dan negara. Nope. Di Indonesia, justru sebaliknya, pihak yang terpojok, santun, tetap sabar walaupun disudutkan, apalagi ditambah dengan tetap memberikan wejangan berupa nasehat-nasehat baik walaupun pihak lain menjelek-jelekan, akan memenangkan simpati masyarakat Indonesia. Saat keluar dari ‘lubang tikus’ akibat serangan tersebut dengan anggun setelah memenangkan hati dan simpati/empati masyrakat, sang bintang mulai memaparkan strategi-strategi miliknya untuk memperlihatkan ketegasan, kekuatan yang akan mempesona masyarakat. Penyampaian ini tetap dilakukan dengan penuh rasa santun, dengan kata-kata luar biasa seperti ‘Insya Allah’ yang walaupun hanya 2 buah kata namun akan memenangkan hati mayoritas masyrakat muslim sebagai calon pemimpin yang tidak terlalu agresif dan berserah kepadanya. Ah ya, 80% masyarakat Indonesia adalah muslim, it’s a great word. Dan terakhir, dengan tetap sebagai layaknya seorang atlet yang walaupun sudah dicurangi tapi tetap bersikap sportif kepada lawan main. Perfect!

Hal inilah yang kemudian disadari oleh 2 kubu lainnya sehingga membuat acara debat capres menjadi membosankan dan menjemukan, karena awalnya 2 pesaing sudah siap untuk menyerang namun kemudian menyadari pada saat-saat akhir bahwa strategi serangan tidak akan berlaku di Indonesia malah justru akan seperti bumerang yang berbalik kepada kubu penyerang tersebut. Luar biasa, satu peserta capres mampu membuat 2 peserta lainnya kalah dan mengikuti style dan gaya santun, tidak berani menyerang secara langsung.

SBY sudah menang. Disaat semua orang bertanya-tanya siapakah yang akan memenangkan debat capres, SBY telah memegang kendali atas debat tersebut tanpa perlu memperdulikan siapakah yang akan menang. He own the game, completely. The whole game.

Jika dalam permainan teori konspirasi, pemenang dari pergelutan game tersebut bukanlah pihak yang seharusnya ditakuti, namun pihak yang memiliki dan mengendalikan game tersebutlah yang seharusnya diwaspadai. Dalam permainan politik di Indonesia saat ini, kita tidak tahu apakah para peserta berjalan sendiri ataupun hanya berupa wayang-wayang yang dimainkan oleh pihak lain.

Saya tidak pro pihak manapun ataupun pasangan capres-cawapres manapun. Apa yang dipaparkan disini merupakan hasil penglihatan kacamata pribadi. Dan saya tetap berpendapat sang idola akan terpilih kembali dan memenangkan permainan ini dengan gemilang, mungkin dengna sedikit sentuhan lihai dimana sang idola akan menang dengan tipis, tapi tetap saja…dia bahkan sudah menang saat ini. Sang idola bersama timnya terlalu kuat untuk sisa 2 lawan lainnya.

Oh, jika memang nanti ‘sang idola’ kalah, berarti skenario mengalami perubahan, dan pasti terdapat kekuatan lain luar biasa cerdas yang tersembunyi sehingga dapat menggulingkan posisi sang pemenang saat ini. Dan jika itu terjadi, saya akan sangat senang untuk mempelajari trik-trik cerdas tersebut.

Well, I doubt it would happened ;).

Advertisements

One thought on “Modern Theory: Simpati & Empati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s