Kontrak v.s Permanent

Akhir-akhir ini saya cukup banyak berdiskusi mengenai pekerjaan dengan status permanen atau kontrak, beberapa rekan juga bertanya kenapa saya masih mau bekerja dengan status ‘kontraktor’. Bahkan dulu pernah ada teman baik yang sudah bekerja 2 tahun lebih di salah satu vendor Indonesia dengan status permanen, dia ingin pindah ke vendor lain dengan status kontrak namun mendapatkan gaji yang lebih tinggi, dan teman baik ini bertanya sama saya “gimana menurut lo kerja sbg kontrakan?”.

Status permanen dan kontrak, dari pandangan saya pribadi, gak bisa disamaratakan untuk setiap perusahaan atau situasi. Jaman dulu mungkin jurang pemisah antara kontrak dan permanen cukup lebar, banyak keuntungan-keuntungan yang bisa didapatkan dari status permanen dibandingkan kontrak, salah satunya adanya jaminan ‘kesejahteraan’. ‘Kesejahteraan’ (dlm tanda kutip) sebetulnya tergantung tiap individu, kesejahteraan seperti apa yang diinginkan. Ada perusahaan yang akan menjamin seluruh biaya pengobatan, ada yang memberikan rumah plus mobil, ada yang memberikan beragam akomodasi lainnya, dsb. Di Indonesia setau saya yang cukup berpengaruh untuk status permanen diantaranya perusahaan seperti Telkom, Telkomsel, Pertamina, Krakatau Steel, dan mungkin beberapa perusahaan lainnya. Sedangkan sebagian perusahaan lain menerapkan role yang tidak begitu beda antara karyawan permanen dan kontrak.

Nah, untuk pekerjaan yang sifatnya overseas juga ada beragam tipe. Salah satu contohnya adalah bekerja di Qatar. Untuk posisi permanen biasanya akan diberikan beberapa paket seperti rumah akan ditanggung, biaya akomodasi keluarga ditanggung (max. sekian anak), sekolah anak ditanggung, dsb. Sedangkan untuk posisi kontraktor, akan diberikan sejumlah uang yang lebih besar namun semuanya diurus sendiri. Mulai dari apartement, akomodasi, visa, dsb. Tergantung bagaimana cara kita memanage uang tersebut.

Sebagian besar pendapat mengatakan untuk jumlah keseluruhan antara permanen dan kontrak akan sama saja, bedanya hanya dalam hal bagaimana pengaturan uang tersebut. Berikut ini beberapa kelebihan dan kekurangan untuk posisi permanen yang saya ketahui:

1. Akomodasi ditanggung, hal ini akan menguntungkan jika sudah berkeluarga dan hendak membawa keluarga tinggal bersama kita di negara lain. Karena akomodasi sudah ditanggung oleh perusahaan, maka kita tidak perlu repot-repot mencari tempat tinggal, sewa mobil, pesan tiket pesawat untuk pulang pergi ke Indonesia. Bahkan di beberapa perusahaan Qatar, setiap 6 bulan disediakan tiket pulan pergi ke negara asal, yang sering digunakan oleh orang-orang Indonesia untuk traveling ke negara lain seperti europe. Jadi pulang ke Indonesianya sekali dalam setahun.

2. Relatif lebih aman dalam hal jaminan keuangan. Ini menjadi salah satu faktor penting. Dengan posisi permanen, kita sudah terjamin misalnya untuk 2 tahun kedepan akan tetap bekerja dan mendapatkan pemasukan sehingga tidak perlu kuatir untuk resiko kehilangan pekerjaan, terkecuali ada faktor-faktor khusus seperti perusahaan bangkrut atau ada PHK. Jaminan ini akan sangat berguna bagi mereka yang hendak membeli sesuatu seperti rumah di Indonesia dengan sistem kredit.

3. Harus bayar pajak (TAX). Ini salah satu faktor yang membuat pendapatan kita akan terkuras. Posisi permanen mengharuskan kita untuk bayar pajak di negara tempat kita bekerja. Jika kita tinggal di negara yang maju seperti eropa, maka pajak ini akan mencapai hingga 30% pertahun. Jadi seandainya gaji yang kita dapatkan setahun mencapa 75k euro, setelah di potong pajak, perbulan kira-kira hanya mendapatkan 4,5k euro. Namun tentu saja ada hal lain yang dipertimbangkan, jika negara tempat kita bekerja adalah eropa maka pajak tersebut akan terasa manfaatnya dimana lingkungan tempat tinggal kita aman dan nyaman karena negara tersebut umumnya negara maju.

4. Sekolah anak ditanggung. Nah, ini salah satu faktor yang membuat orang-orang Indonesia berbondong-bondong overseas ke Qatar. Biaya sekolah anak disana mahal, sehingga akan sangat menguntungkan jika sekolah anak ditanggung perusahaan.

5. Secara keseluruhan, posisi permanen uang yang dapat ditabung tidak banyak. Karena sudah dipotong oleh biaya akomodasi selama di negara tersebut plus dikurangi pajak.

Sedangkan untuk posisi kontrak:

1. Sistem kontrak saat ini ada 2, akomodasi ditanggung perusahaan (tempat tinggal, transportasi, tiket pesawat pulang pergi) dan akomodasi ditanggung sendiri. Jika akomodasi ditanggung sendiri, rate salary akan dinaikan sedikit, tergantung negosiasi kita dengan agency. Keuntungannya adalah kita dapat me-manage uang tersebut sebagaimana yang kita ingingkan. Misalnya kita termasuk orang yang sederhana jadi tidak masalah bagaimana tempat tinggal, cukup tinggal di tempat seperti kost-kost an namun yang pasti murah. Kita dapat menghemat pengeluaran. Yang menjadi masalah adalah jika negara tujuannya merupakan negara mahal, sehingga mau tidak mau biaya yang dikeluarkan untuk akomodasi akan besar.

2. Tidak ada TAX. Saya tidak begitu paham bagaimana prosesnya agency membayar pajak, namun yang pasti, hasil yang kita terima tiap bulan sudah bersih. Saya sempat mendengar bahwa agency sudah membayar pajak dengan mekanisme tertentu. Namun dibeberapa negara (terutama negara maju) kontraktor tetap dikenakan pajak secara langsung, dan itu dipotong dari pendapatan bulanan kita.

3. Total rate untuk kontraktor lebih besar dibandingkan permanen. Disamping kita harus mengurus segala sesuatu sendirian, posisi kontrak dinilai lebih beresiko. Misalnya, kontrak per 3 bulan extendable. Berarti perusahaan bisa men-terminate kontrak kita kapan saja jika mereka merasa tidak puas dengan performa kita. Dan secara resmi/hukum, hal ini tidak akan bermasalah buat perusahaan tersebut. Dan untuk kita terutama jika sudah berkeluarga, setelah 3 bulan harus siap-siap tidak diperpanjang dan cari-cari pekerjaan lagi yang mungkin akan didapatkan 6-12 bulan kemudian. Ini akan menjadi masalah buat yang sudah berkeluarga. Jika posisi permanen, maka perusahaan tidak bisa men-terminate kita begitu saja. Ada ikatan hukum tertentu yang mengikat perusahaan tersebut. Jadi wajar jika rate salary untuk kontraktor lebih besar dibandingkan permanen karena resiko yang harus ditanggung juga lebih besar, dan perusahaan bersedia membayar lebih besar karena mereka tidak punya tanggung jawab apapun terhadap kontraktor stlh kontrak selesai.

4. Posisi kontrak untung-untungan. Jika mendapatkan kontrak dinegara maju seperti eropa atau usa maka akan menyenangkan terutama jika membawa serta keluarga. Tapi umumnya kontraktor mendapatkan pekerjaan dinegara-negara berkembang atau bahkan negara terbelakang, beberapa dikawasan konflik seperti pakistan/afganistan. Negara-negara maju umumnya bisa mendapatkan resource permanen, karena jika mereka tidak dapat resource dari negara sendiri maka orang dari negara lain bersedia bekerja dinegara mewah tersebut untuk posisi permanen. Sedangkan negara-negara yang tidak maju atau bahkan konflik sudah dipastikan orang akan berpikir 10x untuk permanen dinegara tersebut. Itu sebabnya posisi kontrak terbuka lebih lebar dinegara-negara tidak maju dan konflik.

Masih ada beragam alasan lainya, dan akan berbeda disetiap situasi/negara/perusahaan. Dan sebagai individu kita juga memiliki beragam kriteria dalam hal menentukan apakah lebih baik bekerja dengan posisi permanen atau kontrak. Saat ini sudah banyak cara untuk menjaga jurang antara permanen dan kontrak, misalnya dalam hal jaminan kesehatan. Untuk kontraktor, karena hasil yang didapatkan lebih besar dapat menggunakan fasilitas seperti asuransi kesehatan sebagai jaminan kesehatan. Dan hasil akhirnya sama saja, jika kita sakit akan ditanggung segala biayanya. Bisa juga kontraktor membangun usaha sendiri, berhubung pendapatan saat bekerja kontrak besar maka bisa digunakan sebagai modal awal usaha, sehingga apabila kontrak habis dan belum ada tawaran lagi paling tidak ada pemasukan tiap bulannya.

Syukur-syukur lihai memanfaatkan uang sehingga posisi kontrak hanya digunakan sebagai metode untuk mencari modal bisnis pribadi, selanjutnya setelah bisnis pribadi tersebut berjalan lebih memilih untuk mengambangkan bisnis tersebut menjadi lebih besar. Dari apa yang saya lihat, sebesar-besarnya pendapatan seseorang dari bekerja pada suatu perusahaan, akan tetap mendapatkan jauh lebih besar jika mampu memiliki dan mengambangkan bisnis sendiri.

Yah, hidup cuma sekali, mencari duit terus-terusan tidak akan ada habisnya. Bekerja untuk mencari duit seharusnya hanya menjadi salah satu alasan kecil, bagaimana menikmati pekerjaan tersebut sehingga bisa bernilai ibadah adalah yang paling penting.

Advertisements

3 thoughts on “Kontrak v.s Permanent

  1. nentuin pilihan memang sulit,tp tetep harus menentukan pilihan. kalau aku pilihannya kontrak vs usaha keluarga, makasih mas rasyid tulisannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s