Kultur Memelas / meminta simpati

Udah beberapa kali niat ingin menulis tentang masalah ini, tapi kadang di tunda-tunda dan akhirnya jadi gak mood. Kultur memelas sepertinya udah menjadi trend terbaru di kalangan masyarakat Indonesia yang merupakan pengaruh dari dunia entertainment tv. Contoh mudah?! lihat aja klo ada ajang perlombaan di tv yang tidak mengutamakan kualitas namun lebih kepada “yang penting penonton suka” dan hanya mementingkan profit besar dlm waktu cepat. Kesulitan cari contoh?!oke, perlombaan yang intinya mencari dan mengkomentari dalam bentuk seni suara. Masih belum bisa mencari contoh yang tepat?!klo gitu kamu bukan orang Indonesia ataupun juga mungkin orang Indonesia tapi gak sempat nonton acara televisi Indonesia (or…lbh pilih tidur daripada nonton acara seperti itu).

Cirinya?!biasanya peserta lomba akan mencari ‘sesuatu’ dari kisah hidupnya yang dapat dijadikan kisah sedih untuk meminta belas kasihan penonton dan mendapatkan perhatian untuk dikirimin SMS sebanyak-banyaknya. Gw barusan nonton salah satu acara dokumenter tentang perlombaan spelling di USA yang diikuti oleh anak-anak kecil/menjelang remaja. Mulai sejak perlombaan, terlepas apakah dia gugur ataupun maju ke babak selanjutnya ketika di wawancara mereka selalu menunjukan sikap positif dan optimis. Walaupun kalah tapi tetap sportif dan menunjukan dari kata-katanya bahwa ada semangat untuk bisa lebih maju lagi. Dan perlu di ingat, mereka adalah anak-anak berusia SD-SMP.

Kompetisi di Indonesia?!cirinya adalah menonjolkan kemiskinan, menonjolkan kekurangan dan kesulitan hidup, memunculkan air mata yang intinya meminta simpati orang lain agar mendapatkan kiriman SMS sebanyak-banyaknya. Hasilnya?! well, buat gw tipe show seperti itu sulit untuk diterima logika. Tapi kenyataannya memang si empunya kisah sedih berhasil masuk ke babak yang lebih tinggi.

Jujur aja, gw kesulitan mencari acara tv menarik (di Indonesia) sekarang ini. Klo bukan opera sabun dengan balutan show perlombaan musik yang pdhl merupakan bentuk acara lain bagi para artis/aktor yang sudah tidak laku lagi main sinetron, acara lainnya adalah infotainment yang lagi-lagi opera sabun dalam bentuk berita namun pada kenyataannya ajang penampilan artis yg murah meriah tanpa melibatkan sutradara/kru film namun mendatangkan profit yang luar biasa dari pemirsa, ataupun sinetron yang ikut-ikut an film seperti ayat-ayat cinta tapi gak kesampean jadi gak jelas arahnya kemana.

Opera sabun dengan balutan show perlombaan musik udah makin parah, indosiar tiap mlm menampilkan bentuk acara seperti itu, belum lagi TPI dengan bentuk acara serupa tapi konsepnya dangdut, dan yang lebih parah…pasti di semua acara ada peserta yang menampilkan kisah sedih, kisah pilu, memelas untuk mendapatkan simpati penonton.

Guess what?!rating acara seperti itu tetap tinggi dan banyak peminatnya, itulah sebabnya para produser tetap menampilkan acara seperti itu. Bukan berusaha memberikan tontonan terbaik bagi masyarakat Indonesia, namun berusaha memberikan acara yang di inginkan walaupun akibatnya membuat masyarakat indonesia menjadi masyarakat pemelas dan peminta simpati.

CMIIW, tapi bentuk acara seperti itu (meminta simpati) awalnya sejak acara AFI di Indosiar dimana Ferry dengan kualitas suara pas-pas an bisa menang karena memiliki kisah sedih yang menarik simpati penonton. Maka sejak itulah setiap pemenang di acara lomba serupa pasti memiliki kisah sedih yang membantu mereka mendongkrak popularitas.

Dan parahnya lagi, antar stasiun televisi tidak berlomba dalam hal kreativitas, tapi berlomba dalam menjerat sms masyarakat. Hal ini bisa di lihat dari beberapa stasiun tv yang menayangkan acara serupa (perlombaan musik?) karena melihat stasiun tv lain mendapatkan keuntungan besar dari acara semacam ini.

Entah bakal seperti apa lagi sajian televisi Indonesia ke depannya. Yang pasti, gw rasa yang merasa jenuh bukan cuma gw, tapi juga banyak orang lainnya. Dan mungkin…mungkin ya, memulai usaha tv kabel adalah langkah yang tepat sekarang ini. Krn mungkin bakal banyak orang membeli siaran tv kabel untuk mencari acara tv alternatif lain daripada stasiun-stasiun tv lokal. Hm, apa gw bisnis tv kabel aja yak :)).

Advertisements

One thought on “Kultur Memelas / meminta simpati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s