Career as Telecommunication Consultant

Banyak yang sering mempertanyakan mengenai bidang profesional yang saat ini saya jalanin, umumnya mengenai apa dan bagaimana cara memulainya. Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi, yang mungkin bisa langsung saya kasih link pada tulisan ini jika nanti ada yang menanyakan bagaimana cara memulainya.

Saya terjun ke dunia telekomunikasi pada bulan april 2006, sebulan setelah lulus dari kampus STT Telkom Bandung (sekarang namanya IT Telkom). Saat itu sama sekali tidak ada gambaran mengenai telekomunikasi, bidang yang diambil saat kuliah adalah Tehnik Informatika yang notabene berhubungan dengan dunia pemrograman komputer. Namun saat kuliah saya justru tertarik untuk kutak-katik system dan networking. Sehingga sejak tingkat 3 kuliah bergabung dengan grup riset di laboratorium Computer n Communication (CnC), yang sebenarnya adalah lab TE (Tehnik Elektro). Berhubungan dengan dunia telco?!sama sekali tidak. Aktivitas di lab adalah oprek system linux, networking cisco, dan security. Dengan kata lain, pengalaman di Lab membuat saya cenderung kuat pada pengetahuan sistem operasi dan IP Network. Sambil mengerjakan Tugas Akhir di tahun terakhir kuliah saya juga sempat menjadi Trainer sebagai part-time-job di InformIT bandung bagi para peserta yang hendak mempersiapkan diri menjelang ujian CCNA.

Setelah lulus kuliah, sama sekali tidak menyangka langsung mendapatkan tawaran untuk join Siemens Indonesia sebagai HLRi engineer. Apa itu HLRi?! sama sekali tidak tahu :P. Tawaran itu saya dapatkan dari seorang senior di LAB yang sudah lebih dulu bekerja pada HLRi siemens indonesia dan kebetulan mendapatkan tawaran untuk pindah ke Ericsson Indonesia. Ericsson Indonesia terkenal suka memakai tenaga ex-siemens untuk join dengan tawaran gaji yang jauh lebih tinggi. Seberapa jauh?! well, jika di siemens indonesia untuk fresh graduate mendapatkan Rp. 3jt sebagai gaji pokok, di Ericsson bisa mendapatkan sekitar Rp. 7-9jt.

Singkat kata, saya bisa masuk tim HLRi Siemens Indonesia dengan lancar yang saya rasa juga berkat rekomendasi senior tersebut. Modal saya saat itu hanya satu, bisa Linux. Ternyata platform utama mesin HLRi adalah Sun Solaris, yang notabene cukup mudah untuk dipelajari bagi mereka-mereka yang sudah mengenal Linux terlebih dahulu. Saat itu saya juga membaca teori-teori dasar GSM namun karena tidak ada basic nya sama sekali jelas sangat kesulitan, yang saya dan rekan-rekan lain tau sebagai pendatang baru adalah mengikuti prosedur bekerja yang dibuat oleh rekan-rekan senior sebelumnya. Satu hal yang sangat disyukuri adalah saya mendapatkan cukup banyak kesempatan untuk terjun langsung pada project. Sekitar 2 bulan setelah join tim HLRi langsung dapat kesempatan melakukan finishing mesin HLRi di padang bersama seorang senior yang sangat berpengalaman, senior ini juga berasal dari STT Telkom jurusan Teknik Industri dan saat itu termasuk populer karena kemampuan Linux nya.

Saya termasuk orang yang sangat suka tantangan, saat itu ketika mendapatkan tawaran untuk ikut ke padang untuk mengerjakan project langsung saja di-iya kan padahal sama sekali belum mengerti. Sekitar 4 bulan bekerja dan belajar pada tim HLRi, datang kesempatan melakukan proses commisioning yang berarti melakukan instalasi mesin baru. Saat itu tim dibagi dan disebar menjadi 4, kebetulan saya mendapatkan bagian semarang. Seharusnya satu tim beranggotakan 2 orang, namun saat itu rekan saya sedang mendapatkan tugas ke Bangladesh dan replacement nya entah kenapa tidak jadi terus untuk dikirimkan ke semarang, alhasil saya mengerjakan commisioning sendirian. Namun jika membayangkan sampai saat ini, saat-saat itulah yang paling saya syukuri karena berkat melakukan comisioning sendirian itu mendapatkan pengetahuan yang luar biasa berharga dan sampai saat ini saya gunakan sebagai jalan untuk mendapatkan rejeki didunia.

Melakukan commisioning tidak mudah apalagi harus sendirian, tapi tidak bisa dipungkiri saya sangat menikmati saat-saat itu (walaupun sambil puasa). Tidak mudah terutama karena tekanan dari bos di Jakarta cukup besar, terutama ketika mesin Backup & Restore untuk semarang tidak berjalan dengan baik. Saat itu saya dimarahi habis-habisan karena dikira merusak mesin tersebut. Bahkan sampai harus membuka secara manual salah satu mesin untuk dibawa bagian yang rusaknya ke Jakarta. Belakangan diketahui bahwa ke-4 tim mengalami masalah yang sama, dan masalah tersebut muncul karen Firmware mesin tersebut tidak sempurna. Pengalaman membongkar dan troubleshooting mesin yang rusak tersebut membawa berkah hingga saat ini, saya jadi sangat memahami proses kerja mesin B&R.

Sekitar bulan oktober 2006, saya iseng-iseng mengirimkan lamaran melalui internet untuk vacancy HLRi di Pakistan. Namun setelah proses interview dengan agency, agency tersebut menolak karena saya masih bekerja pada Siemens Indonesia walaupun status nya kontrak. Namun satu hal yang perlu diperhatikan, walaupun kita gagal saat berhubungan dengan suatu agency tidak perlu kuatir karena CV kita akan terus di maintain oleh mereka. Dan jika ada lowongan lagi maka akan dipanggil kembali.

Bekerja via agency sudah menjadi rahasia umum para engineer telekomunikasi. Kami menyebutnya dengan istilah ‘ngagen’. Intinya, agency akan merekrut orang-orang yang berpengalaman pada suatu project namun sudah tidak berhubungan dengan pemilik project tersebut untuk mengerjakan project yang sama dinegara lain. Contohnya project HLRi Siemens Indonesia tempat saya memulai. Di negara lain, pasti ada project HLRi juga, misalnya: commisioning HLRi di Pakistan. Jika Siemens Pakistan meminta orang dari Siemens negara lain (seperti german/indonesia) untuk membantu project mereka, maka Siemens Pakistan akan membayar sangat mahal, mungkin sekitar 80 euro per jam kepada Siemens Indonesia (dan pastinya…yang sampai ke engineer Indonesia tersebut hanya beberapa rupiah ;P). Siemens pakistan dapat menghubungi para kontraktor yang tidak berhubungan lagi dengan Siemens Indonesia namun memiliki kemampuan untuk mengerjakan project HLRi via agency, dengan bayaran jauh lebih murah. Mungkin sekitar 40 euro per jam. Namun tentu saja agency tidak akan menyerahkan seluruh bayaran tersebut kepada kontraktor yang akan mengerjakan project tersebut, aturan mainnya agency maksimal mengambil keuntungan sekitar 15%, klo dihitung kasar maka agency akan menawarkan kepada si kontraktor bayaran sebesar 32 euro. Namun beberapa agency memiliki trik tersendiri, jika target kontraktor belum pernah bekerja sebagai overseas maka akan diberikan penawaran lebih rendah, sekitar 25 euro misalnya.

Walaupun Siemens Pakistan merasa diuntungkan karena tidak harus membayar hingga 80 euro, namun bagi kontraktor juga akan sangat menguntungkan, karena 25 euro yang diterimanya per jam akan menghasilkan ribuan euro sebulannya. Dan bayaran satu bulannya akan setara dengan bayarannya selama bekerja di Indonesia selama 2 tahun. Itulah sebabnya banyak engineer telekomunikasi yang tertarik untuk menjadi konsultan.

Setelah interview dengan agency pertama saya merasa hanya iseng-iseng aja, karena saat itu target untuk pindah ke ericsson mengikuti jejak senior terbayang-bayang terus. Dan kesempatan itu datang bulan november 2006. Sekitar bulan desember 2006 saya pindah ke Ericsson Indonesia dengan bayangan akan masuk ke tim seperti yang sering diceritakan oleh banyak orang. Suatu tim yang terdiri dari orang-orang profesional berpengalaman tinggi yang dibayar mahal. Terlebih lagi saat itu cukup banyak senior-senior di kampus yang saya segani karena kemampuannya bekerja untuk Ericsson Indonesia.

Namun setelah masuk dan menjalani hari-hari di Ericsson Indonesia bagian Managed Service, saya malah merasa ingin balik lagi ke Siemens Indonesia. Yang pasti, saya merasa tidak cocok dengan pola kerja Managed Service. Sekitar satu minggu di Ericsson Indonesia, saya mendapatkan telp untuk HLRi project di Bangladesh, sebetulnya tertarik namun karena baru pindah maka saya urungkan niat untuk bekerja via agency. Setelah 3 bulan bekerja pada managed service dan merasa semakin bosan, tiba-tiba datang lagi tawaran untuk bekerja di Pakistan sebagai HLRi TAC2 yang tugas utamanya melakukan commisioning. Saya merasa cukup banyak mendapatkan pengalaman berharga saat melakukan commisioning pertama di semarang, maka dengan berbagai pertimbangan akhirnya memutuskan untuk keluar dari Ericsson Indonesia dan menjalani petualangan baru di Pakistan sebagai konsultan.

Banyak rekan-rekan yang juga tertarik bekerja sebagai konsultan namun tidak percaya diri dengan kemampuannya. Padahal klo boleh membandingkan, kualitas para engineer Indonesia sama sekali tidak kalah dengan kualitas engineer luar negeri. Bahkan banyak teman di Indonesia yang kemampuannya menurut saya jauh lebih baik dibandingkan para engineer di luar negeri. Hal ini juga didukung oleh network telekomunikasi di Indonesia yang sangat besar, masalah-masalah yang muncul juga jauh lebih berat di Indonesia dibandingkan dengan masalah-masalah di luar negeri. Jadi jika ada yang tertarik menjadi konsultan namun masih takut tidak mampu, biasanya satu hal yang saya ingatkan bahwa belajar itu tidak boleh berhenti. Banyak yang mengira belajar dulu di Indonesia selama beberapa tahun baru setelah itu menjadi konsultan. IMHO, dimanapun kita berada harus terus belajar. Saat mengerjakan project di overseas pun kita akan terbentur dengan berbagai macam masalah baru, dan tentunya akan meng-gembleng kita untuk belajar pengalaman baru. Jadi tidak ada istilah jika mau ngagen harus jago dulu, setelah itu bisa santai-santai saat bekerja di overseas.

Bekerja sebagai konsultan memang menggiurkan dari sisi materi/salary, namun harus juga diperhatikan masalah resiko. Tipe pekerjaan seperti ini bergantung pada project, selama masih ada disuatu belahan dunia yang membutuhkan resource luar untuk project tersebut maka berarti ada kesempatan bagi kita untuk mendapatkan penghasilan. Tapi perlu diingat juga bahwa yang tertarik bukan hanya kita, namun berbagai engineer dari seluruh dunia juga akan apply posisi tersebut, maka saingan kita akan berasal dari negara lain. Dan semuanya tergantung client untuk menentukan mana yang akan dipilih. Inilah resiko yang oleh sebagian besar engineer tidak berani diambil, terutama yang sudah berkeluarga. Jika kita tetap bekerja pada perusahaan di Indonesia, maka berarti kita berada pada zona aman. Paling tidak jika kita masih bekerja dengan baik, untuk beberapa puluh tahun kedepan masih akan berpenghasilan.

Bagi mereka yang hendak bekerja sebagai konsultan, biasanya melalui tahapan/proses yang agak berbeda. Namun alur pokoknya selalu sama:

1. Vacancy dibuka untuk project disuatu wilayah

2. Jika CV kita sudah ada di database agency, maka kita akan langsung dihubungi. Jika agency tidak berhasil mendapatkan resource dari database mereka, maka vacancy akan dibuka untuk umum. Dan dari sini beberapa orang akan mengirimkan CV mereka via email.

3. Agency akan menghubungi dan melakukan interview via telp. Biasanya interview dilakukan secara singkat dan agency hanya akan mengklarifikasi bahwa calon kontraktor telah memenuhi persyaratan yang berlaku. Tiap project, syaratnya beda-beda. Pada tahap ini agency juga sudah mulai menawarkan harga, dan kita bisa melakukan negosiasi harga.

4. Agency akan mengajukan CV kita kepada client, client akan memutuskan apakah tertarik dengan kita atau tidak. Jika tertarik, maka client akan menghubungi untuk melakukan interview via telp.

5. Client akan melakukan interview yang biasanya menanyakan pengalaman kita dengan project yang akan berjalan. Jika client setuju, maka client akan memberitahu agency tersebut. Dan hasil interview biasanya juga akan mempengaruhi nilai harga, jika client betul2 tertarik maka bisa jadi harga akan dinaikan.

6. Agency akan terus berhubungan dengan kita hingga sampai di negara tujuan. Segala urusan akan diatur oleh agency mulai dari visa, letter of invitation, hingga data rekening untuk pembayaran kita nanti.

Prosedur diatas merupakan prosedur umum, namun tiap project biasanya ada beberapa perbedaan kecil. Seperti apakah akomodasi ditanggung atau tidak, visa harus urus di Indonesia atau bisa on arrival, dsb.

Saya selalu percaya tiap orang ada rejekinya masing-masing, dan roda kehidupan akan selalu berputar. Saya juga tidak bisa memperkirakan apakah dalam tahun-tahun mendatang masih tetap bekerja seperti ini atau akan bekerja pada bidang lain. Yang pasti, saat ini saya cukup menikmati pekerjaan sebagai konsultan  telekomunikasi di negara lain. Bidan telco juga masih tetap menarik dan tetap memberikan gairah tersendiri terutama jika ada teknologi baru yang datang. Masalah-masalah yang dihadapi pun tetap dapat memberikan tambahan kenikmatan saat berhasil melaluinya.

At least, dapur masih bisa tetap ngebul dan kebutuhan keluarga  alhamdulillah dapat terpenuhi dengan sangat baik.

Cheers to All Indonesian Telco engineer around da world…

Advertisements

3 thoughts on “Career as Telecommunication Consultant

  1. Yaps ic the point.

    yang penting kita jgn lupa untuk selalu bersyukur dan berdoa .:)

    Thanks for materialnya brotha.

    Cukup menggiurkan jika dilihat dari sisi salary, terutama bagi yg fresh graduate yg msh bisa dengan enak berpetualang belum terbentur urusan keluarga 😀

    Regards,

    fl3xu5 | http://fl3xu5.web.id

  2. Bagus banget pengalaman anda..saya sangat terinspirasi dengan cerita dan pengalaman anda itu,karena bisa menjadi sebagai motivasi buat saya.saya pengen banget seperti anda,saya masih kuliah di gunadarma bekasi semester 3 jurusan menajemen informatika..tapi ilmu saya masih sedikit..,sebelumnya saya pernah kuliah di kota kelahiran saya padang tapi akhirnya terputus karena biaya,kerena kesulitan biaya itu saya kerja disuatu perusahaan dijakarta..tpi akhirnya yg ada saya dibuang terus karena hanya berpendidikan sekolah menengah atas,sekarang saya melanjutkan kuliah lagi digunadarma bekasi.saya hanya mau ngucapin terimakasih karena pengalaman anda saya jadi lebih bersemangat lagi untuk bisa sukses seprti anda.good luck buat anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s